Kunci Sukses PKB pada Sosok Gus Dur, Bukan Bos Lion Air

Kompas.com - 10/04/2014, 13:53 WIB
Foto KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur)yang dipasang di salah atribut kampanye milik PKB Jember, Jawa Timur, Kamis (16/1/2014) KOMPAS.com/ Ahmad WinarnoFoto KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur)yang dipasang di salah atribut kampanye milik PKB Jember, Jawa Timur, Kamis (16/1/2014)
|
EditorLaksono Hari Wiwoho


JAKARTA, KOMPAS.com -- Pengamat politik dari Universitas Brawijaya Malang, Faza Dhora Nailufar, mengatakan bahwa keberadaan bos Lion Air, Rusdi Kirana, tidak berdampak signifikan terhadap suara Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dalam Pemilu Legislatif 2014. Ia berpendapat, naiknya suara PKB karena kembalinya suara PKB yang menyeberang ke partai lain pada pemilu lalu.

"Enggak signifikan karena massa PKB di grass root enggak ada yang tahu sosok Rusdi," katanya saat dihubungi dari Jakarta, Kamis (10/4/2014).

Faza menilai kekuatan dana yang dimiliki oleh Rusdi tidak terlalu berpengaruh, termasuk bila dikaitkan dengan politik uang, alat peraga kampanye, dan iklan politik. Terkait politik uang, ia mengatakan, politik tidak akan terlalu besar mengubah preferensi orang dalam memilih.

"Hanya sekitar 15 persen pemilih yang mau mengubah pilihannya setelah diberi money politics," ujar Kepala Laboratorium Ilmu Politik dan Rekayasa Kebijakan FISIP Unbraw itu.

Kunci perolehan suara PKB, kata Faza, ada pada sosok Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang erat dengan PKB. Massa PKB dinilai sudah telanjur memahami bahwa PKB adalah Gus Dur dan Gus Dur adalah PKB.

"Jadi walaupun kapan hari ahli waris Gus Dur sempat mengampanyekan bahwa Gus Dur dikhianati oleh PKB, itu masih belum cukup signifikan untuk mengubah ingatan dan paham psikologis di tataran grass root bahwa Gus Dur adalah PKB," kata Ketua Litbang ISNU Jawa Timur itu.

Menurut Faza, Jawa Timur merupakan lumbung suara utama bagi partai pimpinan Muhaimin Iskandar itu. Daerah-daerah penyumbang suara PKB, kata dia, adalah daerah-daerah tapal kuda, mulai dari Madura, Jember, Situbondo, Bondowoso, Pasuruan, Probolinggo, Kabupaten Sidoarjo, hingga Gresik.

Dalam kesempatan terpisah, Sekretaris Jenderal PKB Imam Nahrawi juga berpendapat serupa. Ia mengatakan, kunci keberhasilan PKB terletak pada soliditas massa Nahdlatul Ulama dalam mendukung partainya. Selain itu, ia juga menyebutkan berfungsinya mesin politik PKB, yaitu para caleg dan tim suksesnya, termasuk mobilitas tokoh-tokoh PKB pusat dalam berkampanye.

Saat ditanya terkait peran Rusdi dalam mendongkrak suara, Imam mengatakan, korelasi kedua hal itu terlalu jauh. "Sangat jauh sekali," ujarnya.

Berdasarkan hasil hitung cepat Litbang Kompas dari data masuk sebesar 93 persen, PKB memperoleh 9,13 persen. Pada Pemilu 2009, PKB memperoleh 4,9 persen suara.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Sidang Kasus Kerumunan dan Tes Usap Rizieq Shihab Akan Digelar di PN Jakarta Timur

Sidang Kasus Kerumunan dan Tes Usap Rizieq Shihab Akan Digelar di PN Jakarta Timur

Nasional
Kritik Perpres soal Investasi Miras, Sekum Muhammadiyah: Pemerintah Mestinya Bina Moral Masyarakat

Kritik Perpres soal Investasi Miras, Sekum Muhammadiyah: Pemerintah Mestinya Bina Moral Masyarakat

Nasional
Amien Rais Minta Jokowi Batalkan Perpres soal Investasi Miras

Amien Rais Minta Jokowi Batalkan Perpres soal Investasi Miras

Nasional
Irjen Napoleon Sebut Tak Ada Fakta yang Buktikan Keterlibatannya dalam Kasus Djoko Tjandra

Irjen Napoleon Sebut Tak Ada Fakta yang Buktikan Keterlibatannya dalam Kasus Djoko Tjandra

Nasional
IDI Sarankan Cakupan Penerima Insentif Terkait Penanganan Covid-19 Diperluas

IDI Sarankan Cakupan Penerima Insentif Terkait Penanganan Covid-19 Diperluas

Nasional
KPU Siapkan Data Pemilih Pemilu 2019 dan Pilkada 2020 untuk Vaksinasi Covid-19

KPU Siapkan Data Pemilih Pemilu 2019 dan Pilkada 2020 untuk Vaksinasi Covid-19

Nasional
Lembaga Eijkman: Pendonor Plasma Konvalesen Tak Akan Alami Efek Samping

Lembaga Eijkman: Pendonor Plasma Konvalesen Tak Akan Alami Efek Samping

Nasional
Dirut PT PAL Budiman Saleh Segera Diadili Terkait Korupsi di PT DI

Dirut PT PAL Budiman Saleh Segera Diadili Terkait Korupsi di PT DI

Nasional
Soal Pandemi Covid-19 Dapat Jadi Endemik, IDI: Masih Hipotesis

Soal Pandemi Covid-19 Dapat Jadi Endemik, IDI: Masih Hipotesis

Nasional
Doni Monardo Ajak Penyintas Covid-19 Jadi Donor Plasma Konvalesen

Doni Monardo Ajak Penyintas Covid-19 Jadi Donor Plasma Konvalesen

Nasional
Besok, KPU dan Kemenkes Teken MoU Akses Data Pemilih untuk Vaksinasi Covid-19

Besok, KPU dan Kemenkes Teken MoU Akses Data Pemilih untuk Vaksinasi Covid-19

Nasional
Pihak Kepolisian Tak Hadir, Sidang Praperadilan Rizieq Shihab Kembali Ditunda

Pihak Kepolisian Tak Hadir, Sidang Praperadilan Rizieq Shihab Kembali Ditunda

Nasional
Vaksinasi Covid-19 di Lingkungan DPR Berjalan Tertib dan Sesuai Prokes

Vaksinasi Covid-19 di Lingkungan DPR Berjalan Tertib dan Sesuai Prokes

Nasional
IDI: Vaksinasi Cara Paling Etis Capai Herd Immunity

IDI: Vaksinasi Cara Paling Etis Capai Herd Immunity

Nasional
Demokrat Anggap Jhoni Allen Memanipulasi Sejarah Pendirian Partai

Demokrat Anggap Jhoni Allen Memanipulasi Sejarah Pendirian Partai

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X