Kamis, 18 September 2014

News / Nasional

Banyak Politisi Jadi Benalu

Jumat, 22 Juni 2012 | 08:43 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Alih-alih membentengi negara dalam upaya mewujudkan tujuan untuk mencapai kesejahteraan rakyat, banyak politisi justru menjadi benalu. Kasus korupsi politisi dan penguasa yang meluas nyata-nyata telah menggerogoti negara.

”Saat ini banyak politisi justru menjadi benalu negara, bukan menjadi benteng negara dalam upaya mewujudkan kesejahteraan rakyat,” ujar Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD seusai menonton film "Soegija" bersama sejumlah politisi, peneliti, dan pejabat pemerintah, di Jakarta, Kamis (21/6/2012).

Dalam kondisi di mana politisi menjadi benalu negara, rakyat yang dirampas rasa keadilannya harus terus mengingatkan dengan segenap upaya dan perjuangan. Mahfud mengemukakan, perjuangan pendiri bangsa bersama rakyat menuntut keadilan dari penjajah Belanda dan Jepang masih relevan saat ini.

”Musuh kita saat ini bukan pasukan penjajah, tank dan persenjataannya. Musuh kita saat ini ada di dekat-dekat kita, yaitu ketidakadilan yang dilakukan oleh kita sendiri,” ujarnya.

Sekretaris Jenderal Transparency International Indonesia Teten Masduki menimpali, praktik politik politisi dan penguasa saat ini sulit dimengerti. Dengan kasus korupsi yang meluas dan kekecewaan terhadap perilaku politisi saat ini, Teten bertanya- tanya tentang kepentingan siapa yang saat ini dibela politisi, baik di Senayan maupun yang menjadi penguasa.

Wujudkan keadilan

Pendiri dan CEO PolMark Indonesia Eep Saefulloh Fatah mengemukakan, perwujudan keadilan dalam bentuk kesejahteraan rakyat adalah tanda mewujudnya keindonesiaan yang dicita-citakan. ”Menjadi Indonesia tidak ditandai dengan segala hal berbau atribut atau upacara. Menjadi Indonesia ditandai salah satunya oleh komitmen menegakkan keadilan,” ujarnya.

Untuk politisi dan penguasa, ungkapan penegakan keadilan itu seharusnya terwujud dalam upayanya mendahulukan kepentingan rakyat banyak daripada kepentingan pribadi.

Terkait kritik tersebut, Ganjar Pranowo, anggota DPR dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, yang juga hadir mengaku paling tersudut. ”Terkritik habis mendengar kata-kata Soegija agar politisi jangan jadi benalu. Tusukannya paling dalam kena saya,” ujar Ganjar.

Sutradara film "Soegija", Garin Nugroho, yang hadir dalam bincang-bincang itu mengemukakan, film ini sengaja digarap verbal untuk menyampaikan pesan secara langsung. Garin merindukan hadirnya film tentang tokoh- tokoh lain dengan berbagai latar belakang.

”Dengan medium kecil itu (film), saatnya politisi kita yang angkuh belajar. Kita punya sejarah panjang yang mulia tentang bagaimana berpolitik lewat teladan pemimpin-pemimpin di masa lalu,” ujar Garin.

Acara bincang-bincang dipandu cendekiawan Moeslim Abdurrahman yang mengkritik realitas politik saat ini dengan gaya jenaka. Pemimpin Umum Harian Kompas Jakob Oetama turut menonton film ini dan membuka acara bincang-bincang yang digelar setelah acara nonton bareng (INU).

 


Editor : Heru Margianto
Sumber: