Selasa, 23 September 2014

News / Nasional

SISI LAIN ISTANA

Cerita Istana di Samping Jenazah Kang Moeslim

Selasa, 10 Juli 2012 | 08:47 WIB

KOMPAS.com - Ini cerita-cerita kenangan yang muncul ketika menunggui jenazah budayawan Moeslim Abdurrahman di tempat tinggalnya di Jalan Persada Raya Blok VII Nomor 15, Perumahan Taman Sari Persada Jatibening, Bekasi, Jawa Barat, Jumat (6/7/2012) pukul 11.30 sampai Sabtu (7/7/2012) pukul 03.00.

Di sebelah kanan jenazah, duduk di atas tikar yang digelar di lantai antara lain pengusaha Arifin Panigoro, Sukardi Rinakit, Mariza Hamid, Garin Nugroho, Rika Garin Nugroho, Yenny Zannuba Wahid, Benny Susetyo Pr, dan beberapa orang lain. Sementara itu, Hariman Siregar yang sibuk sejak membawa Kang Moeslim ke rumah sakit hari Rabu (4/7/2012) sampai urusan pemakaman tenggelam dalam berbagai urusan lain untuk almarhum.

Arifin membuka cerita lama tentang peran besar Kang Moeslim membawa KH Abdurrahman Wahid menjadi presiden setelah Pemilihan Umum 1999 yang dimenangi secara gemilang oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan di bawah pimpinan Megawati Soekarnoputri. Waktu itu Arifin ada di kubu Megawati.

”Pemikiran Kang Moeslim setara dengan dua sahabatnya, yakni Gus Dur dan Nurcholish Madjid atau Cak Nur. Namun, Kang Moeslim ini betul-betul low profile sampai akhir hayatnya. Baru tiga tahun terakhir ini kita intensif kongko-kongko dengan beliau ini, ya,” ucap Arifin subuh itu.

Banyak cerita jenaka yang sering diceritakan Kang Moeslim tentang Istana Presiden pada masa pemerintahan Gus Dur setiap kali kumpul-kumpul dengan salah satu kelompok tetapnya. Anggota kelompok itu antara lain Garin Nugroho, Sukardi Rinakit, Franky Sahilatua (meninggal dunia tahun 2011), Mariza Hamid, Arifin Panigoro, dan Sultan Hamengku Buwono X.

Cerita jenaka itu antara lain ketika Gus Dur membentuk kabinet. Saat itu, Kang Moeslim diminta membuat setelan jas untuk menjadi salah satu anggota kabinet. Ketika diumumkan, ternyata nama Kang Moeslim tidak ada. ”Ketika saya tanya Gus Dur soal itu, Gus Dur hanya bilang ’wah lali (lupa)’ sambil tertawa dan saya pun ikut tertawa terbahak-bahak,” kata Kang Moeslim.

Beberapa hari sebelum meninggal dunia, Kang Moeslim masih banyak bicara tentang cara dia mencari calon presiden mendatang. ”Kita bisa mencari lewat survei atau tanya peramal-peramal muda seperti Cicilia dari Klepu, Yogyakarta, itu,” ujar Moeslim beberapa kali.

Pemakaman

Sabtu, jenazah Kang Moeslim dimakamkan di Karawang, Jawa Barat. Saat proses pemakaman sejak di rumah duka, masjid, tempat pemakaman, tampak rekan-rekannya, seperti Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa, mantan Menteri Agama Malik Fajar, mantan Menteri Sekretaris Negara Djohan Effendy, Ny Sinta Nuriah Wahid, mantan Juru Bicara Presiden Adhie M Massardi, Wakil Gubernur Jawa Tengah Rustriningsih, Hariman Siregar, Despen Ompusunggu, Ketua MUI Hamidhan, mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Luhut Panjaitan, Letjen (Purn) Agus Widjaya, Letjen (Purn) Suaidi Marasabessy, dan Usman Hamid.

Setelah jenazah dimasukkan ke liang lahat dan bunga ditaburkan, Garin Nugroho berkata, ”Sudah selesai.”

Hidup Kang Moeslim di dunia selesai setelah sering tertawa dan bercanda walau sering tidak punya uang. (J Osdar)

 


Editor : Heru Margianto
Sumber: