Politik Saling Serang Dianggap Cara Instan Dongkrak Elektabilitas - Kompas.com

Politik Saling Serang Dianggap Cara Instan Dongkrak Elektabilitas

Kompas.com - 12/10/2018, 12:55 WIB
Pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Lili Romli saat ditemui di Universitas Indonesia, Jakarta Pusat, Kamis (12/7/2018).Reza Jurnaliston Pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Lili Romli saat ditemui di Universitas Indonesia, Jakarta Pusat, Kamis (12/7/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Lili Romli mengatakan, politik saling serang dengan memobilisasi isu tertentu adalah cara paling instan untuk meningkatkan elektoral.

Menurut dia, cara-cara ini sedang digunakan para politikus Indonesia dalam masa kampanye Pemilu 2019.

"Memang mobilisasi isu-isu yang membakar semangat, saling menyerang satu sama lain. Itu adalah cara yang paling cepat mendulang suara, cara instan meningkatkan elektoralnya," ujar Romli kepada Kompas.com, Jumat (12/10/2018).

Baca juga: Para Capres dan Timses Diingatkan Adu Gagasan, Tak Hanya Saling Serang

"Kemungkinannya ada dua. Pertama, memang dia tidak memiliki ide, gagasan, dan solusi, atau kedua, dia memang memilih cara yang instan dan cepat seperti itu," lanjut dia.

Namun, Romli mengingatkan bahwa cara-cara seperti itu berdampak buruk terhadap demokrasi.

Masyarakat setiap hari dihadapkan pada politik saling serang tanpa ada adu gagasan, ide, dan solusi.

"Dulu beberapa partai memiliki gagasan luar biasa untuk Indonesia. Namun seperti itu mungkin enggak laku dan dampaknya bagi peningkatan elektoral lama. Mereka akhirnya menggunakan cara-cara seperti yang sekarang tersaji di media," ujar Romli.

Baca juga: Kalau Politik Enggak Adu Gagasan, Rakyat Kita Enggak Cerdas-cerdas

Romli mengatakan, banyak persoalan bangsa yang memerlukan solusi dari para calon pemimpin negeri, di antaranya masalah ekonomi, memperbaiki kondisi moneter, dan penegakan hukum dan HAM.

Menurut dia, penyelenggara negara juga turut andil dalam menciptakan pesta demokrasi yang adil dan sehat.

"Penyelenggara Pemilu harus ikut berperan. Jangan diam saja dan berpendapatnya bahwa asalkan enggak melanggar enggak apa-apa. Parpol, capres cawapres, semua harus diingatkan," ujar Romli.

.

.

KOMPAS.com/Akbar Bhayu Tamtomo Infografik: Visi dan Misi

 


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Close Ads X