Poros Muda Golkar: Rekonsiliasi Harga Mati

Kompas.com - 23/12/2014, 09:13 WIB
Peserta Musyawarah Nasional menyambut dengan riuh  penetapan Aburizal Bakrie sebagai Ketua Umum Partai Golkar pada Munas IX Golkar di Nusa Dua, Bali, Rabu (3/12/2014). Ical, sebutan Aburizal Bakrie, terpilih secara aklamasi untuk memimpin Golkar periode 2014-2019. KOMPAS / HERU SRI KUMOROPeserta Musyawarah Nasional menyambut dengan riuh penetapan Aburizal Bakrie sebagai Ketua Umum Partai Golkar pada Munas IX Golkar di Nusa Dua, Bali, Rabu (3/12/2014). Ical, sebutan Aburizal Bakrie, terpilih secara aklamasi untuk memimpin Golkar periode 2014-2019.
Penulis Dani Prabowo
|
EditorInggried Dwi Wedhaswary

JAKARTA, KOMPAS.com — Para kader muda Partai Golkar berharap konflik yang tengah melanda partai berlambang pohon beringin itu tak diselesaikan melalui ranah hukum. Juru Bicara Poros Muda Golkar Andi Sinulingga mengatakan, jika penyelesaian melalui Mahkamah Partai tak mencapai islah, kemungkinan konflik akan dibawa ke pengadilan. Menurut dia, penyelesaian melalui pengadilan akan kembali memunculkan konflik jika salah satu pihak tak terima dengan putusan pengadilan. 

"Dualisme ini tidak mungkin diselesaikan di ranah pengadilan, disebabkan memakan waktu yang cukup lama, juga secara psikologis akan sulit diterima oleh pihak yang kalah dalam pengadilan," kata Andi, dalam keterangan yang diterima Kompas.com, Senin (22/12/2014) malam.

Dampak psikologis itu, kata Andi, dikhawatirkan akan membuat konflik semakin meluas dan berpotensi keluarnya sejumlah kader karena konflik yang tak kunjung selesai. Sementara itu, partai politik lain membuka pintu bagi kader Golkar.

"Jika itu terjadi, Golkar akan kehilangan banyak kader baik itu yang migrasi maupun membentuk partai baru. Tentu saja ini tidak baik buat Golkar ke depan," katanya.

Oleh karena itu, kata dia, rekonsiliasi menjadi harga mati. Ia berharap, kedua kubu, baik Aburizal Bakrie maupun Agung Laksono sama-sama legawa dalam menerima apa pun hasil perundingan.

"Keduanya harus sama-sama legowo untuk mandeg pandito demi kepentingan partai yang lebih baik ke depan," ujarnya.

Mandeg pandito merupakan kependekan dari istilah lengser keprabon mandeg pandito. Istilah dalam bahasa Jawa itu memiliki makna seorang raja yang turun takhta kemudian meninggalkan persoalan duniawi sepenuhnya mempersiapkan diri menyucikan diri. Istilah itu populer ketika mantan Presiden Soeharto dipaksa lengser dari kursi jabatannya saat itu.

Selain itu, Andi menambahkan, kedua kubu perlu melakukan munas bersama yang diselenggarakan kedua belah pihak. Siapa pun yang nantinya memenangkan munas tersebut, kedua kubu harus dilibatkan dalam menyusun kepengurusan Golkar ke depan bersama dengan formatur lainnya.

Dalam pelaksanaan munas bersama ini, menurut Andi, ada opsi tambahan jika ada kesepakatan hanya Ical dan Agung yang didaulat untuk menjadi calon ketua umum. Jika Agung menang, Ical menjadi ketua dewan pertimbangan. Sementara itu, jika Ical yang menang, Agung menjadi wakil ketua umum.

"Dalam munas juga bersama diputuskan jalan tengah, Golkar tidak ada dalam pemerintahan, juga tidak dalam Koalisi Merah Putih. Golkar fokus bekerja menjalankan fungsi-fungsi kepartaian dengan menjalankan fungsi kontrol di parlemen dan merealisasikan program-program partai yang berpihak kepada rakyat banyak," katanya.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X