Demokrat Akui Main Dua Kaki, tapi Satu di Pileg, Satu Lagi di Pilpres

Kompas.com - 12/09/2018, 19:27 WIB
Ketua DPP Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (18/7/2018).KOMPAS.com/KRISTIAN ERDIANTO Ketua DPP Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (18/7/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Kapala Divisi Advokasi dan Hukum Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean membenarkan bahwa partainya sedang menjalankan politik dua kaki. Namum, bukan satu kaki di Prabowo dan satu kaki di Jokowi.

"Memang kami memikirkan dua hal, maka kami bermain dua kaki. Pertama kami itu harus memenangkan Partai Demokrat (Pileg). Kami setidaknya ingin suara kami bertahan di 10 persen," ujarnya di kediaman Ketum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono, Jakarta, Rabu (12/9/2018).

"Yang kedua adalah kaki kami sebelah lagi harus ada Pilpres yang kami dukung yaitu Pak Prabowo," sambung dia.

Baca juga: Zulkifli Hasan: Pak SBY Dua Kaki, Satu di Prabowo, Satu di Sandiaga

Ferdinand menegaskan, partainya tetap akan berupaya memenangkan Prabowo pada Pilpres 2019. Namun di sisi lain menurutnya, Demokrat juga tak boleh abai di pileg yang digelar bersamaan dengan pilpres.

Oleh karena itu, tutur dia, Partai Demokrat memunculkan opsi untuk memberikan dispensasi kepada DPD yang mendukung Jokowi pada Pilpres 2019.

Hingga saat ini, baru DPD Papua yang dipertimbangkan serius untuk mendapatkan dispensasi. Hal ini menyusul besarnya suara masyarakat yang mendukung Jokowi ketimbang Prabowo.

Baca juga: Peneliti LSI: Isu Politik Dua Kaki Berpotensi Rugikan Demokrat di Pemilu 2019

"Kalau caleg kami datang dengan narasi membawa Pak Prabowo tentu caleg yang kami usung tak mendapat tempat di masyarakat, bahkan ditolak. Kami tidak ingin kehilangan suara di Papua," kata dia.

Partai Demokrat tutur dia, akan mencoba meramu strategi yang tepat untuk mempertahankan Pileg di Papua tetapi di sisi lain tidak merugikan pasangan Prabowo-Sandiaga Uno.

Misalnya dengan berupaya untuk menutup suara yang hilang di Papua dengan mencoba meraup suara lebih banyak di daerah lain.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X