59 Tahun Akademi Militer: Menjadi Indonesia dari Lembah Tidar - Kompas.com

59 Tahun Akademi Militer: Menjadi Indonesia dari Lembah Tidar

Kompas.com - 10/11/2016, 22:37 WIB
Dok Penhumas Akmil Presiden Joko Widodo menyematkan anugerah Adhimakayasa kepada Tri Ageng Widhi Nugroho, salah satu taruna terbaik lulusan Akademi TNI-Polri 2016, di lapangan Sapta Marga Akademi Militer Magelang, Selasa (26/7/2016).

TNI berasal dari rakyat dan tumbuh berkembang bersama rakyat. Maka, TNI pasti berdiri terdepan untuk membela Indonesia. Taruna-taruna TNI tidak pernah diragukan kekuatan cinta tanah airnya, karena sejak digembleng di Lembah Tidar, mereka digembleng untuk menjadi Indonesia.”

Jenderal TNI (Purn) Sayidiman Suryohadiprodjo, alumni Angkatan Pertama Militaire Akademie (MA) Yogyakarta.

Dalam jejak kesejarahan Indonesia, TNI menjadi pilar terdepan dalam menjaga pertahanan wilayah NKRI. Itulah yang membuat Akademi Militer, sebagai lembaga pendidikan pencetak para sosok tentara profesional ini, mendulang rasa ingin tahu banyak kalangan awam. Utamanya, mereka yang terlibat dalam dunia pendidikan.

Indonesia semakin membutuhkan pemimpin yang punya kecintaan tulus, tanpa pamrih kepada tanah airnya. Lembaga pendidikan menjadi hulunya.

Tempat pendidikan militer yang melahirkan rata-rata 220 perwira remaja Angkatan Darat setiap tahun ini dikenal dengan nama Akademi Milter Magelang. Lembah Tidar, nama legendaris Akademi Militer Magelang, menjadi wadah yang strategis dalam rangka membentuk perwira militer yang tangguh, tegas dan profesional.

Alumninya, lewat berbagai jejak langkahnya, telah terbukti sebagai pemimpin yang memulai karier kepemimpinannya dari bawah, yaitu sejak mereka menyandang pangkat Letnan Dua dan ditempatkan di seluruh teritorial Indonesia.

Lembah Tidar, lembah dan bukit berhawa sejuk yang terletak di bagian selatan Kota Magelang, Jawa Tengah. Di Lembah Tidar inilah letak kompleks Akademi Militer, atau terkenal sebagai paku Pulau Jawa.

Bukit Tidar, memang tidak terlalu tinggi, tetapi pepohonan di sini berfungsi sebagai paru-paru kota sehingga udara Kota Magelang selalu segar. Kita juga dapat menikmati pemandangan Kota Magelang dari atas Tugu Akademi Militer.

Akademi Militer bertugas mendidik taruna untuk menjadi Perwira TNI Angkatan Darat. Para Calon perwira ini akan dibina di Lembah Tidar Magelang selama 4 tahun yang kelak akan menjadi pimpinan TNI AD di seluruh tanah air. Lulusan Akmil langsung mendapatkan anugerah pangkat Letnan Dua.

Selama menjalani proses pendidikan sebagai Taruna Akademi Militer segala keperluan akan disediakan oleh negara, mulai perlengkapan dari kepala sampai ujung kaki sudah tersedia dan seluruh fasilitas dibiayai oleh negara. Para taruna hanya fokus untuk  belajar dan berlatih saja.

Jejak Sejarah Akademi Militer

Sejarah Akademi Militer (Akmil) bermula dari berdirinya Militaire Academie (MA) Yogyakarta pada tanggal 31 Oktober 1945 atas prakarsa Kepala Staf Umum Tentara Keamanan Rakyat (TKR), Letnan Jenderal TNI Oerip Soemohardjo.

Jenderal Oerip ditunjuk oleh pemerintah yang baru hitungan bulan itu untuk mengepalai TKR, dan kemudian membentuk MA yang cikal-bakal Akmil.

Adalah Kolonel Samijo, seorang eks perwira KNIL tamatan Sekolah Militer Kerajaan Belanda (KMA) Breda, Belanda, yang langsung dipanggil Jenderal Oerip menjadi guru sejak MA mulai berdiri. Tidak ada guru-guru lain, gedung, apalagi peralatan layaknya sebuah sekolah Akademi Militer.

Moehkardi menuliskan, bagaimana sederhananya proses terbentuknya MA yang tanpa didahului perencanaan, persiapan, apalagi modal materi itu. Modal satu-satunya hanyalah ide, kemauan dan semangat pengabdian dari para pelaksana. Suatu ciri umum di zaman revolusi fisik kala itu.  (Lihat: Akademi Miiter Yogya dalam Perjuangan Fisik 1945-1949. Moehkardi, 1977.).  

