Pemasok Sabu dan Ekstasi Tak Tersentuh, Ini Alasan BNN - Kompas.com

Pemasok Sabu dan Ekstasi Tak Tersentuh, Ini Alasan BNN

Robertus Belarminus
Kompas.com - 14/11/2017, 18:06 WIB
Kabag Humas BNN Sulistiandriatmoko di Gedung BNN Cawang, Jakarta Timur, Senin (27/3/2017).KOMPAS.com/ANDI MUTTYA KETENG Kabag Humas BNN Sulistiandriatmoko di Gedung BNN Cawang, Jakarta Timur, Senin (27/3/2017).

JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Narkotika Nasional ( BNN) mengungkapkan, ada tiga jenis narkoba yang paling sering beredar di Indonesia yakni sabu, ekstasi, dan ganja.

Namun, hanya ganja saja yang pemasoknya berasal dari tanah air, sementara sabu dan ekstasi mayoritas impor alias dipasok secara ilegal dari negara luar.

Ketika para pengedar yang masuk ke Indonesia tertangkap, BNN tidak bisa menyentuh produsen atau pemasoknya yang berada di negera asing. Hal tersebut karena faktor yuridis.

"Kita enggak bisa menyentuh itu karena yuridiksinya ada di negara lain," kata Kepala Bagian Humas Kombes Sulistiandriatmoko, saat ditemui usai acara diskusi bertema "Stop Narkoba Save Generasi Muda", di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (14/11/2017).

(Baca juga : Anggaran Terbatas, BNN Mengaku Sudah Berdarah-darah Cegah Narkoba)

Narkoba, menurutnya, kerap dipasok ke Indonesia melalui Malaysia.

Biasanya, BNN akan memberikan informasi ke penegak hukum di sana untuk menindaklajuti temuan masuknya narkoba ke Tanah Air.

Sejauh mana pihak Malaysia menindaklanjuti laporan itu, yuridiksi dan kewenangannya, menurut Sulis, ada di penegak hukum negeri jiran.

"Kalau kita mau sih kita bilang hentikan di sana dong, jangan masuk ke Indonesia. Tapi kan itu enggak bisa, kenyataanya keluar terus kok, masuk ke Indonesia. Itu faktanya demikian," ujar Sulis.

 

Modus Berubah

Seiring dengan penegakan hukum yang dilakukan terhadap pengedar yang membawa masuk barang haram itu ke Indonesia, modus operandinya pun berubah-ubah.

Kini untuk menghindari hukum Indonesia, Sulis mengatakan, para pengedar menggunakan modus ship to ship dalam memasok narkoba sehingga transaksinya terjadi di tengah laut.

"BNN tidak punyai kapal jadi harus bekerja sama dengan (TNI) Angkatan Laut, dengan Polair, dengan Bakamla, untuk bagaimana kapal-kapal itu, yang khusus memang berpatroli, lebih bisa diarahkan pada spot-spot yang rawan itu," ujar Sulis.

Untuk mencegah masuknya narkoba dari jalur darat, pihaknya bekerja sama dengan TNI yang menjaga perbatasan negara. Sementara untuk mengantisipasi pemasokan narkoba melalui jalur udara, pihaknya bekerja sama dengan Bea Cukai.

"Jalur udara Bea Cukai harus dikedepankan karena yang bersentuhan pertama kali dengan barang kargo masuk itu adalah pemeriksaan dari Bea Cukai," ujar Sulis.

Cukup banyak titik rawan yang menjadi jalur masuk ilegal barang haram tersebut ke Tanah Air. Dia menyebut jumlahnya bisa mencapai ribuan.

Oleh sebab itu, BNN bekerja sama dengan instansi tadi agar partroli yang mereka lakukan dapat diarahkan ke titik rawan penyelundupan narkoba ke Tanah Air.

"BNN punya data di mana rawan penyelundupan. Titik-titik mana yang rawan. Diharapkan dengan mengarahkan mereka berpatroli di titik rawan itu bisa mencegah atau mengurangi atau meredam pintu-pintu masuk," ujar Sulis.

Kompas TV 11 orang ditangkap di Jayapura karena memiliki ganja seberat 3 Kilogram

PenulisRobertus Belarminus
EditorDiamanty Meiliana
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM