Tumpeng, Tradisi Penuh Misteri

Kompas.com - 12/11/2009, 13:37 WIB

Banyak orang pernah melihat dan menikmati tumpeng. Namun, berapa orang yang tahu berapa banyak jenis tumpeng yang dijadikan tradisi di masyarakat? Jika dikerucutkan lagi, berapa gelintir orang yang tahu makna di balik tumpeng yang mewarnai hampir setiap acara?

Parade Tumpeng yang diadakan di Grha Sabha Pramana Universitas Gadjah Mada, Oktober lalu, menampilkan beragam tumpeng, seperti tumpeng blawon, tumpeng dlupak, tumpeng kapuranto, tumpeng kendhit, tumpeng megana, dan tumpeng punar.

Ada juga tumpeng robyong, tumpeng ropoh, tumpeng rasulan, tumpeng mustaka, tumpeng pangkur, tumpeng ponco warno, tumpeng among-among, tumpeng adhem-adheman, tumpeng alus, dan tumpeng modifikasi.

Itu baru 16 tumpeng. Itu pun hanya tumpeng yang ada di masyarakat Jawa. Padahal, menurut Agnes Murdiyati, Kepala Pusat Kajian Makanan Tradisional (PKMT) UGM, di samping 16 jenis tumpeng itu, banyak tumpeng lain di Jawa. Ditambah tumpeng dari luar Jawa, jumlahnya lebih banyak lagi.


Tumpeng, dengan penyusun utama nasi dibentuk kerucut, merupakan komponen makanan pengiring tradisi. Dalam masyarakat Jawa, tumpeng ada dalam banyak tradisi mulai seorang pribadi ada dalam kandungan, lahiran, merayakan hidup dengan selamatan, hingga kematiannya.

Meskipun kini tradisi tumpeng mulai tergeser nasi kardus, banyak yang tetap membuat tumpeng. Tumpeng dipercaya bisa mendatangkan keberuntungan, kesehatan, dan keselamatan.

Dari semua tumpeng, tumpeng megana alias bancakan calo paling terkenal. Tumpeng terdiri atas nasi putih, rebusan kacang panjang, kangkung, tauge, telur rebus, dan bumbu megana ini dipakai dalam hampir semua hajatan.

Tumpeng lain yang juga terkenal adalah tumpeng rasulan. Nasinya dibumbu gurih, ditambah ayam ingkung bumbu areh, lapapan, rambak, dan kedelai hitam goreng. Tumpeng rasulan dibuat untuk peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Isi tumpeng ini banyak diadopsi menjadi "sega gurih" yang banyak dijual saat Sekaten.

Ada lagi tumpeng pungkur yang dibuat jika ada orang meninggal. Uniknya, tumpeng nasi dibelah dua dan ditegakkan saling membelakangi. "Itu ada penjelasannya agar yang meninggal tidak mengingat-ingat lagi hal duniawi," ujar Murdijati Gardjito, peneliti di PKMT UGM, dalam diskusi tentang tumpeng.

Untuk tolak bala memperingati tujuh bulan kehamilan, ada tumpeng ponco warno. Dinamakan begitu karena nasi tumpeng dibuat dalam lima warna, yakni merah, biru, kuning, hijau, dan putih. Nasinya dilengkapi, antara lain, irisan ubi jalar, empon-empon, dan bunga setaman.

Kacang panjang, kangkung, dan tauge merupakan komponen wajib dalam setiap tumpeng. "Kacang panjang mesti ada dengan harapan si pemangku hajat diberi umur panjang. Kangkung menandakan harapan manusia akan selalu berkembang. Tauge bermakna ketulusan hati dan manusia yang terus tumbuh dan beranak cucu," ujar Murdijati.

Menurut Agnes, ukuran tumpeng sebenarnya tak pernah terdefinisikan jelas. Namun, biasanya diameter tengah tumpeng separuh dari tinggi. "Literatur tentang tumpeng masih jarang. Yang kami ketahui tentang tumpeng pun bisa jadi ada yang salah. Misalnya, pengertian tumpeng dan maknanya," ujar Agnes.

Halaman Berikutnya
Halaman:


Editor

Close Ads X