Virus Corona Diduga Telah Bermutasi, Kemenkes: Tanpa Gejala Bisa Positif

Kompas.com - 21/02/2020, 16:55 WIB
Pasien dengan gejala ringan virus corona COVID-19 mendapat pijatan oleh petugas medis saat menjalani perawatan di sebuah pusat pameran yang diubah menjadi rumah sakit darurat di Wuhan, Hubei, China (17/2/2020). Data hingga Rabu (19/2/2020) ini, korban meninggal akibat virus corona di China sudah mencapai 2.000 orang setelah dilaporkan 132 kasus kematian baru. AFP/STR/CHINA OUTPasien dengan gejala ringan virus corona COVID-19 mendapat pijatan oleh petugas medis saat menjalani perawatan di sebuah pusat pameran yang diubah menjadi rumah sakit darurat di Wuhan, Hubei, China (17/2/2020). Data hingga Rabu (19/2/2020) ini, korban meninggal akibat virus corona di China sudah mencapai 2.000 orang setelah dilaporkan 132 kasus kematian baru.
Penulis Dani Prabowo
|
Editor Bayu Galih

JAKARTA, KOMPAS.com – Pemerintah memberikan perhatian khusus terhadap keberadaan kapal pesiar Diamond Princess yang berada di perairan Yokohama, Jepang.

Apalagi, status kapal pesiar Diamond Princess meningkat menjadi episentrum baru penyebaran virus corona jenis baru atau COVID-19.

Sekretaris Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Achmad Yurianto menjelaskan, peningkatan status ini terjadi setelah muncul dugaan virus corona yang menyebar di kapal tersebut mulai mengalami mutasi baru.

Mereka yang berada di dalam kapal itu disebut sangat mungkin tertular.

“Karena dari beberapa referensi yang kami baca, kelihatannya sekarang justru positif tetapi gejala klinisnya semakin ringan. Bahkan beberapa dilaporkan (positif) tanpa gejala atau asimptomatik,” kata Yurianto di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, Jumat (21/2/2020).

Baca juga: Maruf Sebut Presiden Belum Tentukan Mekanisme Evakuasi 74 WNI ABK Diamond Princess

Secara rinci, ia menuturkan, saat ini COVID-19 mulai bergeser layaknya flu musiman pada umumnya.

Dalam hal ini seseorang dapat terjangkit virus yang menyebar pertama kali di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China itu tanpa adanya gejala yang selama ini muncul.

“Ini kok orang misalnya panasnya tidak tinggi, tapi kok positif. Berarti agak berubah ini virusnya,” ujarnya.

Guna mengantisipasi kemungkinan terjadinya penyebaran di Tanah Air, pemerintah berencana menambah masa karantina 74 warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi kru kapal tersebut saat nantinya dipulangkan di Tanah Air.

Keputusan pemulangan para WNI tersebut saat ini masih menunggu proses screening kesehatan dari Pemerintah Jepang selesai.

Baca juga: 15 Persen Penumpangnya Terjangkit, Kapal Diamond Princess Jadi Epicentrum Baru COVID-19

Rencananya, Pemerintah Jepang akan mengumumkan hasil screening tersebut pada 22 Februari 2020.

Jika tidak ada yang positif terjangkit virus, maka mereka dapat kembali ke Tanah Air.

Sementara, empat WNI lainnya yang sebelumnya telah dinyatakan positif, saat ini tengah menjalani perawatan di rumah sakit di Shiba dan Tokyo.

"Kewaspadaannya makin ditingkatkan bukan makin diturunkan, sehingga dari epicentrum sekarang kebijakan karantina diharapkan 2x14 hari, dua kali episode inkubasi. Karena ada informasi dari China, gejalanya itu baru muncul di hari ke-20,” ujarnya.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pendistribusian Bansos di Papua dan Papua Barat Dilakukan Melalui Himbara dan PT Pos

Pendistribusian Bansos di Papua dan Papua Barat Dilakukan Melalui Himbara dan PT Pos

Nasional
Setahun Usia Pemerintahan, Jokowi Dinilai Semakin Berjarak dengan Masyarakat

Setahun Usia Pemerintahan, Jokowi Dinilai Semakin Berjarak dengan Masyarakat

Nasional
Menhub: Penumpang Kereta dan Pesawat Tetap Harus Lampirkan Hasil Tes Covid-19

Menhub: Penumpang Kereta dan Pesawat Tetap Harus Lampirkan Hasil Tes Covid-19

Nasional
Satgas Covid-19: Jangan ke Tempat Wisata yang Tak Patuhi Protokol Kesehatan

Satgas Covid-19: Jangan ke Tempat Wisata yang Tak Patuhi Protokol Kesehatan

Nasional
Jokowi Belum Tanda Tangani UU Cipta Kerja, Moeldoko: Tinggal Tunggu Waktu

Jokowi Belum Tanda Tangani UU Cipta Kerja, Moeldoko: Tinggal Tunggu Waktu

Nasional
Perkuat Ketahanan Sosial KPM Selama Pandemi, Kemensos Kembali Salurkan BSB

Perkuat Ketahanan Sosial KPM Selama Pandemi, Kemensos Kembali Salurkan BSB

Nasional
Komnas HAM: Perlindungan Masyarakat Adat atas Konflik Agraria Dipinggirkan Pemerintah

Komnas HAM: Perlindungan Masyarakat Adat atas Konflik Agraria Dipinggirkan Pemerintah

Nasional
Sterilisasi, DPR Berlakukan WFH Dua Hari

Sterilisasi, DPR Berlakukan WFH Dua Hari

Nasional
Ketua Satgas Akui Pemerintah Lengah Awasi Libur Panjang pada Agustus

Ketua Satgas Akui Pemerintah Lengah Awasi Libur Panjang pada Agustus

Nasional
Komnas HAM: 12 Kasus Pelanggaran HAM Berat Belum Diselesaikan Pemerintah

Komnas HAM: 12 Kasus Pelanggaran HAM Berat Belum Diselesaikan Pemerintah

Nasional
6.375 Akun Medsos Didaftarkan untuk Kampanye Pilkada, Facebook Paling Banyak

6.375 Akun Medsos Didaftarkan untuk Kampanye Pilkada, Facebook Paling Banyak

Nasional
Ketua Komisi X Apresiasi Politik Anggaran Nadiem Makarim

Ketua Komisi X Apresiasi Politik Anggaran Nadiem Makarim

Nasional
Mahfud: Keliru Rakyat Minta TNI-Polri Ditarik dari Papua, yang Minta Itu KKB

Mahfud: Keliru Rakyat Minta TNI-Polri Ditarik dari Papua, yang Minta Itu KKB

Nasional
Resmikan Pameran UMKM Virtual, Gubernur Babel Minta Pelaku Usaha Terbiasa dengan Market Place

Resmikan Pameran UMKM Virtual, Gubernur Babel Minta Pelaku Usaha Terbiasa dengan Market Place

Nasional
Kampanye Daring Hanya Dilakukan 23 Persen Paslon Pilkada, KPU Akan Evaluasi Efektivitasnya

Kampanye Daring Hanya Dilakukan 23 Persen Paslon Pilkada, KPU Akan Evaluasi Efektivitasnya

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X