Dekan Filsafat UGM: Mundurnya Prabowo Perlu Dilihat dari Dua Sisi

Kompas.com - 23/07/2014, 15:52 WIB
Menolak Hasil Pilpres - Calon presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato penolakkannya terhadap hasil pilpres 2014 di Rumah Polonia, Jakarta Timur, Selasa (22/7/2014). Pernyataan sikap tanpa kehadiran calon wakil presiden Hatta Rajasa tersebut merupakan bentuk kekecewaan dari tim pemenangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa terhadap pelaksanaan pilpres 2014 yang mereka nilai banyak diwarnai oleh kecurangan. KOMPAS/WAWAN H PRABOWOMenolak Hasil Pilpres - Calon presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato penolakkannya terhadap hasil pilpres 2014 di Rumah Polonia, Jakarta Timur, Selasa (22/7/2014). Pernyataan sikap tanpa kehadiran calon wakil presiden Hatta Rajasa tersebut merupakan bentuk kekecewaan dari tim pemenangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa terhadap pelaksanaan pilpres 2014 yang mereka nilai banyak diwarnai oleh kecurangan.
|
EditorGlori K. Wadrianto
YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Keputusan mundurnya Calon Presiden Prabowo Subianto dari Pemilu Presiden 2014, menurut Dekan Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) Muhtazar harus dilihat dari dua sisi. Pertama dari sisi pendidikan politik dan kedua dari sisi moral.

Pandangan itu diungkapkan Muhtazar dalam acara Forum Ilmuwan Jogja Menyongsong Orde Kemandirian di Universitas Janabadra, Yogyakarta, Rabu (23/7/2014).

Keputusan Capres Prabowo Subianto mundur dari Pemilu Presiden 2014 serta tidak mengakui hasil rekapitulasi KPU Pusat jika dilihat dari perspektif keilmuan politik memang tidak mencerdaskan masyarakat.

"Masyarakat saat ini sudah mulai cerdas dalam berpolitik dan tentunya kritis menyikapi berbagai perkembangan. Dengan sikap yang diambil itu tentu dalam konteks keilmuan politik tidaklah mendidik," tegas dia.

Di satu sisi, lanjutnya, latar belakang yang disampaikan Prabowo hingga memutuskan untuk mundur dalam pencapresan juga harus dilihat positif. Jika dicermati, apa yang disampaikan Prabowo Subianto sebenarnya merupakan pesan moral bagi masyarakat dan penyelanggara pemilu. Alasan yang melatarbelakanginya harus didukung agar dapat membuktikan kecurangan-kecurangan yang disampaikan.

"Alasan itu positif, saya kira merupakan pesan moral yang bersifat universal. Ada dua hal itu yang harus dilihat," tandas dia.

Sementara itu, Guru Besar Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Tulus Warsito menilai, keputusan salah satu pemain mundur dalam final Pilpres 2014 merupakan bentuk dari dominasi personal.

Jika diandaikan dalam sebuah permainan, maka sikap itu bentuk egoisme individual atau bermain sendiri tanpa melihat yang lainnya. "Sikap capres seperti itu tidaklah pantas. Ini saya rasa menjadi pelajaran berharga bagi kita semua," kata Tulus.

Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Menkumham Sebut Pemerintah Akan Bangun Tiga Lapas Khusus Teroris di Nusakambangan

Menkumham Sebut Pemerintah Akan Bangun Tiga Lapas Khusus Teroris di Nusakambangan

Nasional
Berembus Isu 'Reshuffle' akibat Penggabungan Kemenristek dan Kemendikbud, Sekjen PDI-P: Serahkan ke Presiden

Berembus Isu "Reshuffle" akibat Penggabungan Kemenristek dan Kemendikbud, Sekjen PDI-P: Serahkan ke Presiden

Nasional
Sekjen PDI-P Ungkap Pertemuan Jokowi dan Megawati Pekan Lalu, Ini yang Dibahas

Sekjen PDI-P Ungkap Pertemuan Jokowi dan Megawati Pekan Lalu, Ini yang Dibahas

Nasional
UPDATE Gempa Malang: 7 Orang Meninggal Dunia, 2 Luka Berat

UPDATE Gempa Malang: 7 Orang Meninggal Dunia, 2 Luka Berat

Nasional
Berdasarkan Data BNPB, Ada 174 Korban Jiwa akibat Banjir di NTT, 48 Orang Masih Hilang

Berdasarkan Data BNPB, Ada 174 Korban Jiwa akibat Banjir di NTT, 48 Orang Masih Hilang

Nasional
Menhan Prabowo Bentuk Detasemen Kawal Khusus untuk Tamu Militer Kemenhan

Menhan Prabowo Bentuk Detasemen Kawal Khusus untuk Tamu Militer Kemenhan

Nasional
Dibiayai APBN, Satgas BLBI akan Laporkan Hasil Kerja ke Menkeu dan Presiden

Dibiayai APBN, Satgas BLBI akan Laporkan Hasil Kerja ke Menkeu dan Presiden

Nasional
Survei IPO: AHY Ungguli Prabowo sebagai Tokoh Potensial di Pilpres 2024

Survei IPO: AHY Ungguli Prabowo sebagai Tokoh Potensial di Pilpres 2024

Nasional
Satgas BLBI Bertugas Hingga 2023, Ini Susunan Organisasinya

Satgas BLBI Bertugas Hingga 2023, Ini Susunan Organisasinya

Nasional
Jokowi Teken Keppres Nomor 6/2021, Tegaskan Pembentukan Satgas BLBI

Jokowi Teken Keppres Nomor 6/2021, Tegaskan Pembentukan Satgas BLBI

Nasional
PDI-P Apresiasi Dukungan DPR atas Peleburan Kemenristek dan Kemendikbud

PDI-P Apresiasi Dukungan DPR atas Peleburan Kemenristek dan Kemendikbud

Nasional
Kemenag Bantah Informasi Soal Vaksin Sinovac yang Tak Bisa Digunakan Sebagai Syarat Umrah

Kemenag Bantah Informasi Soal Vaksin Sinovac yang Tak Bisa Digunakan Sebagai Syarat Umrah

Nasional
UPDATE 10 April: 5.041.654 Orang Sudah Divaksin Covid-19 Dosis Kedua, 9.927.110 Dosis Pertama

UPDATE 10 April: 5.041.654 Orang Sudah Divaksin Covid-19 Dosis Kedua, 9.927.110 Dosis Pertama

Nasional
UPDATE 10 April: Ada 59.139 Suspek Terkait Covid-19

UPDATE 10 April: Ada 59.139 Suspek Terkait Covid-19

Nasional
UPDATE 10 April: 64.091 Spesimen Terkait Covid-19 Diperiksa dalam Sehari

UPDATE 10 April: 64.091 Spesimen Terkait Covid-19 Diperiksa dalam Sehari

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X