Pada tahun 1950, MA Yogyakarta telah meluluskan dua angkatan. Angkatan ketiga hanya diikuti 10 orang dan akhirnya berkurang lagi menjadi 7 taruna. Melihat terlalu sedikitnya peminat pada angkatan ketiga, MA ditutup untuk sementara dan taruna angkatan ketiga menyelesaikan pendidikannya di KMA Breda, Belanda.

Pada kurun waktu yang sama di berbagai tempat lain -Malang,  Mojoagung, Jombang,  Salatiga, Tangerang,  Palembang,  Bukittinggi, Brastagi, dan Prapat- didirikan Sekolah Perwira Darurat untuk memenuhi kebutuhan TKR pada waktu itu. (Dikutip dari situs resmi Akademi Militer: http://www.akmil.ac.id/).

“Anda bisa bayangkan bagaimana kami yang masih belajar teknik-teknik menjadi petempur yang benar, belajar pegang senjata, pegang pistol, granat, dan harus langsung praktek dalan Aksi Satu dan Aksi Dua kala itu. Bukan sekadar berlatih, kami bertempur sesungguhnya,” kata Jenderal (Purn.) Sayidiman Suryohadiprodjo, 89 tahun, dalam sebuah perbincangan beberapa hari lalu.

Beliau alumni angkatan pertama MA Yogya, satu diantara 196 lulusan yang duduk di peringkat 3 besar. Aksi Satu dan Aksi Dua yang dimaksud Pak Sayidiman di sini adalah Agresi Militer Belanda I 1947 dan Agresi Milter II 1948.   

Pada tanggal 1 Januari 1951 di Bandung didirikan Sekolah Perwira Genie Angkatan Darat (SPGI AD), dan berubah menjadi Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD) pada tanggal 23 September 1956. Salah satu lulusannya yang terkenal adalah Kapten (Anumerta) Pierre A. Tendean.

Sementara itu pula pada tanggal 13 Januari 1951 didirikan Pusat Pendidikan Perwira Angkatan Darat (P3AD) di Bandung.

Mengingat pada saat itu banyak sekolah perwira TNI AD, maka muncul gagasan dari pimpinan TNI AD untuk mendirikan satu Akademi Militer. Gagasan ini pertama kali dimunculkan pada sidang parlemen oleh Menteri Pertahanan pada tahun 1952.

Setelah melalui berbagai proses, maka pada 11 November 1957 pukul 11.00 Presiden RI Ir. Soekarno selaku Panglima Tertinggi Angkatan Perang RI, meresmikan pembukaan kembali Akademi Militer Nasional yang berkedudukan di Magelang. Tanggal 11 November kemudian sampai sekarang diperingati sebagai Hari Ulang Tahun Akademi Militer.

Nama Akademi Militer Nasional (AMN) mulai dperkenalkan, walaupun nama populer yang digunakan dalam percakapan harian masih MA Yogya. AMN secara resmi menjadi kelanjutan dari MA Yogya dan taruna yang masuk tahun 1957 ini dinyatakan sebagai Taruna MA angkatan ke-4.

Presiden Sukarno pada saat itu mengeluarkan maklumat bertulisan tangan yang berbunyi, “Dengan ini, maka Akademi Militer Nasional, dengan angkatannya yang keempat, saya buka kembali, dan saya resmikannya di dalam Kompleks A.M.N yang bersifat sementara.” Magelang, 11 Nopember 1957, Panglima Tertinggi Angkatan Perang Republik Indonesia, Sukarno.

Dalam situs Akmil tertulis, pada tahun 1961, Akademi Militer Nasional Magelang diintegrasikan dengan ATEKAD Bandung dengan nama Akademi Militer Nasional dan berkedudukan di Magelang.

Pada saat itu masing-masing angkatan (AD, AL, AU dan Polri) memiliki Akademi sendiri-sendiri. Alasan itulah yang mendasari sejak tanggal 16 Desember 1965 seluruh Akademi Angkatan (AMN, AAL, AAU dan AAK) diintegrasikan menjadi Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri).

Sesuai dengan tuntutan zaman, maka pada 29 Januari 1967 Akabri di Magelang diresmikan menjadi Akabri Udarat, yang meliputi dua Akabri bagian di bawah satu pimpinan, yaitu Akabri Bagian Umum dan Akabri Bagian Darat.

Akabri Bagian Umum mendidik taruna tingkat pertama (TK-I) selama satu tahun, termasuk Pendidikan Dasar Keprajuritan Chandradimuka. Sedangkan Akabri Bagian Darat mendidik taruna Akabri Bagian Darat mulai tingkat dua (TK-II) sampai tingkat empat (TK-IV).

