"Angsa Emas" Ridwan Kamil - Kompas.com

"Angsa Emas" Ridwan Kamil

Algooth Putranto
Kompas.com - 29/03/2017, 16:30 WIB
KOMPAS. com/DENDI RAMDHANI Wali Kota Bandung Ridwan Kamil saat ditemui di Balai Kota Bandung, Jalan Wastukancana, Kamis (23/3/2017)

KOMPAS.com - Pilkada serentak 2018 sudah di depan mata. Pembuka kejutan langsung dimunculkan Partai Nasional Demokrat ( Nasdem) yang menyatakan dukungan kepada Walikota Bandung Ridwan Kamil untuk melangkah ke Pemilihan Gubernur Jawa Barat.

Publik Kota Kembang kaget mengingat Walikota ganteng mereka, Ridwan Kamil, biasa disapa Kang Emil pindah ke lain hati. Kita masih ingat pada Pilkada Kota Bandung 2013, Kang Emil adalah profesional yang digaet PKS dan Gerindra.

Kemunculan dan keberhasilan memenangkan Kang Emil menyentak publik mengingat Bandung saat itu adalah kantong Partai Demokrat. Kesuksesan, yang sebetulnya tak terlalu mengejutkan mengingat PKS adalah jawara Pilgub 2008 dan berhasil diulang pada Pilgub 2013. 

Pilgub 2008 adalah sukses besar PKS di Jawa Barat. Hanya menggandeng PAN, PKS berhasil mengantarkan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf menundukkan Danny Setiawan-Iwan Sulandjana ( Golkar, Demokrat) maupun pasangan Agum Gumelar - Nu'man Abdul Hakim yang didukung koalisi warna warni ( PDI-P, PPP, PKB, PKPB, PBB, PBR dan PDS).

Mesin politik PKS yang efektif kembali dibuktikan saat memenangi Pilgub 2013 ketika hanya menggandeng PPP dan Hanura untuk mendukung petahana Ahmad Heryawan-Deddy Mizwar yang bertarung melawan koalisi besar Dede Yusuf- Lex Laksamana (Demokrat, PAN, Gerindra, PKB).

Dua partai raksasa lain, Golkar dan PDI Perjuangan memilih untuk bertarung sendiri dan kembali gigit jari. Saat itu Golkar menyorongkan Irianto MS Syafiuddin - Tatang Farhanul sementara PDI Perjuangan mencoba pasangan tak populer Rieke Diah Pitaloka - Teten Masduki.

Kesuksesan Pilgub Jabar terhitung luar biasa mengingat saat itu PKS sedang dirundung masalah yang tidak ringan, ketika Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq menjadi pesakitan dalam kasus impor daging sapi dan menyebabkan hasil survei dari sejumlah lembaga menempatkan PKS terpuruk.

Patut dipuji tentu saja kiprah Presiden baru PKS Anis Matta yang langsung turun menemui kadernya. Hasilnya, kader-kader PKS total berjuang memenangkan pasangan yang diusung partainya. Hasilnya tak hanya Jabar yang direbut, Pilgub Sumatra Utara pun menjadi milik PKS.

Padahal saat itu, menjelang hari pemilihan Gubernur Ahmad Heryawan bahkan digoyang dugaan korupsi lewat pembobolan kredit maupun kasus penggelembungan pembangunan kantor Bank Jabar Banten senilai ratusan miliar. Meski perolehan suara anjlok, posisi Jabar 1 masih dalam genggaman.

Namun tahun ini kondisi terlihat berbeda, PKS mendapat tantangan yang tak ringan. Kang Emil yang sukses mencuri hati masyarakat Bandung, bahkan Indonesia secara tegas sudah menyatakan tak kunjung mendapat kepastian dukungan dari PKS untuk menuju kursi Jabar 1.

Ketidakpastian PKS dalam dukungan politis kepada Kang Emil yang terlihat kebelet menuju panggung politik yang lebih tinggi adalah sesuatu yang mudah dipahami mengingat Gubernur Jabar Ahmad Heryawan dalam beberapa kali kesempatan mengungkapkan harapan agar PKS mengusung sang istri, Netty Prasetiyani maju sebagai cagub.

Sementara pada sisi lain, wajar jika PKS tidak bisa terburu memberikan tiket mengingat untuk di Jawa Barat, syarat calon yang diusung parpol yakni 20 persen jumlah kursi di DPRD Jabar atau 25 persen perolehan suara parpol atau gabungan parpol. 20 persen itu berarti 20 kursi.

Artinya, ketika tiket diserahkan kepada Kang Emil, PKS yang hanya bermodal 12 kursi sudah harus memiliki kepastian partai mana yang akan diajak berkoalisi. Ketika PKS tak kunjung memberikan kepastian, bisa kita simpulkan Gerindra sebagai calon kuat mitra koalisi dengan modal 11 kursi pun sebetulnya belum nyaman mengusung Kang Emil.

Koalisi PDI- Golkar?

