Senin, 20 Mei 2013
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Senin, 20 Mei 2013 | 02:30 WIB
Pemilu 2014
Golput Ical, Preseden Buruk terhadap Pencapresannya
Penulis : Sandro Gatra | Selasa, 17 Juli 2012 | 15:06 WIB
|
Share:
Golput Ical, Preseden Buruk terhadap PencapresannyaKOMPAS/ALIF ICHWANDeklarasi Capres - Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie didampingi istrinya Tatty Murniati (kanan) berdoa sebelum menyampaikan pidato politiknya dalam acara Deklarasi Calon Presiden dari Partai Golkar di Sentul International Convention Center, Sentul, Bogor (1/7/2012) lalu. Ical maju sebagai capres dari Partai Glkar berdasarkan keputusan Rapat Pimpinan Nasional ke-3 Partai Golkar beberapa waktu lalu.

JAKARTA, KOMPAS.com — Sikap Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie alias Ical yang tidak menggunakan hak pilihnya dalam Pilkada DKI Jakarta dinilai bakal menjadi preseden buruk bagi Pemilu Legislatif 2014, khususnya terkait pencalonannya sebagai presiden. Penilaian itu disampaikan Gun Gun Heryanto, pengamat politik dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah dan Universitas Paramadina, ketika dihubungi, Selasa (17/7/2012).

Bagaimana warga DKI mau memilih Alex, sementara Ical sendiri yang jelas-jelas punya hak pilih dan notabene Ketum Golkar tak memilih Alex-Nono. Perilaku Ical ini tidak etis.
-- Gun Gun Heryanto

Gun Gun mengatakan hal itu untuk menyikapi sikap Ical yang justru berlibur bersama keluarganya di Los Angeles, Amerika Serikat, ketika hari pemungutan suara tahap pertama pekan lalu. Ia menilai, sikap Ical tersebut merupakan sikap tidak elegan dan cenderung menzalimi kandidat yang diusung Partai Golkar, yakni Alex Noerdin-Nono Sampono. Ical seharusnya memberikan dukungan kepada kandidatnya.

"Bagaimana warga DKI mau memilih Alex, sementara Ical sendiri yang jelas-jelas punya hak pilih dan notabene Ketum Golkar tak memilih Alex-Nono. Perilaku Ical ini tidak etis. Bagaimanapun, ketua umum adalah simbol partai," kata dia.

"Seharusnya, jika Golkar sejak awal sudah mengusung Alex-Nono, maka partai harus mendukung all out. Kekalahan telak di bawah perolehan suara independen (Faisal-Biem) memalukan. Golkar DKI telah gagal total. Padahal, Pilkada DKI menjadi barometer politik nasional, sekaligus bisa menjadi investasi politik untuk 2014," pungkas Gun Gun.

Pengamat komunikasi politik dari Universitas Indonesia, Effendi Gazali, menilai sikap golput itu akan berdampak buruk bagi pencapresan Ical. Hal tersebut terjadi jika media massa terus mengangkat fakta itu.

"Itu juga akan buruk bagi moral partainya," kata Effendi.

Editor :
Latief