Eva Bande dan Sedulur Sikep Raih Yap Thiam Hien Award 2018

Kompas.com - 21/01/2019, 20:48 WIB
Pembela hak agraria Eva Susanti Hanafi Bande dan kelompok masyarakat Sedulur Sikep menerima penghargaan Yap Thiam Hien Award (YTHA) 2018 di Perpustakaan Nasional RI, Jakarta Pusat, Senin (21/1/2019). KOMPAS.com/CHRISTOFORUS RISTIANTO Pembela hak agraria Eva Susanti Hanafi Bande dan kelompok masyarakat Sedulur Sikep menerima penghargaan Yap Thiam Hien Award (YTHA) 2018 di Perpustakaan Nasional RI, Jakarta Pusat, Senin (21/1/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Pembela hak agraria Eva Susanti Hanafi Bande dan kelompok masyarakat Sedulur Sikep memenangkan Yap Thiam Hien Award (YTHA) 2018.

Salah satu dewan juri, Yosep Adi Prasetyo, mengatakan, Eva terpilih karena ia dikenal belasan tahun malang melintang berjuang membela dan mendampingi petani Toili, Luwuk, Sulawesi Tengah.

"Mereka berjuang mempertahankan hak atas tanah garapan, tanah adat, dan perlindungan kerusakan alam di Suaka Margasatwa Bangkiriang dari ekspansi industri perkebunan kelapa sawit di Toili," kata Yosep saat malam penganugerahan YTHA 2018, di Perpustakaan Nasional RI, Jakarta Pusat, Senin (21/1/2019).

Yosep mengatakan, Eva sempat ditangkap dan dipenjarakan bersama 23 orang petani pada 2010. Pada Desember 2014, ia dibebaskan setelah mendapatkan grasi dari Presiden Joko Widodo.

"Saat ini, Eva juga tengah mengupayakan pemberian sertifikat hak atas tanah bagi para petani Toili bersama-sama berjuang denganya sesuai program reformasi agraria era Presiden Jokowi," ujar Yosep.

Sementara itu, Sedulur Sikep, adalah kelompok yang dengan jujur menjaga harmoni alam dalam intereksi sosial di wilayah Pegunungan Kendeng.

"Kelompok ini memiliki nilai yang diyakini bahwa Jawa Tengah merupakan lumbung pangan Nusantara yang memberikan pemahaman akan pentingnya air dan tanah bagi kehidupan," kata dia.

"Prinsip ini pula yang kemudian melahirkan napas panjang perlawanan terhadap pertambangan dan industri semen di Jawa Tengah," lanjut Yosep.

Eva dan Sedulur Sikep terpilih dari 20 kandidat lainnya melalui sidang dewan juri yang terdiri dari mantan Duta Besar Indonesia untuk PBB di Jenewa Makarim Wibisono, pegiat isu politik dan HAM Clara Joenowo, aktivis pendidikan Henny Supolo, aktivis perempuan dan jurnalis senior Maria Hartiningsih, pegiat isu pluralisme Imdadun Rahmat, dan pegiat isu hukum dan HAM Haris Azhar.

Yap Thiam Hien mengambil nama dari Yap Thiam Hien, seorang pengacara Indoonesia keturunan Tionghoa. Ia mengabadikan seluruh hidupnya berjuang demi menegakkan keadilan dan HAM.

Namanya diabadikan sebagai nama sebuah penghargaan yang diberikan kepada orang-orang yang berjasa besar bagi penegakan HAM di Indonesia.



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X