Ke Arah Mana Angin 2019 Bertiup? - Kompas.com

Ke Arah Mana Angin 2019 Bertiup?

Kompas.com - 06/04/2018, 10:20 WIB
Presiden Joko Widodo dan Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya Prabowo Subianto (kanan) menjawab pertanyaan wartawan usai  berkuda bersama disela-sela pertemuan mereka di Padepokan Garuda Yaksa Bojong Koneng, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (31/10/2016). Selain sebagai bentuk silaturahmi, pertemuan itu juga untuk mendiskusikan berbagai permasalahan di Indonesia.KOMPAS/WISNU WIDIANTORO Presiden Joko Widodo dan Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya Prabowo Subianto (kanan) menjawab pertanyaan wartawan usai berkuda bersama disela-sela pertemuan mereka di Padepokan Garuda Yaksa Bojong Koneng, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (31/10/2016). Selain sebagai bentuk silaturahmi, pertemuan itu juga untuk mendiskusikan berbagai permasalahan di Indonesia.

DUA minggu belakangan, jagat politik Indonesia kembali "semriwing". Setelah pidato politik Indonesia bubar 2030, Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto kembali melontarkan pidato "elite maling" dan "elite goblok".

Tak ayal lagi, riak Indonesia bubar 2030 yang mulai mereda kembali menggelegak. Mulai dari rakyat awam, pakar psikologi, tukang becak, warteg, Ketua MUI, elite politik serempak bersuara. Dan, tentu saja acara high-rated dan high-anticipated, ILC, meriah dengan berbagai jabs, hooks, dan aneka upper cuts.

Namun, yang menarik adalah analisis pakar komunikasi politik, Effendi Gazali yang menyampaikan, "Prabowo galau, sedang di bawah tekanan." Pertanyaannya, di bawah tekanan apa atau siapa?

Dalam artikel saya sebelumnya, "Jokowi-AHY Ideal Buat Demokrat", saya menyampaikan apakah akan ada Poros Ketiga atau tidak?

Hitung-hitungan politiknya, jika muncul poros ketiga, yang paling memungkinkan adalah Demokrat-PAN-PKB. Namun, jelas sekali bahwa masing-masing partai tersebut masih tarik ulur hitungan elektabilitas siapa pun kombinasi pasangan capres- cawapres.

Ada wacana Jokowi-Muhaimin Iskandar. Kombinasi ini sepertinya paling lemah nilai jualnya karena partai-partai lain pendukung Jokowi jelas tidak akan tinggal diam. Ini karena masing-masing memiliki tokoh andalan yang dianggap (masing-masing kubu) cukup layak bersanding dengan Jokowi.

Namun, PDI-P juga berhitung, seandainya Cak Imin tidak bersanding dengan Jokowi, bisa jadi akan berpindah ke kubu lain dan ini jelas tidak akan menguntungkan.

Wacana paling out of the box adalah memasangkan Jokowi-Prabowo, yang gelagatnya adalah seperti mengharap matahari terbit dari barat. Namun, siapa yang tahu itu bisa terjadi karena yang namanya politik setiap saat bisa berubah.

Bagaimana dengan kubu Prabowo? Kubu Prabowo dengan Gerindra-PKS gundah gulana karena menyadari tidak mudah sama sekali menemukan pasangan cawapres yang pas seandainya Prabowo maju kembali sebagai capres 2019-2024. Siapa saja kemungkinannya? Prabowo-Gatot Nurmantyo, Prabowo-Anies Baswedan, Prabowo-Muhaimin Iskandar, atau Prabowo-AHY.

Kemungkinan pasangan militer-militer sepertinya sangat kecil kemungkinannya. Dari semua kemungkinan itu, yang paling logis dan memiliki daya jual politis adalah Prabowo-Anies Baswedan.

Berita terbaru di Kompas.com semalam (5/4/2018) ketika artikel ini ditulis, muncul "Prabowo Tak Akan Deklarasi sebagai Capres di Rakornas Partai Gerindra".

Sementara itu, portal berita nasional satu lagi menyebutkan bahwa pada Jumat (6/4/2018), Gatot Nurmantyo untuk Rakyat (GNR) akan mendeklarasikan mantan Panglima TNI itu sebagai capres pada Pemilu 2019.

Pertanyaan mendasarnya adalah dengan kendaraan parpol manakah Gatot akan maju sebagai capres? Dan, siapakah pasangan cawapresnya? Gatot-AHY? Gatot-Muhaimin Iskandar? Gatot-Anies Baswedan?

Sekali lagi kombinasi militer-militer untuk saat ini nilai jual politisnya paling rendah. Satu-satunya kemungkinan yang paling klop hitungan politisnya adalah Gatot-Anies.

Kemungkinannya mengerucut menjadi Prabowo-Anies Baswedan atau Gatot Nurmantyo-Anies Baswedan. Tak bisa dimungkiri, lepas dari segala kegaduhan dan kehirukpikukan Pilkada DKI Jakarta 2017, nama Anies Baswedan konsisten berada dalam radar politik papan atas.

Menimbang dan menghitung pengalaman Prabowo yang sudah bercapres kesekian kalinya, rasanya lebih masuk akal jika kali ini Prabowo mengulangi strategi ketika Pilkada DKI Jakarta 2012 berperan sebagai King Maker ketika mengusung Jokowi-Ahok. Jika ini terjadi, hanya tinggal Gatot-Anies yang akan diajukan sebagai capres-cawapres.

Sementara di kubu koalisi besar pengusung Jokowi, hitungan paling masuk akal adalah Jokowi-AHY, mengingat pengalaman dan amunisi Demokrat cukup memadai dari SBY dua kali periode presiden dan para pendukung serta loyalisnya.

Kemungkinan terbesar pasangan capres-cawapres 2019-2024 adalah Joko Widodo-Agus Harimurti Yudhoyono dan Gatot Nurmantyo-Anies Baswedan. Jika ini benar terjadi, mari kita semua berdoa yang terbaik untuk Indonesia.

Semoga Pemilu 2019 tidak dikotori oleh racun kebencian yang ditebar berbungkus agama dan sentimen etnis serta agitasi hantu palu arit.

Semoga tidak diwarnai kegaduhan dan kehirukpikukan ala Pilkada DKI 2017. Pilkada DKI 2017 yang berlangsung di pusat negeri sudah menguras habis energi, dirasakan di seluruh Indonesia, sendi-sendi keberagaman bangsa terkoyak. Jangan sampai terjadi lagi.

Salam keberagaman Nusantara! God bless Indonesia...


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Komentar

Close Ads X