Kompas.com - 10/12/2014, 13:35 WIB
Penulis Dani Prabowo
|
EditorFidel Ali Permana


JAKARTA, KOMPAS.com
- Presiden Joko Widodo berencana akan menolak permohonan grasi yang diajukan terpidana mati kasus narkoba. Kejaksaan Agung pun didesak agar dapat segera mengeksekusi para terpidana mati tersebut.

Ketua Komisi III DPR Aziz Syamsuddin mengatakan, kejaksaan merupakan pihak yang memiliki wewenang untuk menjalankan eksekusi mati tersebut. Menurut dia, ketika Jokowi telah menolak permohonan grasi yang diajukan, maka terpidana mati itu telah memiliki status hukum tetap.

"Kami meminta kejaksaan untuk segera melaksanakan hukuman itu. Kalau masalah waktu (eksekusi) itu wewenang Presiden Jokowi," kata Aziz saat dihubungi Kompas.com, Rabu (10/12/2014).

Sementara itu, pakar hukum pidana dari Universitas Pelita Harapan, Jamin Ginting mengatakan, kejaksaan tidak dapat menunda pelaksanaan eksekusi apabila presiden telah menolak permohonan grasi yang diajukan. Pasalnya, hal itu justru akan menambah beban psikologis bagi terpidana itu.

"Kalau menunda, itu sama halnya dengan menambah hukuman lagi bagi dia (terpidana). Seakan-akan dia menderita. Bahkan banyak kasus terpidana mati itu meninggal di dalam penjara karena stress menunggu kepastian," kata Jamin saat dihubungi.

Sebelumnya, Jokowi memastikan akan menolak permohonan grasi yang diajukan oleh 64 terpidana mati kasus narkoba. Penolakan permohonan grasi itu, menurut Jokowi, sangat penting untuk memberikan efek jera bagi para bandar, pengedar, maupun pengguna.

"Saya akan tolak permohonan grasi yang diajukan oleh 64 terpidana mati kasus narkoba. Saat ini permohonannya sebagian sudah ada di meja saya dan sebagian masih berputar-putar di lingkungan Istana," kata Presiden Jokowi.

Presiden Jokowi menegaskan, kesalahan itu sulit untuk dimaafkan karena mereka umumnya adalah para bandar besar yang demi keuntungan pribadi dan kelompoknya telah merusak masa depan generasi penerus bangsa.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.