Perkembangan Asimetris Penerbangan Nasional yang Sangat Membahayakan

Kompas.com - 03/03/2019, 14:33 WIB
Suasana Bandara Halim Perdanakusuma pasca HUT AU ke-72, Senin (9/4/2018)Stanly Ravel Suasana Bandara Halim Perdanakusuma pasca HUT AU ke-72, Senin (9/4/2018)

Kejadian tabrakan fatal 2 pesawat terbang sipil komersial antara Pesawat Batik Air jenis Boeing 737-800 dengan nomor registrasi PK-LBS dan pesawat TransNusa dengan jenis ATR 42 seri 600  di landasan Bandar Udara Halim Perdanakusuma, tanggal 4 April 2016 yang lalu, ternyata tidak berpengaruh sama sekali dengan upaya meningkatkan terus slot penerbangan sipil komersial di Halim.

Potensi bahaya dalam pengelolaan penerbangan sipil komersial yang mendompleng Pangkalan Angkatan Udara sama sekali tidak menjadi pertimbangan dalam upaya mengembangkan terus slot penerbangan sipil komersial.

Pangkalan Angkatan Udara Halim Perdanakusuma pernah di jadikan untuk International Airport sementara pada saat Cengkareng di bangun untuk memfasilitasi dan menggantikan Airport Kemayoran yang sudah tidak memadai lagi. Untuk sementara, karena memang Halim tidak didisain bagi keperluan atau kegiatan penerbangan sipil komersial.  

Dengan runway yang hanya satu buah tanpa tersedianya Paralel Taxiway dan area parkir pesawat yang sempit maka Halim memang tidaklah tepat, bahkan berpotensi bahaya bagi kegiatan penerbangan sipil komersial. Demikian pula pertimbangan lain bahwa Halim adalah merupakan kawasan “restricted area” seperti yang ditegaskan kembali dalam PP no 4 tahun 2018 tentang Pam Wilayah Udara Nasional.  


Tentu saja hal tersebut juga merujuk kepada fungsi Halim sebagai Markas Besar Pusat Kendali dari Sistem Pertahanan Udara Nasional yang merupakan bagian dari system pertahanan nasional Negara Kesatuan Republik Indonesia. Perkembangan selanjutnya yang terjadi adalah, pada saat “salah urus“ penerbangan sipil di Cengkareng di tahun 2014.

 

 

 

Sebuah keputusan yang sangat ceroboh dan sangat naif.  Bahkan konon sudah terlintas pula sebuah rencana besar mengembangkan Halim untuk menjadi International Airport kembali tanpa terlihat perencanaan ke mana kegiatan sistem pertahanan udara nasional akan di pindahkan.  

 

 

Itu semua terlihat dari bagaimana pengembangan penerbangan sipil komersial sudah merambah masuk ke pangkalan-pangkalan udara militer yang merupakan bagian atau sub system dari system pertahanan negara.  

 

Inilah gambaran dari perkembangan penerbangan nasional yang asimteris dalam arti jauh dari mempertimbangkan aspek pertahanan keamanan negara. Perkembangan penerbangan sipil komersial telah berjalan sendiri meninggalkan kepentingan penerbangan yang berada dalam domain pertahanan keamanan negara dan tatakelola pemerintahan dari sebuah negara yang berdaulat dan bermartabat. 

 

Kejadian 911 di Amerika Serikat di tahun 2001 lalu adalah sekedar contoh saja dari betapa berbahayanya penerbangan sipil komersial yang dapat digunakan oleh teroris untuk meruntuhkan martabat sebuah negara.  Penerbangan sipil komersial yang lepas kendali dan dapat membuat Amerika Serikat, sebuah negara super power dalam kondisi “Under attack”, dengan diserangnya Pentagon, Gedung Putih, dan Menara Kembar di New York yang runtuh hanya dalam hitungan jam saja.       

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X