Pada 29 September 1979, Akabri Udarat berubah namanya menjadi Akabri Bagian Darat. Selanjutnya, dalam rangka reorganisasi di lingkungan ABRI, maka pada tanggal 14 Juni 1984 Akabri Bagian Darat berubah namanya menjadi Akmil (Akademi Militer).

Pada tanggal 1 April 1999 secara resmi Polri terpisah dari tiga angkatan lainnya, dan ABRI mengubah namanya menjadi TNI. Sejak itu pula Akademi Kepolisian terpisah dari AKABRI. Kemudian AKABRI berubah namanya menjadi Akademi TNI yang terdiri dari AKMIL, AAL, AAU.

Berdasarkan Perpang Nomor :Perpang/ 28/ V/ 2008 tanggal 12 Mei 2008 Pendidikan Dasar Keprajuritan Chandradimuka dan Integratif Akademi TNI pola 12 bulan langsung dibawah Mako Akademi TNI. Kemudian AKMIL menyelenggarakan pendidikan khusus Taruna Angkatan Darat tingkat II, III dan IV.

Masa pendidikan terintegrasi tercatat sebagai sistem terbaik yang pernah dijalankan dalam Akademi Militer. Dalam pengantar buku Mengawali Integrasi, Mengusung Reformasi: Pengabdian Alumni Akabri Pertama 1970  (Kata Hasta Pustaka, 2012, h. xxix.) dipaparkan bahwa hanya beberapa negara di dunia saja yang memiliki sistem pendidikan perwira militer terintegrasi.

Sistem pendidikan ini bertujuan untuk memahami dan menerapkan konsep tentara terintegrasi yang harus mampu menyelenggarakan berbagai format operasi gabungan (combined operations). Ini sangat krusial pada saat mereka bertemu dengan kasus-kasus di lapangan. Meskipun sempat terpisah, sejak dua tahun lalu pendidikan terintegrasi kembali diberlakukan di Akademi Militer Magelang.

59 Tahun Akademi Militer

Tugas mencetak tentara profesional tanpa terasa telah dijalani Akademi Militer selama 59 tahun usianya. Esok, 11 November 2016, lembaga ini tepat berhari jadi ke-59.

Bukan rahasia dan sudah menjadi pengetahuan bersama, Akademi Militer sudah menjadi tujuan favorit para remaja lulusan SMA di seluruh tanah air. Terutama di kalangan para murid lelaki peminat olahraga, pengurus organisasi siswa sampai peminat ekstra kurikuler Paskibra, Pramuka dan Lintas Alam. Mereka bercita-cita menjadi tentara profesional.

Di tahun terakhir pendidikan SMAnya sudah jamak melihat mereka membidik satu kursi untuk menjadi calon taruna ini lewat berbagai cara. Mulai dari menjaga kebugaran, mempelajari sejarah, khususnya sejarah TNI Angkatan Darat, sampai mencari kisi-kisi soal dan menyimak peluang per daerah teritorial (Kodam) se-Indonesia.  

Sayangnya belum terdokumentasi dengan baik data peminatnya dari tahun ke tahun, tetapi persaingan memang teramat ketat.

Sebagai contoh, kisah Kolonel Inf. Efran Gunawan, Staf Dinas Penerangan (Dispen) TNI AD yang lulus dari Akmil tahun 1994, bisa dijadikan gambaran beratnya persaingan masuk Lembah Tidar.

Ia mengikuti seleksi awal masuk Akmil di Provinsi Bengkulu. Semula peserta yang lulus seleksi awal berjumlah 157 dari sekitar 2.000-an peminat, kemudian dari jumlah itu yang akhirnya masuk Akmil hanya 4 orang.

Sedangkan pada angkatan yang sama, tetapi berbeda provinsi, ia memberi contoh Jawa Barat, dengan peminat cukup banyak sekitar 10.000-an, lolos tahap pertama 450, dan terakhir lolos masuk Akmil hanya 50 orang.

Nilai Kesetiaan pada Pancasila

Jenderal Sayidiman sangat terharu ia masih sempat menjadi saksi mata tumbuh-besarnya lembaga pendidikan yang menjadi jejak awal karier militernya dan ia juga turut terlibat dalam pengembangan kurikulumnya.

Menurutnya, sangat penting menghasilkan tentara-tentara profesional dan mumpuni, tetapi lebih penting menghasilkan insan pembela bangsa yang setia kepada falsafah negara: Pancasila.

Seperti ucapan Sumpah Taruna yang diucapkan di masa awal Akmil berdiri, “Demi Allah Maha Esa, Kami nan Bersumpah, Setia Membela Nusa dan Bangsa, Tanah Tumpah Darah…”

Dirgahayu Akmil ke-59! 


EditorWisnubrata
Close Ads X