5 Berita Populer: Elektabilitas Jokowi dan Prabowo, serta Kisah Sedih Pengantin Ditinggal Kabur WO

Kompas.com - 09/01/2019, 05:20 WIB
Presiden Joko Widodo saat bertemu Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto di Hambalang, Bogor, Senin (31/10/2016).Kementerian Sekretaris Negara Presiden Joko Widodo saat bertemu Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto di Hambalang, Bogor, Senin (31/10/2016).

KOMPAS.com — Berikut lima berita populer Kompas.com, Rabu (9/1/2019).

1. Survei Indikator

Lembaga Survei Indikator Politik Indonesia merilis survei terbaru mengenai elektabilitas pasangan capres-cawapres dalam Pemilihan Presiden 2019, Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Berdasarkan survei Indikator, elektabilias Jokowi-Ma'ruf 54,9 persen, sementara Prabowo-Sandiaga 34,8 persen.

Simulasi dua pasangan nama, Jokowi-Ma'ruf Amin 54,9 persen dan Prabowo-Sandiaga Uno 34,8 persen," kata Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi saat merilis hasil survei di Jakarta, Selasa (8/1/2019).

Baca selengkapnya artikel ini dalam tautan ini.

2. Wedding Orginizer Kabur

Ilustrasi pernikahanRomanno Ilustrasi pernikahan
Hari bahagia di pesta pernikahan Ang dan FDL yang berlangsung di gedung Sukaria, kawasan IBA, Palembang, Sumatera Selatan, pada Minggu (6/1/2019) kemarin, diselimuti rasa marah dan malu oleh pihak kedua mempelai. 

Wedding organizer (WO) MGD yang dikelola RIY mendadak hilang bak ditelan bumi, hingga tamu undangan yang menghadiri acara pernikahan ANG dan FDL tak makan.   

Padahal, seluruh biaya kontrak kerja sama antara ANG dengan WO MGD telah dibayar lunas sebelum acara pesta pernikahan berlangsung. 

Kisah selengkapnya ada dalam link ini.

3. Reaksi Pengusaha Transportasi terkait Bus Trans-Jawa

Pemandangan ruas Jalan Tol Trans Jawa.Twitter: Joko Widodo, @jokowi Pemandangan ruas Jalan Tol Trans Jawa.
Keberadaan Jalur Tol Trans-Jawa membuat Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi mengeluarkan ide untuk membuat moda transportasi umum bertajuk Trans-Java. Dalam wacananya, pengoperasian bus tersebut nantinya akan menggandeng instansi Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yakni Jasa Marga dan Damri.

Adanya wacana tersebut ternyata membuat para pengusaha bus antarkota antarprovinsi (AKAP) meradang. Pasalnya, bila hal tersebut dilakukan bisa memengaruhi bisnis dan usahan yang selama ini telah dirintis para pengusaha bus AKAP.

Pengurus Pusat Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI) Anthony Steven Hambali menjelaskan, wacana yang dilontarkan Menhub mendatangkan kekecewaan bagi para pengusaha bus. Apalagi, selama ini para pengusaha bus sudah berusaha mengikuti segala macam regulasi yang dikeluarkan Kementerian Perhubungan (Kemenhub).

Baca selengkapnya di sini.

4. Nasib Bocah Berambut Es Kini

Masih ingatkan Anda dengan kisah perjuangan bocah laki-laki di China yang viral karena menembus dinginnya cuaca dengan berjalan kaki 4,5 kilometer menuju sekolah?

Wang Fuman mendapat julukan "Ice Boy" ketika tiba di sekolah dengan wajah merah dan rambutnya berubah menjadi putih karena dipenuhi es.

Wang tinggal di wilayah pegunungan di provinsi Yunnan yang suhu udaranya bisa mencapai -9 derajat Celsius.

Baca selengkapnya kisah bocah Wang Fuman di sini.

5. Baunya Kali Pisang Batu Bekasi Mana Tahan

Warga melintas disamping sampah yang didominasi plastik di sepanjang Kali Pisang Batu, Desa Pahlawan Setia, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Selasa (8/1/2019). Sampah yang memenuhi Kali Pisang Batu hingga sepanjang 1,5 kilometer berasal dari Kali Bekasi yang melewati Kota Bekasi. Sampah muncul pasca normalisasi dilakukan pada Desember 2018. Sebelumnya, kali hanya dipenuhi lumpur dan eceng gondok.KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG Warga melintas disamping sampah yang didominasi plastik di sepanjang Kali Pisang Batu, Desa Pahlawan Setia, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Selasa (8/1/2019). Sampah yang memenuhi Kali Pisang Batu hingga sepanjang 1,5 kilometer berasal dari Kali Bekasi yang melewati Kota Bekasi. Sampah muncul pasca normalisasi dilakukan pada Desember 2018. Sebelumnya, kali hanya dipenuhi lumpur dan eceng gondok.
Akim, warga Desa Pahlawan Setia, Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, mengaku sudah terbiasa dengan bau sampah di Kali Pisang Batu.

Dia mengatakan, sampah yang menumpuk di Kali Pisang Batu sudah berlangsung lama. Sampah muncul usai kali dinormalisasi pada Desember 2018.

"Beruntung kami sudah biasa, sudah kuat. Baunya saja yang enggak tahan, kalau angin sudah datang itu baunya ya ampun. Kita malu kalau kedatangan tamu," kata Akim kepada Kompas.com, Selasa (8/1/2019).

Baca selengkapnya dalam tautan ini.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Terkini Lainnya


Close Ads X