Stafsus Presiden Bantah Prabowo soal BUMN Bangkrut, Ini Penjelasannya

Kompas.com - 15/01/2019, 16:05 WIB
Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi, Ahmad Erani Yustika usai menghadiri seminar di Universitas Islam Malang (Unisma) Selasa (27/11/2018). KOMPAS.com/ANDI HARTIKStaf Khusus Presiden Bidang Ekonomi, Ahmad Erani Yustika usai menghadiri seminar di Universitas Islam Malang (Unisma) Selasa (27/11/2018).
Penulis Ihsanuddin
|
Editor Krisiandi

JAKARTA, KOMPAS.com - Staf Khusus Presiden Erani Yustika membantah pernyataan calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto yang menyebut sejumlah BUMN bangkrut.

"Pemerintah justru sangat fokus dalam mengelola BUMN sehingga peranannya pun semakin meningkat  bagi perekonomian," kata Erani saat dihubungi, Selasa (15/1/2019).

Erani mengatakan, peranan BUMN dapat terlihat dari beberapa hal, seperti penyerapan tenaga kerja dan penerimaan negara. Lebih dari itu, peranan BUMN diarahkan untuk pelayanan publik.

Sepanjang 2018, kata dia, kinerja BUMN kian membaik. Aset BUMN melonjak dari Rp 4.577 triliun menjadi Rp 7.817 triliun pada 2018. Sementara laba BUMN meningkat dari Rp 148 triliun menjadi Rp 218 triliun pada 2018.

Pajak dan deviden BUMN naik dari Rp 218 triliun menjadi Rp 260 triliun pada 2018.

Baca juga: Kata Kubu Jokowi, Tak Ada Hal Baik di Mata Prabowo

"Secara umum performa Garuda Indonesia menunjukkan perbaikan. Laporan Keuangan yang dirilis menunjukkan sepanjang Januari-September 2018 pendapatan usaha naik 3,5 persen (yoy) menjadi US$3,21 miliar," kata dia.

Erani menjelaskan, tekanan terhadap keuangan Garuda Indonesia terutama karena selisih nilai tukar mencapai 52,32 juta dollar AS, yang naik dari 16,03 juta dollar AS pada periode Januari-September 2017. 

Garuda Indonesia memroyeksi laba perusahaan (di luar pajak) mencapai Rp 1 triliun. Garuda Indonesia Group juga mengelola Sriwijaya Air melalui kerja sama operasional (KSO) bersama Sriwijaya Air Group.

"Hal ini menunjukkan bahwa Garuda Indonesia tetap menjadi yang terbaik dan terpercaya. Berbagai penghargaan di level nasional dan internasional pun diperoleh Garuda Indonesia," kata dia.

Sementara itu, kondisi PLN menurut data sepanjang Januari-Juni 2018 pendapatan usaha naik 7,43 persen (yoy). Pada periode yang sama, laba sebelum pajak PLN mencapai Rp 1,83 triliun.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X