Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pengungsi Bisa Capai 700.000 Orang

Kompas.com - 19/01/2013, 02:35 WIB

Geneva, Jumat - Serangan militer asing, yang dipelopori Perancis terhadap kelompok separatis sayap Al Qaeda di Mali utara, memicu pengungsian besar-besaran. Komisi Tinggi PBB untuk Urusan Pengungsi (UNHCR) mengantisipasi kemungkinan terjadi ledakan pengungsi hingga lebih dari 700.000 orang beberapa bulan ke depan.

Juru bicara UNHCR, Melissa Fleming, di Geneva, Jumat (18/1), mengatakan, organisasinya bersiap-siap menerima antara 300.000 pengungsi di dalam negeri Mali. Selain itu akan ada 407.000 orang mengungsi ke negara-negara tetangga.

Fleming mengatakan, pihaknya segera memperkuat tim di seluruh wilayah saat ribuan pengungsi Mali melarikan diri ke Mauritania, Burkina Faso, Niger, Aljazair, Guinea, dan Togo. UNHCR melaporkan, selama 2012, hampir 200.000 orang meninggalkan rumah mereka di Mali utara karena tekanan kelompok separatis untuk mengungsi ke selatan. Adapun yang menyeberang ke negara tetangga sebanyak 144.500 orang.

Dari Bamako, ibu kota Mali, muncul peringatan warga sipil dalam bahaya. Petugas bantuan mengatakan, mereka tidak dapat mencapai kota yang menjadi lokasi pertempuran militan dan pasukan Perancis. Satu kota di dekat Bamako dinyatakan siaga tinggi pada Jumat karena meningkatnya serangan kelompok separatis.

Organisasi Dokter Lintas Batas (MSF) telah berusaha mencapai kota Konna sejak Senin. Namun, semua ruas jalan menuju ke wilayah itu telah ditutup oleh militer Mali. Informasi itu disampaikan oleh Malik Allaouna, Direktur Operasi MSF, dari Perancis.

”Meskipun telah mengajukan permintaan berkali-kali, kami tetap ditolak untuk mengakses wilayah Konna. ”Padahal, ini penting untuk memungkinkan pengiriman bantuan medis dan kemanusiaan yang netral dan tidak memihak di daerah yang terkena konflik,” katanya.

Nasib Konna belum jelas setelah lebih dari seminggu serangan udara dari militer Perancis. Seorang pejabat militer Mali mengatakan, pasukan pemerintah telah menguasai kota. Pencapaian itu terjadi berkat bantuan atau intervensi militer Perancis.

”Kami telah merebut kendali penuh atas Konna setelah membuat kerugian besar pada musuh,” kata pihak militer dan dibenarkan penduduk setempat. Namun, klaim itu tidak dapat diverifikasi secara independen.

Sementara itu, Menteri Pertahanan Perancis Jean-Yves Le Drian mengatakan, zona Konna masih dalam kendali kaum militan. Wilayah itu tidak dapat dicapai oleh pemantau independen dan petugas bantuan.

Banamba

Lebih jauh ke selatan, pasukan tetap dalam kondisi siaga tinggi. Terutama di Banamba, kota yang berjarak 144 kilometer dari Bamako. Militer Perancis dan gabungan militer asing telah berada di kota itu setelah ada upaya militan untuk mengendalikan Banamba. Sekitar 100 tentara Mali dikerahkan ke kota itu.

Pasukan Perancis mendapat perlawanan sengit dari kelompok separatis. Satu pejabat Banamba mengatakan, mereka menerima laporan bahwa milisi bersenjata yang memiliki hubungan dekat dengan jaringan teroris Al Qaeda telah meninggalkan Diabaly menuju Banamba.

Utusan khusus PBB untuk Sahel, Romano Prodi, mengatakan serangan udara dan darat Perancis di Mali adalah upaya untuk menghentikan perjuangan militan membangun ”daerah yang aman di jantung Afrika”.

Pada hari Kamis, Perancis mengirim lebih banyak tentara lagi ke Mali. Jumlah tentara yang sebelumnya 750 orang menjadi 1.400 orang, dan kemungkinan bisa mencapai 2.500 orang. Dari Nigeria, gelombang pertama 100 prajurit dikirim untuk membantu Mali. (AP/AFP/REUTERS/CAL)

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com