Bapak AURI yang Merekam Sejarah Indonesia Lewat Koleksi Prangko

Kompas.com - 16/03/2016, 19:45 WIB
Prangko edisi 20 tahun Indonesia Merdeka. Terbit 17 Agustus 1965, dua muka dengan 5 prangko sesuai lambang yang ada di Pancasila. Imelda BachtiarPrangko edisi 20 tahun Indonesia Merdeka. Terbit 17 Agustus 1965, dua muka dengan 5 prangko sesuai lambang yang ada di Pancasila.
EditorWisnu Nugroho


Tentang Bapak AURI Marsekal Soeriadi Suryadarma sebagai arsitek Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI), peletak dasar dan pimpinan AURI mulai 9 April 1946-19 Januari 1962, sebagian besar pembaca sejarah nasional pasti tahu.

Tetapi, Suryadarma sebagai filatelis tulen, yang mengumpulkan prangko sarat nilai sejarah mulai dari awal kemerdekaan Indonesia sampai saat akhir hidupnya, tidak banyak yang tahu.

Bahkan, beliau yang wafat pada 16 Agustus 1975 ini, adalah pendiri dan ketua pertama Perkumpulan Filatelis Indonesia (PFI). Rumah pribadi kediaman resmi KSAU di Jalan Mendut 10 menjadi kantor pengurus besar PFI sekitar tahun 1970-an.

Priyanti Suryadarma Pakan (77 tahun), puteri tertua Soeriadi Suryadarma, mengingat persis bagaimana telatennya sang ayah menjalankan hobi ini sejak masih memimpin AURI. Berperang, berstrategi militer bersama para pimpinan angkatan bersenjata yang lain, tetapi di saat luang masih sempat mengumpulkan dan merawat prangko dengan apiknya.

Suryadarma sadar betul, prangko, yang pada masa jayanya sebenarnya diterbitkan sebagai benda pos, tanda biaya berkirim surat, punya jejak sejarah suatu bangsa. Prangko membawa nama bangsa, karena nama negara pembuat dan peristiwa yang menandainya, selalu tercantum.

Bukan sedikit, ada berpuluh album dengan ratusan helai koleksinya. Mulai dari yang langka dari masa sebelum kemerdekaan, prangko seri ulang tahun AURI, sampai yang terkait peristiwa sejarah.

Misalnya prangko yang khusus diterbitkan Presiden Sukarno pada saat pembukaan Pesta Olahraga GANEFO (Games for The New Emerging Forces), negara-negara baru di kawasan Asia, di Jakarta 10 November 1962.

Bedak Tabur dan Prangko Ayah
“Saya masih ingat sering diberi pekerjaan rumah sepulang sekolah. Mengeluarkan dan merawat koleksi Papa yang tersimpan dalam puluhan album prangko. Satu minggu sekali puluhan album itu saya buka satu per satu dan ditaburi bedak di atasnya. Kata Papa, itu berguna untuk mengawetkan prangko dan menghindarinya dari jamur,” kenang Priyanti yang saat ini masih mengajar di Jurusan Antropologi, FISIP, Universitas Indonesia.

Cara rawat itu ternyata mangkus. Maka, jangan heran kalau koleksi yang sudah sama tuanya dengan usia republik ini, masih terawat, tidak berjamur dan lukisan prangkonya masih tajam dan bisa dinikmati dengan baik.

Untuk mata awam yang bukan filatelis pun, koleksi Suryadarma sangat indah. Untaian sejarah bangsa lewat benda pos yang kini telah langka. Nilai sejarah, sekaligus juga nilai materialnya, pasti sangat tinggi.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Satgas: Pengembangan Vaksin Merah Putih Tetap Berjalan meski Kemenristek Dilebur

Satgas: Pengembangan Vaksin Merah Putih Tetap Berjalan meski Kemenristek Dilebur

Nasional
Merespons Pernyataan Ganjar, Satgas Tegaskan Larangan Mudik Berlaku 6-17 Mei

Merespons Pernyataan Ganjar, Satgas Tegaskan Larangan Mudik Berlaku 6-17 Mei

Nasional
KRI Tanjung Kambani-971 Distribusikan Bantuan untuk Korban Bencana di NTT

KRI Tanjung Kambani-971 Distribusikan Bantuan untuk Korban Bencana di NTT

Nasional
Konstruksi Perkara Dugaan Suap yang Menjerat Anggota dan Eks Anggota DPRD Jabar

Konstruksi Perkara Dugaan Suap yang Menjerat Anggota dan Eks Anggota DPRD Jabar

Nasional
[POPULER NASIONAL] Relawan Uji Klinis Vaksin Nusantara Alami Kejadian Tak Diinginkan | Penyuntikan Vaksin Nusantara di RSPAD Tak Berkaitan dengan BPOM

[POPULER NASIONAL] Relawan Uji Klinis Vaksin Nusantara Alami Kejadian Tak Diinginkan | Penyuntikan Vaksin Nusantara di RSPAD Tak Berkaitan dengan BPOM

Nasional
Panglima TNI: Dharma Pertiwi Turut Berpartisipasi dalam Pembangunan Nasional

Panglima TNI: Dharma Pertiwi Turut Berpartisipasi dalam Pembangunan Nasional

Nasional
Kalapas Gunung Sindur: Napi Teroris Awalnya Hormat Bendera Saja Tidak Mau

Kalapas Gunung Sindur: Napi Teroris Awalnya Hormat Bendera Saja Tidak Mau

Nasional
Dua Tersangka Kasus Korupsi di Bakamla Segera Disidang

Dua Tersangka Kasus Korupsi di Bakamla Segera Disidang

Nasional
Korupsi BPJS Ketenagakerjaan, Kejagung Periksa Deputi Direktur Manajemen Risiko Investasi

Korupsi BPJS Ketenagakerjaan, Kejagung Periksa Deputi Direktur Manajemen Risiko Investasi

Nasional
Didakwa Terima Suap Rp 25,7 Miliar, Edhy Prabowo: Saya Tak Bersalah

Didakwa Terima Suap Rp 25,7 Miliar, Edhy Prabowo: Saya Tak Bersalah

Nasional
Jadi Relawan Vaksin Nusantara, Mantan Menkes Siti Fadilah: Ini Bukan Vaksinasi, tapi Penelitian

Jadi Relawan Vaksin Nusantara, Mantan Menkes Siti Fadilah: Ini Bukan Vaksinasi, tapi Penelitian

Nasional
Kepala Bappenas: Pemerintah Terbuka pada Semua Usulan Pembangunan Ibu Kota Baru

Kepala Bappenas: Pemerintah Terbuka pada Semua Usulan Pembangunan Ibu Kota Baru

Nasional
Pengamat Pertahanan Nilai Denwalsus Kemhan Tidak Bermasalah

Pengamat Pertahanan Nilai Denwalsus Kemhan Tidak Bermasalah

Nasional
Fraksi PKS Dukung Rencana Jokowi Bahas Persoalan di Myanmar Lewat KTT ASEAN

Fraksi PKS Dukung Rencana Jokowi Bahas Persoalan di Myanmar Lewat KTT ASEAN

Nasional
Raja Salman Beri Hadiah 15 Ton Kurma Istimewa untuk Umat Islam di Indonesia

Raja Salman Beri Hadiah 15 Ton Kurma Istimewa untuk Umat Islam di Indonesia

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X