Kompas.com - 15/01/2021, 13:00 WIB
Ulama Syekh Ali Jaber menitipkan salam kepada Presiden Joko Widodo saat dijenguk oleh Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD pasca-peristiwa penusukan di Lampung. Mahfud mendatangi mendatangi kediaman Syekh Ali Jaber pada, Senin (14/9/2020) malam. Dok. Kemenko PolhukamUlama Syekh Ali Jaber menitipkan salam kepada Presiden Joko Widodo saat dijenguk oleh Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD pasca-peristiwa penusukan di Lampung. Mahfud mendatangi mendatangi kediaman Syekh Ali Jaber pada, Senin (14/9/2020) malam.


JAKARTA, KOMPAS.com – Pendakwah asal Madinah yang berkewarganegaraan Indonesia, Syekh Ali Jaber, yang meninggal dunia pada Kamis (14/1/2021), dikenal hobi bermain sepak bola semasa mudanya.

Bahkan karena kelihaiannya mengolah si kulit bundar, Syekh Ali Jaber dijuluki Ali Zidane. Julukan Ali Zidane juga disematkan kepadanya lantaran ia terlihat mirip dengan legenda sepak bola asal Prancis, Zinedine Zidane.

Cerita masa muda Syekh Ali Jaber itu diungkapkan oleh pihak keluarga lewat foto masa muda Syekh Ali Jaber yang beredar di dunia maya.

Baca juga: Wafatnya Syekh Ali Jaber dan Cita-cita yang Belum Tuntas...

“Dia bermain sepak bola di grup Assyabab Ampenan (Kota Mataram), pemainnya orang Arab semua,” tutur Faisal Jaber, keluarga Syekh Ali Jaber sebagaimana dikutip dari Tribunnews.com, Jumat (15/1/2021).

Faisal menceritakan, foto Syekh Ali Jaber muda yang tengah berpose bersama anggota tim sepak bolanya itu diambil di Ampenan, Mataram.

Karena kelihaiannya mengolah bola, Syekh Ali Jaber juga disegani oleh para lawannya.
“Tendangannya cukup keras,” kata Faisal.

Kendati demikian, kehadiran Syekh Ali Jaber sangat diterima oleh masyarakat lokal karena sikapnya yang ramah, santun, dan terbuka.

Syekh Ali Jaber tak hanya gemar bermain bola, tetapi juga menyaksikan pertandingan dari pinggir lapangan langsung.

Baca juga: Duka Mendalam Sejumlah Tokoh Nasional Mengenang Syekh Ali Jaber...

Saking cintanya dengan salah satu klub, Syekh Ali Jaber tak segan memberi bantuan kepada klub lokal di Mataram yang ia dukung.

“Sampai-sampai kostum dia berikan ke grup itu. Termasuk sepatu-sepatunya dia berikan,” lanjut Faisal.

Kemudian, Syekh Ali Jaber hijrah ke Jakarta dan menetap di ibu kota selama 12 tahun. Ia kemudian dikenal sebagai pendakwah kondang dan mulai sering tampil di sejumlah acara televisi.

Hingga akhirnya Syekh Ali Jaber dianugerahi kewarganegaraan Indonesia dari Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 2012.

Ia lalu mendirikan Yayasan Syekh Ali Jaber untuk mendukung misi dakwahnya. Syekh Ali Jaber pun meninggal dunia di usianya yang ke 44 tahun pada 14 Januari.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Respons Pimpinan, Dewas dan Pegawai KPK atas Sikap Jokowi soal Polemik TWK

Respons Pimpinan, Dewas dan Pegawai KPK atas Sikap Jokowi soal Polemik TWK

Nasional
Dilaporkan Para Pegawai KPK ke Dewan Pengawas, Ini Komentar Indriyanto

Dilaporkan Para Pegawai KPK ke Dewan Pengawas, Ini Komentar Indriyanto

Nasional
Hari Ini, Sidang Gugatan Prapradilan RJ Lino Digelar di PN Jakarta Selatan

Hari Ini, Sidang Gugatan Prapradilan RJ Lino Digelar di PN Jakarta Selatan

Nasional
Sikap Jokowi soal Tes Wawasan Kebangsaan Pegawai KPK Dinilai Tepat

Sikap Jokowi soal Tes Wawasan Kebangsaan Pegawai KPK Dinilai Tepat

Nasional
Cek Kedisplinan ASN Pasca-libur Lebaran, Sekjen Kemenkumham Lakukan Sidak

Cek Kedisplinan ASN Pasca-libur Lebaran, Sekjen Kemenkumham Lakukan Sidak

Nasional
Saksi Cerita soal Transfer Uang ke Ajudan Juliari Batubara dan Pembayaran Sewa Pesawat

Saksi Cerita soal Transfer Uang ke Ajudan Juliari Batubara dan Pembayaran Sewa Pesawat

Nasional
Saksi Ungkap Lakukan Demo Tolak Omnibus Law Bukan karena Tweet Jumhur Hidayat

Saksi Ungkap Lakukan Demo Tolak Omnibus Law Bukan karena Tweet Jumhur Hidayat

Nasional
ICW Sebut Ada Upaya Peretasan dalam Konferensi Pers soal Pegawai KPK yang Tak Lolos TWK

ICW Sebut Ada Upaya Peretasan dalam Konferensi Pers soal Pegawai KPK yang Tak Lolos TWK

Nasional
Eks Ketum FPI dan Panitia Maulid Dituntut 1,5 Tahun Penjara di Kasus Kerumunan Rizieq Shihab

Eks Ketum FPI dan Panitia Maulid Dituntut 1,5 Tahun Penjara di Kasus Kerumunan Rizieq Shihab

Nasional
Komisioner KPK Berharap Bisa Segera Fokus pada Kerja Pemberantasan Korupsi Setelah Ada Pernyataan Presiden Soal TWK

Komisioner KPK Berharap Bisa Segera Fokus pada Kerja Pemberantasan Korupsi Setelah Ada Pernyataan Presiden Soal TWK

Nasional
Kasus Kerumunan Petamburan, Rizieq Dituntut 2 Tahun Penjara

Kasus Kerumunan Petamburan, Rizieq Dituntut 2 Tahun Penjara

Nasional
Jokowi Minta TWK Tak Jadi Dasar Berhentikan Pegawai KPK, WP: Alhamdulilah, Terima Kasih Pak Presiden

Jokowi Minta TWK Tak Jadi Dasar Berhentikan Pegawai KPK, WP: Alhamdulilah, Terima Kasih Pak Presiden

Nasional
Jokowi Arahkan Tindaklanjuti 75 Pegawai KPK yang Tak Lolos TWK, Ini kata BKN

Jokowi Arahkan Tindaklanjuti 75 Pegawai KPK yang Tak Lolos TWK, Ini kata BKN

Nasional
Pelaksanaan Vaksinasi Gotong Royong Dimulai Selasa, Salah Satunya di Kawasan Industri Jababeka

Pelaksanaan Vaksinasi Gotong Royong Dimulai Selasa, Salah Satunya di Kawasan Industri Jababeka

Nasional
Nilai Distribusi Vaksin di Dunia Tak Merata, Ketua DPR: Perlu Solidaritas Global

Nilai Distribusi Vaksin di Dunia Tak Merata, Ketua DPR: Perlu Solidaritas Global

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X