Kepala BNPT Sebut Pernyataan Ryamizard soal TNI Terpapar Radikalisme Tak Akurat

Kompas.com - 21/11/2019, 13:58 WIB
Kepala Badan Nasional Penanggulan Terorisme (BNPT) Komjem Suhardi Alius usai bertemu Menko Polhukam, Mahfud MD di Kantor Menko Polhukam, Jalan Merdeka Barat, Jakarta, Senin (18/11/2019). KOMPAS.com/ACHMAD NASRUDIN YAHYAKepala Badan Nasional Penanggulan Terorisme (BNPT) Komjem Suhardi Alius usai bertemu Menko Polhukam, Mahfud MD di Kantor Menko Polhukam, Jalan Merdeka Barat, Jakarta, Senin (18/11/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Suhardi Alius membantah pernyataan mantan Menteri Pertahanan ( Menhan) Ryamizard Ryacudu yang menyebut bahwa 3 persen prajurit TNI terpapar radikalisme.

Bantahan itu disampaikan Suhardi dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi III DPR, Kamis (21/11/2019).

"(Pernyataan Ryamizard) tidak akurat, " kata Suhardi menjawab pertanyaan anggota Komisi III DPR Sarifuddin Sudding di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.

Suhardi bercerita, sesaat setelah Ryamizard membuat pernyataan soal TNI yang terpapar radikalisme, dia dihubungi mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto.


Baca juga: Di Peluncuran Buku Suhardi Alius, Ali Imron Bicara soal Deradikalikasi oleh BNPT

Kepada Suhardi, Wiranto mengklarifikasi pernyataan Ryamizard. Namun demikian, Suhardi mengaku tak tahu menahu dan tak punya data yang disampaikan Ryamizard.

"Hardi dari mana data itu?" ujar Suhardi menirukan pertanyaan Wiranto.

"Kami juga tidak tahu, Pak. Silakan Bapak tanya Pak Menhan karena kami juga tidak punya data itu," ucapnya.

Suhardi mengatakan, BNPT memang pernah mendapat kabar bahwa ada TNI yang terpapar radikalisme. Akan tetapi, hingga saat ini tidak ada data akurat yang diterima BNPT terkait hal tersebut.

"Jadi data tidak pernah kami dapatkan tapi kami dapatkan informasi-informasi," kata dia.

Sebelumnya, mantan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengaku prihatin dengan dengan sekelompok tertentu yang ingin mengganti ideologi negara Pancasila dengan ideologi khilafah. Bahkan, ada prajurit TNI yang terpapar paham radikalime.

Baca juga: Tokoh Agama Bertemu Mahfud MD, Bahas Terorisme dan Radikalisme

Berdasarkan data yang dimiliki Kemhan, menurut Ryamizard, sebanyak sekitar 3 persen anggota TNI yang sudah terpapar paham radikalisme dan tidak setuju dengan ideologi negara, Pancasila.

"Kurang lebih 3 persen, ada TNI yang terpengaruh radikalisme," ujar dia.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X