Langkah "Kuda" Agus Yudhoyono - Kompas.com

Langkah "Kuda" Agus Yudhoyono

Aiman Witjaksono
Kompas.com - 24/04/2017, 18:59 WIB
KOMPAS.com/Kristian Erdianto Agus Harimurti Yudhoyono usai mencoblos di TPS 6 RT 3/RW 3, Jalan Cibeber I, Kelurahan Rawa Barat, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (19/4/2017).

Lulusan terbaik Akademi Militer, lulusan terbaik Webster University, dan meraih nilai sempurna di sejumlah sekolah bergengsi, termasuk predikat sangat memuaskan di salah satu kampus terbaik dunia, Harvard University, Amerika Serikat. 

Pertama-tama, saya ingin bertanya kepada siapa saja yang membaca tulisan saya ini, akankah yang bersangkutan akan mulus melaju menjadi jenderal?

Meskipun tak bisa mendengar Anda, saya yakin, sebagian besar jawaban Anda, iya!

Sangat linier apa yang dibayangkan kita semua bahwa banyak orang yang ingin memiliki prestasi dan karier yang cemerlang seperti dirinya.

Eh, siapa yang sedang kita bicarakan ini? Ah, kura-kura dalam perahu, alias pura-pura tidak tahu. Jelas pula saya tuliskan dalam judul di atas.

Saya berkesempatan mewawancarainya, pertama kali, eksklusif, pasca-dirinya "menghilang" setelah pelaksanaan Pilkada DKI Jakarta putaran pertama. Iya, memang Agus Harimurti Yudhoyono sempat tak tampak setelah tumbang pada putaran pertama Pilkada DKI Jakarta 2017.

Saya mendapat kabar kesediaannya mau diwawancara pun agak mepet, alias dua hari sebelum proses editing deadline program AIMAN di KompasTV harus dijalankan. Setelah menghitung-hitung kemungkinan proses post-pro editing-nya (proses penyuntingan gambar televisi),  saya dan tim AIMAN pun langsung terbang ke Kepulauan Riau, tempat dia bersedia diwawancara.

Uban pasca-menjadi tentara

Sebelumnya, sama belum pernah saya mewawancari sosok Agus Yudhoyono. Ini pertamakalinya.

Saya bertemu dengannya Bandara Hang Nadim, Batam. Kesan saya pada sapaan pertama itu, saya melihat sosok Agus Yudhoyono yang ramah dan cenderung kalem alias tak terlalu banyak bicara.

Perjalanan dilanjutkan menuju Pulau Bintan, Kepulauan Riau. Saya kebetulan sudah janji dengan tim Agus Yudhoyono untuk melangsungkan wawancara di kapal yang akan menyeberangkan kami ke Pulau Bintan dari Pulau Batam. 

Sebelum naik ke kapal, saya sempat berbincang ringan dengannya.

"Mas Agus, jadi bawa tas sendiri?" tanya saya melihat Agus yang membawa tasnya.

Ia pun tertawa. Dia mengaku sudah terbiasa membawa tasnya sejak menjadi tentara.

Saya kemudian memegang tasnya.

"Wah, berat lho, Mas," komentar saya spontan.

"Sejak jadi tentara, saya biasa membawa tas dengan beban yang tidak ringan, berisi senjata dan amunisi," jawab Agus sambil tersenyum.

"Wah, ini bawa senjata juga?" tanya saya usil.

"Tidak-lah, ha-ha-ha."

Akhirnya saya melihat Agus Yudhoyono tertawa lepas.

Kami pun naik ke kapal bersama dengan tim. Menggunakan kapal cepat, kami menyeberang Batam-Bintan, sekitar 45 menit.

Tibalah saat saya mewawancarainya, tepat di perairan Selat Malaka. Beberapa pertanyaan saya ajukan, di antaranya kenapa "menghilang", apa kegiatan pasca-pilkada Jakarta, dan ada beberapa pertanyaan lain.

