Rabu, 23 April 2014

News / Nasional

Apakah Anda Sudah Siap?

Rabu, 18 Juli 2012 | 23:54 WIB

Tjahja Gunawan Diredja

KOMPAS.com — Pertanyaan bernada provokatif tersebut mengawali presentasi yang disampaikan Keith Lin, pengajar Nanyang Technological University, Singapura, pada pelatihan tentang media sosial bagi sejumlah wartawan Indonesia di Singapura, 4-6 Juli 2012.

Dia lantas membeberkan data tentang pertumbuhan serta penetrasi penggunaan jejaring media sosial di Asia, terutama Indonesia.

Mengutip data yang yang dirilis ComScore, Februari 2012, Keith Lin menjelaskan, 33 persen pengguna jejaring sosial di dunia berada di kawasan Asia Pasifik, sedangkan di Eropa 30 persen, Amerika Utara 18 persen, dan Amerika Latin 10 persen. Sisanya di kawasan Timur Tengah dan Afrika yang hanya 9 persen.

Sepanjang April-Juni 2012, sebanyak 43,8 juta penduduk Indonesia menggunakan Facebook. Hal ini menempatkan Indonesia pada urutan keempat di dunia dalam penggunaan Facebook setelah Amerika, Brasil, dan India. Dalam penggunaan Twitter, Indonesia masuk dalam lima besar.

Pesatnya perkembangan media sosial saat ini karena semua orang seperti bisa memiliki medianya sendiri, bahkan menumpahkan isi hati serta kekecewaan melalui media sosial.

Kini, hampir semua orang bisa mengakses media sosial melalui jaringan internet, tanpa biaya besar, tanpa alat yang mahal, serta bisa dilakukan sendiri, di mana saja dan kapan saja.

Pertanyaannya kemudian, apakah media sosial sudah digunakan untuk kegiatan positif dan produktif? Jawabannya, belum semua pengguna akun jejaring sosial menggunakan secara baik. Bahkan, jejaring sosial kerap digunakan sebagian orang atau kelompok tertentu untuk mencerca dan mencemarkan nama baik orang lain dan dipakai sebagai alat kampanye hitam untuk mendiskreditkan lawan politik dalam pemilihan kepala daerah.

Salah satu ”korban” jejaring sosial adalah Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring. Dia mengaku sering mendapat cercaan dari para pengguna jejaring sosial.

”Saya sering di-bully. Sampai ada yang menulis ’Heh Tift Sembiring, apa aja kerja elo, makan gaji buta aja’,” kata Tifatul ketika berbicara dalam seminar ”Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Indonesia 2012” di Institut Teknologi Bandung, sebagaimana dikutip Republika Online, Rabu (25/4).

Menanggapi cercaan itu, Tifatul hanya mengatakan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak pernah memarahinya seperti itu. Tifatul mengaku ikut bergaul dalam jejaring sosial karena didorong rasa ingin tahu.

Sebenarnya tindak pidana pencemaran nama baik melalui media internet sudah diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Pasal 310 Ayat (1) juncto Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Tak punya pekerjaan

Penggunaan situs jejaring sosial di Indonesia mengalami tantangan dan masih banyak yang menggunakannya untuk hal-hal kurang produktif. Padahal, situs jejaring tersebut bisa digunakan untuk hal-hal bermanfaat.

”Biasanya orang yang sering nge-tweet itu adalah orang yang tidak punya pekerjaan, kurang kerjaan. Lebih sering update yang tidak produktif,” kata pendiri portal berita Detikcom, Budiono Darsono, dalam diskusi ”Media Literasi pada Era Digital, Kontradiksi antara Jurnalisme dan Sosial Media” yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), sebagaimana dikutip Kompas.com, Kamis (12/7).

Kehadiran media sosial juga menjadi tantangan bagi media mainstream atau media konvensional, seperti koran, televisi, dan radio. Informasi media sosial biasanya lebih cepat dibandingkan dengan media mainstream. Sering kali di lingkungan industri media massa terungkap wacana sengit sekaligus pertanyaan bernada kekhawatiran, apakah media sosial akan mematikan media mainstream.

Dalam diskusi yang diselenggarakan AJI, CEO Kompas Gramedia Agung Adiprasetyo menjelaskan, tidak ada gunanya memperdebatkan apakah bisnis media cetak atau media mainstream lain akan mati dengan adanya media sosial. Kedua jenis media ini harus saling melengkapi dalam memberikan informasi kepada masyarakat.

Saat ini, masyarakat menginginkan informasi yang lebih dinamis dan interaktif serta ingin tahu lebih banyak daripada yang disediakan media mainstream.

Pengusaha dan pengelola media mainstream tidak bisa melawan arus terhadap kehadiran social media. Justru dengan begitu, mereka dituntut untuk lebih kreatif dalam menciptakan konten yang berkualitas.

Manfaatkan

Potensi jumlah pengguna yang besar di Twitter atau Facebook seharusnya bisa serius dimanfaatkan pengguna untuk membangun bisnis digital. Salah satu yang bisa dilakukan adalah memanfaatkan situs jejaring sosial untuk mendistribusikan segala konten atau informasi dari media yang sedang dibangun.

Adalah Herry Gunawan (44) yang segera menangkap peluang bisnis di industri online. Dia mendirikan perusahaan penyedia konten berbasis web, yakni PT Kreasi Mitramedia Utama. Brand korporat yang disiapkan adalah Presklar, yang saat ini memiliki Plasadana.com dan Vista.plasadana.com.

Sebagai produk web, Plasadana.com merupakan yang kali pertama lahir, yaitu Desember tahun lalu. Konten situs yang fokus pada inspirasi bisnis dan investasi itu kemudian diminati sebuah perusahaan asuransi. Perusahaan ini membeli konten Plasadana.com untuk kebutuhan blognya dan dihargai setiap berita.

”Kami juga bekerja sama dengan Yahoo Asia Tenggara untuk memenuhi konten Yahoo Indonesia. Pola kerja samanya adalah membentuk clearing house yang mirip newsroom. Kamilah newsroom itu,” papar Herry.

Sementara itu, konten yang dijual melalui nama merek Presklar di antaranya konten untuk kebutuhan web. ”Kami juga menjual jasa pengelolaan web, khususnya di bidang konten karena memang di sinilah kompetensi kami,” katanya.

Selain itu, pihaknya juga menerima jasa konten penerbitan cetak, misalnya dalam bentuk newsletter. Kemudian, pembuatan konten dalam format audiovisual, iklan, seperti media pada umumnya, serta kegiatan riset dan informasi.

Saat ini, Herry sedang menyiapkan Indonesia Risk Assessment, yakni penyajian informasi yang dikhususkan bagi pembaca tertentu, seperti investor yang ingin tahu lebih banyak tentang Indonesia, terutama risiko bisnis dan investasi.

”Kebetulan saya pernah bekerja di perusahaan konsultan asing dan melayani kebutuhan informasi atau riset untuk mereka, baik dari kalangan private equity fund maupun korporat besar. Pengalaman menerima permintaan dari mereka itulah yang akan saya pindahkan ke web,” ujar Herry.

Lalu, siapkah Anda?


Penulis: Tjahja Gunawan Diredja
Editor : Tjahja Gunawan Diredja