Jokowi-AHY Ideal Buat Demokrat - Kompas.com

Jokowi-AHY Ideal Buat Demokrat

Kompas.com - 14/03/2018, 12:48 WIB
Komandan Satgas Bersama Pemenangan Pilkada dan Pemilu 2019 Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) saat bertemu Presiden Joko Widodo di Istana, Selasa (6/3/3018)Biro Pers Istana/Haryanto Komandan Satgas Bersama Pemenangan Pilkada dan Pemilu 2019 Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) saat bertemu Presiden Joko Widodo di Istana, Selasa (6/3/3018)

Sudah sah dan resmi partai-partai politik peserta Pemilu 2019 diumumkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada tanggal 17 Februari 2018. Undian nomor urut partai peserta Pemilu 2019 dilakukan keesokan harinya tanggal 18 Februari 2018.

Belakangan, 4 Maret 2018, Partai Bulan Bintang resmi dinyatakan lolos verifikasi sebagai peserta Pemilu 2019, setelah setelah sebelumnya bersama PKPI (Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia) tidak lolos.

Keduanya menggugat KPU dan setelah verifikasi ulang, PBB yang lolos sebagai peserta Pemilu 2019.

Baca juga : Catat, Inilah Nomor Urut Parpol Peserta Pemilu 2019!

Ada empat partai baru, yaitu Partai Solidaritas Indonesia, Partai Berkarya, Partai Garuda dan Partai Perindo.

Jika dicermati lebih jauh, tiga dari empat partai politik ini adalah nama-nama dan wajah lama di kancah politik Indonesia.

Dua partai "DNA"-nya berasal dari masa Orde Baru, satu partai dengan kekuatan media (wajah lama juga).

Hanya PSI yang terlihat berwajah baru seperti pengurus partai, dari pusat sampai daerah seluruhnya wajah baru dan masih berusia belia.

Pada 23 Februari 2018 yang baru lewat, PDI-P dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) di Bali, mendeklarasikan pencalonan (kembali) Jokowi sebagai Capres 2019-2024 (masa jabatan kedua).

Baca juga : Rekomendasi Rakernas PDI-P, Megawati Perintahkan Pemenangan Jokowi

PDI-P cukup "telat" mendeklarasikan dukungan terhadap pencalonan (kembali) Jokowi dibandingkan Golkar pada tanggal 28 Juli 2016, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) pada tanggal 11 April 2017, PPP pada tanggal 21 Juli 2017, Perindo pada Agustus 2017, Hanura pada tanggal 4 Agustus 2017, dan NasDem pada tanggal 15 November 2017.

Poros ketiga

Santer beredar analisis dan spekulasi akan munculnya poros ketiga, yaitu alternatif selain Jokowi dan (kemungkinan) Prabowo sebagai dua capres yang banyak kalangan memprediksi akan ‘re-match’ di Pilpres 2019.

Baca juga : Ketum PPP: Jokowi dan Prabowo Sepakat Rematch di Pilpres 2019

Poros Ketiga ini mengingatkan Poros Tengah di tahun 1999 yang digagas Amien Rais. Poros Tengah dimunculkan untuk (mencoba) menenggelamkan dominasi partai pemenang Pemilu 1999 yaitu PDI-P  yang ‘otomatis’ mengusung Megawati Soekarnoputri sebagai capres.

KH Abudrrahman Wahid Gus Dur kemudian menjadi Presiden Republik Indonesia ke-4. Sejarah mencatat dan membuktikan manuver Amien Rais justru menimbulkan riak gelombang pembaruan yang lebih besar digelorakan oleh Gus Dur.

Poros Tengah gerah dan ‘menyeret’ turun Gus Dur, sehingga Megawati Soekarnoputri menjadi Presiden Republik Indonesia ke-5.

Di masa Megawati, konstitusi pemilihan presiden langsung digodok dan disahkan, menghasilkan pemilihan presiden langsung untuk pertama kalinya di Indonesia.

Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto (kiri), Calon gubernur DKI Jakarta nomor urut 3, Anies Baswedan memberikan keterangan pers di Kantor DPP Partai Gerindra, Jakarta Selatan, Rabu (15/2/2017). Anies Baswedan mengucapkan terima kasih kepada warga Jakarta yang telah berpartisipasi memberikan hak suaranya dalam pemilihan kepala daerah di DKI Jakarta. KOMPAS.com / KRISTIANTO PURNOMO Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto (kiri), Calon gubernur DKI Jakarta nomor urut 3, Anies Baswedan memberikan keterangan pers di Kantor DPP Partai Gerindra, Jakarta Selatan, Rabu (15/2/2017). Anies Baswedan mengucapkan terima kasih kepada warga Jakarta yang telah berpartisipasi memberikan hak suaranya dalam pemilihan kepala daerah di DKI Jakarta.
Saat ini, tidak ada kekuatan poros ketiga yang cukup signifikan untuk mengusung calon presiden alternatif selain Jokowi dan (kemungkinan) Prabowo.