Di sela-sela wawancara itu, saya merasakan tidak ada perubahan dari gaya bicaranya, dari saat dia menjadi tentara, dan sesudah dia "pensiun". Saya pun mengungkapkan apa yang saya rasakan itu.

Agus tertawa ketika mendengarnya. Sejumlah petinggi Partai Demokrat yang berada di sebelahnya, yakni Sekjen Partai Demokrat Hinca Panjaitan dan Wasekjen yang juga juru bicara, Rachland Nashidik, serta fungsionaris Partai Demorat lainnya, ikut tertawa lepas.

"Eh, tapi ada deh yang berubah!" kata saya spontan.

"Dulu, masih jadi tentara, rambutnya hitam. Tapi justru lepas dari tentara, rambutnya banyak yang putih," seloroh saya ringan.

"Makin tua makin berisi," jawabnya cepat, sambil bercanda.

Wawancara pun dilanjutkan. Tentu saya tidak bisa menjelaskan di tulisan ini, satu per satu perbincangan kami. Tetapi semua itu ada dalam tayangan AIMAN yang tayang setiap Senin, pukul 20.00 di KompasTV.

Kegiatan pada siang itu berlalu. Sejumlah warga ditemui Agus di Batam dan Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Malamnya, kami melanjutkan wawancara. Lokasinya di Akau Potong Lembu. Akau artinya Pasar Malam. Potong Lembu merujuk pada nama tempat di Tanjung Pinang yang merupakan daerah pecinan.

Air mata Agus

Di sini, saya kembali mewawancarai Agus Yudhoyono. Sengaja saya pilih tempat yang santai karena pertanyaannya yang akan saya ajukan agak serius. Soal air mata Agus Yudhoyono ketika mengundurkan diri dari TNI.

Saya awali pertanyaan saya soal ini dengan membacakan segala prestasi yang telah diraihnya, yang kebetulan, nyaris sama dengan sang ayah, Susilo Bambang Yudhoyono.

"Mas Agus saya bacakan prestasi mas Agus. Lulusan terbaik Akademi Militer Adhi Makayasa,   sama seperti pak SBY, punya karier militer cemerlang di kesatuan, lulus dari institusi pendidikan militer dan non-militer top di luar negeri, bahkan pernah berkuliah di Harvard University, salah satu kampus terbaik di dunia. Karier cemerlang di militer, jabatan jenderal terbuka luas," kata saya membuka wawancara.

Seraya tersenyum, Agus mendegarkan semua pernyataan saya. Sampai saya tanyakan perihal pengunduran dirinya sebagai tentara.

"Anda sempat menangis saat mengumumkan pengunduran diri. Hati Anda berkata lain, Mas Agus?”

Agus terdiam.

Apa jawaban Agus? Saya akan jabarkan pada program AIMAN yang tayang pada Senin (24/4/2017) malam ini, pukul 20.00 di KompasTV.

Kenapa saya simpan jawaban ini? Karena dari pertanyaan itu, ada pertanyaan lanjutan saya, yakni " Agus Yudhoyono Capres 2019 atau Capres 2024?" 

Lalu pertanyaan selanjutnya, apakah mundurnya Agus Yudhoyono merupakan langkah "kuda" untuk melaju lebih cepat menuju Istana Negara?

Saya yakin, tidak ada satu orang pun yang bisa menjawab, tak terkecuali Agus Yudhoyono.

Selamat menyaksikan AIMAN, Senin, pukul 8 malam ini di KompasTV.

Salam.

Kompas TV Pasangan Agus-Sylvi memang telah tersingkir di Pilkada Jakarta putaran pertama. Namun kiprah putra sulung SBY, Agus Yudhoyono yang meraih 17% suara di Pilkada Jakarta dinilai menjadi awal perjalanan karier politik Agus di kancah politik nasional.

EditorAna Shofiana Syatiri
Komentar

Close Ads X