Sabtu, 20 Desember 2014

News / Nasional

Penangkapan Teroris Mendadak Marak, Pengalihan Isu?

Jumat, 10 Mei 2013 | 15:58 WIB

Terkait

JAKARTA, KOMPAS.com — Beberapa orang berpandangan, penangkapan terduga teroris dalam jumlah banyak di sejumlah tempat adalah upaya pengalihan isu tertentu. Mulai dari pengalihan isu kenaikan bahan bakar minyak (BBM) sampai isu perbudakan buruh di Tangerang yang diduga melibatkan oknum kepolisian.

Pengamat intelijen yang juga pengamat terorisme Wawan Purwanto mengatakan, dia tak melihat adanya upaya pengalihan isu dari serangkaian penangkapan terduga teroris beberapa waktu lalu.

"Enggak ada itu (pengalihan isu). Mereka (teroris) kan sudah diuber sejak tiga bulan lalu di Poso. Mereka kemudian memecahkan diri, bercerai-berai. Mereka melakukan konsolidasi untuk melakukan serangan," kata Wawan saat dihubungi, Jumat (10/5/2013).

Sebanyak 24 terduga teroris yang ditangkap di sejumlah lokasi, menurut Wawan, hanya pelaksana di lapangan. Detasemen berlambang burung hantu itu masih mempunyai pekerjaan rumah untuk menangkap otak penggerak terduga teroris ini. Menurut Wawan, terduga teroris ini merupakan korban cuci otak.

"Ini pekerjaan rumah jangka panjang, bukan cuma tugas Densus. Mereka (teroris) adalah korban cuci otak," katanya.

Sementara itu, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal (Pol) Boy Rafli Amar membantah adanya upaya pengalihan isu tersebut. Menurut dia, momentum penangkapan lebih dari 20 terduga teroris belakangan adalah murni upaya pemberantasan terorisme.

"Yang bisa mengalihkan isu, media. Kita enggak punya media. Jadi, media mau ngangkat berita apa, itu kan media yang atur. Mau angkat isu perbudakan, korupsi, terorisme, terserah media. Yang penting kepolisian menyampaikan ke media apa yang diperoleh," kata Boy.

Dia mengatakan, para terduga teroris ini telah diikuti tim pengawas Densus sejak lama. Untuk mencegah aksi teror, mereka pun akhirnya harus segera ditangkap. Adapun penangkapan di lokasi lainnya adalah upaya mencegah mereka melarikan diri dan melakukan aksi teror.

"Kalau nanti ada jeda waktu terlalu lama tambah susah, tambah hilang. Peristiwa di Margaasih (Bandung) sudah muncul di media.  Padahal mereka lagi diamati tim di lapangan. Kalau mereka nonton TV, nanti langsung sembunyi, langsung kabur," terang Boy.

Diberitakan sebelumnya, Densus 88 melakukan penangkapan di sejumlah lokasi sejak Selasa (7/5/2013). Lokasi tersebut antara lain Jakarta, Tangerang Selatan, Bandung, Kendal, dan Kebumen. Total terduga teroris yang diringkus sebanyak 20 orang, dan 7 orang di antaranya tewas. Penangkapan kemudian berlanjut di Lampung sebanyak empat terduga teroris.

Dari serangkaian penangkapan itu, Densus 88 juga menyita sejumlah senjata api, bom rakitan, hingga uang tunai.

Pimpinan kelompok teror ini adalah Abu Roban alias Untung alias Bambang Nangka. Abu Roban juga disebut terlibat perampokan di BRI Batang, Jawa Tengah. Hasil perampokan diduga untuk mendanai aksi teror. Abu Roban diketahui terkait DPO teroris Poso yang saat ini paling dicari Densus 88, yakni Santoso. Abu Roban tewas ditembak dalam penangkapan di Batang, Jawa Tengah, Rabu (8/5/2013).


Penulis: Dian Maharani
Editor : Hindra