Anggota Santoso Nekat Seberangi Arus Deras akibat Kehabisan Logistik

Kompas.com - 14/09/2016, 19:22 WIB
Kadivhumas Polri Irjen Pol Boy Rafli Amar (kiri) dan Kapolda Sulawesi Tengah Brigjen Pol Rudy Sufahriadi  dalam konferensi pers di Kompleks Mabes Polri, Jakarta, Rabu (25/5/2016) KOMPAS.com/Nabilla TashandraKadivhumas Polri Irjen Pol Boy Rafli Amar (kiri) dan Kapolda Sulawesi Tengah Brigjen Pol Rudy Sufahriadi dalam konferensi pers di Kompleks Mabes Polri, Jakarta, Rabu (25/5/2016)
|
EditorSabrina Asril

JAKARTA, KOMPAS.com — Kepala Polda Sulawesi Tengah Brigjen Pol Rudy Sufahriadi mengatakan, anggota kelompok Mujahiddin Indonesia Timur (MIT) bukan tewas karena tertembak.

Menurut dia, anak buah Santoso alias Abu Wardah itu meninggal lantaran terbawa arus sungai saat tergelincir. Anak buah Santoso nekat menyeberangi arus deras lantaran sudah kehabisan logistik.

"Luka di kepalanya karena benturan, dia terseret air. Kepalanya retak," ujar Rudy di Kompleks Mabes Polri, Jakarta, Rabu (14/9/2016) malam.

Rudi mengatakan, saat itu Andika dan rombongan kelompok Santoso menyeberangi sungai di Poso Pesisir. Arus sungai cukup deras sehingga saat Andika tergelincir, ia hilang keseimbangan dan hanyut di sungai. Kepalanya terantuk batu saat terbawa arus.


Jasad Andika kemudian ditemukan sekitar pukul 09.00 Wita di tepian sungai. Sementara itu, rombongan lain juga ikut hanyut oleh arus, tetapi berhasil menepi.

(Baca: Satgas Gabungan Menangkap Basri, Pimpinan Kelompok Santoso)

"Mereka nyeberang karena kelaparan, habis makan, logistiknya berkurang," kata Rudy.

Saat hanyut di sungai, senjata yang mereka bawa pun ikut terbawa arus. Beruntung, Satgas Tinombala berhasil menemukan senjata tersebut beserta peralatan pribadi.

Setelah menemukan mayat Andika, tim gabungan langsung melakukan penyisiran di area yang kemungkinan menjadi tempat persembunyian anggota lain dari kelompok Santoso.

Satu jam kemudian, petugas berhasil menemukan Basri, kaki tangan Santoso. Ia diyakini menjadi pimpinan kelompok pengganti Santoso yang tewas ditembak beberapa lalu.

(Baca: Satu Anggota Kelompok Santoso Ditemukan Tewas Terseret Arus Sungai)

Kemudian, tim kembali bergerak dan berhasil menjemput paksa istri Basri, Nurmi Usman alias Oma. Oma dibawa dari sebuah pondok di kebun warga tidak jauh dari lokasi penangkapan Basri. Keberadaan perempuan asal Bima, Nusa Tenggara Barat, ini diketahui berdasarkan keterangan Basri saat diinterogasi petugas di Mapolsek Poso Pesisir Selatan.

Kini keduanya langsung diberangkatkan menuju Palu untuk menjalani pemeriksaan secara intensif di Mapolda Sulteng. Dengan demikian, diperkirakan, anggota kelompok yang masih tersisa sebanyak 12 orang.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X