Sampai saat ini, tak bisa dibantah kecerewetan dan kecerdasan Kang Emil dalam berkomunikasi melalui bersosial media—yang diklaim dikelola secara langsung--berperan besar membentuk citra positif bagi PKS dan Gerindra.

Tahun lalu aksi Kang Emil bahkan diganjar penghargaan Social Award 2016 kategori Kepala daerah yang mendapatkan sentimen positif dari dua lembaga riset independen Media Wave dan Survey One yang melakukan survei di lima kota besar: Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan dan Makassar.

Kang Emil memang pemimpin daerah yang sociable. Lewat sosial media, Kang Emil kerap mengunggah informasi program, laporan kerja, pengumuman, kegiatan pribadi bahkan tak jarang banyolan khas Kang Emil.

Popularitas Ridwan Kamil bisa ditilik dari akun Instagram-nya yang sampai 25 Maret 2017 sudah memiliki 5,8 juta followers, sementara akun Twitter-nya mencapai 2,12 juta sedangkan Facebook-nya sudah di-like oleh 2,8 juta orang.

Tak heran, lepasnya Ridwan Emil dari genggaman PKS dan Gerindra serupa folklore angsa emas yang disia-siakan pemiliknya. Tak baik-baik dirawat dan diperhatikan akhirnya hilang aset penting bagi PKS dan Gerindra

Padahal semua tahu, kedua partai tersebut tentu memiliki target jangka panjang merebut Jawa Barat yang vital bagi Pemilu 2019. Sebagai contoh pada Pemilu 2014, jumlah pemilih yang mencoblos di Jabar mencapai sekitar 23,7 juta atau 71,3 persen dari total 33,3 juta suara yang masuk dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) di provinsi itu. Angka pemilih ini terbesar di Indonesia, yang artinya sangat penting dalam Pilpres.

Menariknya, lepasnya Ridwan Kamil dari dekapan PKS dan Gerindra membuat peta persaingan menuju Jabar 1 semakin seru. Setidaknya sampai saat ini sudah ada Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi, petahana Wakil Gubernur Jabar Deddy Mizwar dan tentu saja Netty Prasetiyani (istri Gubernur Jabar Ahmad Heryawan).

Dedi Mulyadi adalah satu-satunya calon gubernur dengan modal paling kuat. Sebagai Ketua DPP Golkar Jabar, Dedi telah memiliki modal 17 kursi. Cukup dengan menggandeng Ridwan Kamil yang didukung Nasdem yang memiliki lima kursi, pasangan Dedi-Ridwan sudah bisa maju Pilgub.

Calon gubernur berikutnya adalah Netty Prasetiyani, istri petahana Gubernur dalam perhitungan saya adalah sebuah enigma bagi PKS yang tak malu-malu menjual isu agama dan pemimpin perempuan, meskipun dalam politik lokal Jabar ada juga contoh calon perempuan yang didukung PKS dan menang yaitu Bupati Karawang, Cellica Nurrachadiana.

Sedangkan calon terakhir Deddy Mizwar hingga saat ini serupa perannya sebagai Naga Bonar: sosok yang tak diunggulkan berkat kinerjanya sebagai Wakil Gubernur yang tak semengkilap dibandingkan kegesitannya mencari tambahan rejeki sebagai bintang iklan.

Dengan modal keartisannya, Deddy serupa Dede Yusuf dalam Pilgub 2008, bisa menjadi salah satu figur yang bisa dipilih untuk berjuang mencari peruntungan bagi sejumlah partai di luar Golkar, PKS dan Nasdem yang masih percaya diri menghadapi Ridwan Kamil.

Di luar sejumlah figur yang mulai terlihat, tak bisa diabaikan adalah partai pemilik kursi terbesar di Jabar, PDI Perjuangan. Dengan modal 20 kursi, ironisnya PDI mengulang kisah di Pilkada Jakarta. Punya modal kuat namun minus calon kuat.

Namun, jika kita mau menengok ke belakang, satu orang yang berhasil membuat Kang Emil batal bertarung ke Pilkada DKI adalah Presiden Joko Widodo. Fakta bahwa tiket PDI Perjuangan ada di tangan Megawati Sukarnoputri, namun dalam kasus Pilkada DKI, akhirnya tiket itu berhasil didapat Ahok yang sempat bersitegang dengan kaum Banteng.

Dengan skema ideal tiket PDI akhirnya ada di tangan Ridwan Kamil pertarungan akan menarik ketika Partai Golkar sebagai mitra koalisi PDI memilih untuk bertarung sendirian. Sesuatu yang rasanya kurang taktis jika mengingat basis Golkar di Jawa Barat tak sebesar dan semerata PDI Perjuangan. Apalagi figur Dedi, dilihat dari sisi mana pun masih kalah populer dibanding Ridwan Kamil. Koalisi? Mestinya begitu jika ingin menang.

EditorBambang Priyo Jatmiko
Komentar

Close Ads X