Kompas.com - 27/11/2013, 03:50 WIB
|
EditorPalupi Annisa Auliani
JAKARTA, KOMPAS.com — Putusan Mahkamah Agung yang menyatakan tiga dokter bersalah melakukan malapraktik di Manado, Sulawesi Utara, mengundang sorotan beragam pihak. Tak terkecuali dari partai politik.

Vonis kasasi MA tersebut dijatuhkan kepada dokter Dewa Ayu Sasiary Prawan dan dua dokter lain. Partai Gerindra mengatakan, vonis ini memperlihatkan ada ketidakpastian hukum di Indonesia.

Pasalnya, dalam keputusan Pengadilan Negeri Manado, para dokter ini dinyatakan bebas murni. Demikian pula dalam pemeriksaan kode etik.

“Kami menyatakan keprihatinan yang sangat mendalam atas terjadinya ketidakjelasan sebuah pelaksanaan proses hukum kasus dr Dewa Ayu Sasiary Prawan dan kawan-kawan," kata Wakil Ketua Badan Komunikasi Partai Gerindra Hashim Djojohadikusumo, dalam pernyataan pers yang diterima Selasa (26/11/2013).

Hashim mengatakan, seharusnya pemerintah dan aparat hukum menjamin kepastian hukum di Indonesia, negara yang menyatakan menjunjung supremasi hukum. Politisi yang juga pengusaha ini mendukung upaya para dokter untuk memperjuangkan kebenaran dan keadilan penyelesaian kasus ini.

Namun, Hashim berharap agar upaya perjuangan itu tetap dilakukan para dokter tanpa meninggalkan prinsip profesionalitas dan etika kedokteran. Dia pun meminta instansi terkait mencari kemungkinan pengajuan peninjauan kembali (PK) atas putusan kasasi MA. "Sesuai permintaan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI),” kata Hashim.

Seperti diberitakan, dokter Ayu dan dokter Hendry Simanjuntak dijemput Tim Kejaksaan Negeri (Kejari) Manado dari tempat tugas mereka masing-masing, menyusul vonis kasasi atas perkara pada 2010 itu. Satu dokter lagi masih dicari keberadaannya.

Di Pengadilan Negeri Manado ketiga dokter divonis bebas. Namun, MA mengabulkan kasasi jaksa, menvonis ketiga dokter dengan 10 bulan penjara. Saat hendak dieksekusi pada 2012, ketiga dokter tidak diketahui keberadaannya.

Hampir setahun masuk dalam daftar pencarian orang, kini dua dokter tersebut ditangkap. Buntut dari penahanan dokter Ayu dan dokter Hendry, kecaman datang dari berbagai organisasi kedokteran yang dikomandoi Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

IDI pun menyerukan aksi solidaritas dokter kandungan untuk melakukan aksi mogok kerja pada Rabu (27/11/2013). Aksi ini merupakan protes atas kriminalisasi profesi dokter merujuk pada kasus dr Ayu.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.