Baca juga : Fadli Zon: Poros Ketiga Sulit Terbentuk, Jokowi dan Prabowo Bakal Rematch

Ketokohan nama-nama yang beredar belum memiliki elektabilitas yang cukup.

Partai-partai yang belum mendeklarasikan capresnya, PAN (Partai Amanat Nasional), PKS (Partai Keadilan Sejahtera), PKB (Partai Kebangkitan Bangsa), Garuda, Berkarya dan Partai Demokrat.

Langkah Demokrat

Dalam Rapimnas Partai Demokrat 2018, di Sentul International Convention Center (SICC) tanggal 10 Maret 2018, SBY sebagai Ketua Umum Partai Demokrat dan Agus Harimurti Yudhoyono ( AHY) sebagai Komandan Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Pemenangan Pilkada 2018 dan Pilpres 2019, menunjukkan sinyal kuat dukungan kepada Jokowi dan merapatkan barisan ke koalisi partai lainnya.

Tanda-tanda tersebut cukup kuat saat Jokowi dan SBY saling memuji dalam acara itu.

Demokrat tentu berhitung cermat setelah ‘testing the water’ dalam Pilgub DKI 2017, AHY-Silvi tersisih dalam putaran pertama.

Jika dalam Pilpres 2019 Demokrat hendak mengajukan AHY sebagai capres, mungkin belum tepat waktunya mengingat usia dan ‘jam terbang’ AHY bisa dibilang masih kurang dan juga cawapres’nya siapa?

Jika memaksakan diri AHY berpasangan dengan entah siapa, yang ada bisa-bisa pasangan ini akan hanya menjadi pelengkap dan penggembira dalam Pilpres 2019.

Hitungan Demokrat jika merapat ke Gerindra, kemungkinan besar dan komposisi paling mungkin adalah capres Prabowo dan cawapres AHY (tidak akan mungkin sebaliknya!); dimana pasangan ini adalah militer dan militer, dan juga terlihat sejak awal, antara Demokrat dan Gerindra belum pernah nampak dan terasa ‘chemistry’ yang pas dan ‘klik’; walaupun dalam beberapa kesempatan dua jenderal (SBY dan Prabowo) nampak (sepertinya) mesra menyantap nasi goreng bersama.

Hitungan strategi Demokrat paling logis adalah merapat mendukung Jokowi dan bila memungkinkan serta ‘klik’, AHY akan maju sebagai cawapres.

Jika ini benar terjadi pasangan capres-cawapres Jokowi-AHY, akan menjadi kombinasi yang luar biasa.

Baca juga : PDI-P Pastikan Megawati Tak Keberatan jika Demokrat Dukung Jokowi

Biar bagaimana dengan pengalaman bercapres dua kali dan menang dua kali, menjabat 2004-2014, pengalaman dan amunisi SBY bukan sembarangan.

Jika menang 2019-2024, Jokowi adalah masa jabatan kedua dan sudah tidak bisa menjabat lagi sesuai konstitusi.

Peluang AHY menjadi capres 2024 akan terbuka lebar. Dengan (seandainya) menjadi Wapres 2019-2024, pengalaman dan amunisinya lebih dari cukup untuk melaju capres 2024-2029.

Sementara Gerindra jelas ketar-ketir dengan situasi seperti ini. Sekiranya Prabowo kembali capres, siapakah cawapresnya? Anies Baswedan kah? Atau siapakah? Yang memang paling memungkinkan pasangan Prabowo adalah Anies Baswedan.

Jika Jokowi berpasangan dengan AHY, hitung-hitungannya Prabowo dan pasangan cawapresnya (entah siapa nanti) akan sangat berat. Untuk Prabowo, maju atau tidak di Pilpres 2019, dua-duanya adalah pilihan sulit.

Akankah ‘re-match’ Jokowi-Prabowo terjadi di Pilpres 2019? Akankah Demokrat ‘rujuk’ dengan PDIP? Akankah muncul poros ketiga atau poros tengah jaman now? Akankah Orde Baru bangkit lagi? Mari kita tunggu dan saksikan bersama…

Only time will tell… God bless Indonesia…


Komentar
Close Ads X