Soal Keinginan Golkar Gabung ke Jokowi, Anies Minta Tunggu 22 Juli

Kompas.com - 15/07/2014, 16:20 WIB
Anies Baswedan memberikan kata sambutan di acara Festival Teman Rakyat, di Lapangan D, Senayan, Jakarta, Rabu (25/6/2014). Festival yang digelar oleh relawan pendukung pasangan Jokowi-JK ini menghadirkan hiburan musik hingga tenda kuliner. KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZESAnies Baswedan memberikan kata sambutan di acara Festival Teman Rakyat, di Lapangan D, Senayan, Jakarta, Rabu (25/6/2014). Festival yang digelar oleh relawan pendukung pasangan Jokowi-JK ini menghadirkan hiburan musik hingga tenda kuliner.
|
EditorFidel Ali Permana


JAKARTA, KOMPAS.com — Juru bicara tim pemenangan pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla, Anies Baswedan, enggan merespons perihal rencana bergabungnya Partai Golkar ke kubu Jokowi-JK pasca-pemilu presiden. Meski demikian, dia mengatakan, pihaknya selalu mencermati dinamika politik mengenai hal tersebut.

"Yang pasti bahwa dalam membuat sikap jangan seperti yang kemarin (saat membentuk koalisi permanen antara Gerindra, Golkar, PAN, Demokrat, PKS, PPP, dan PBB)," ujar dia di Media Center Jokowi-JK, Jalan Cemara, Jakarta, Selasa (15/7/2014).

Anies mengatakan, koalisi permanen yang dibentuk koalisi Prabowo Subianto-Hatta Rajasa lebih didasarkan pada kepentingan partisan. Menurut dia, koalisi yang dibentuk Jokowi-JK menomorsatukan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan partisan.

Selain itu, Anies juga menyebut Golkar sebaiknya memiliki keyakinan alias tidak bolak-balik dari kubu satu ke kubu lain dalam membuat sikap soal koalisi pasca-pilpres. Hal itu, kata dia, penting agar tidak mengganggu kredibilitas hubungan koalisi ke depan.

"Jadi lebih baik tunggu hasil resmi KPU 22 Juli, setelah itu baru kita berbicara," tandas Rektor non-aktif Universitas Paramadina itu.

Sebelumnya, Wakil Sekretaris Jenderal Partai Golkar Tantowi Yahya mengatakan, partainya membuka peluang untuk meninggalkan koalisi yang dibangun oleh Partai Gerindra jika pasangan yang mereka usung, Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, kalah dalam Pemilu Presiden 9 Juli 2014. Dia mengatakan, Partai Golkar bisa saja masuk dalam pemerintahan dengan masuk ke koalisi yang dipimpin Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan mendukung pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla di DPR.

Baca juga: Golkar Buka Peluang Dukung Jokowi-JK jika Prabowo-Hatta Kalah

Baca tentang
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X