Komnas HAM Dorong Transparansi Penanganan Kasus Pembantaian Pekerja di Nduga Papua

Kompas.com - 05/12/2018, 15:44 WIB
Konferensi pers Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) soal pembantaian pekerja pembangunan infrastruktur di Kabupatem Nduga, Papua, di Gedung Komnas HAM, Jakarta Pusat, Rabu (5/11/2018). KOMPAS.com/Devina HalimKonferensi pers Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) soal pembantaian pekerja pembangunan infrastruktur di Kabupatem Nduga, Papua, di Gedung Komnas HAM, Jakarta Pusat, Rabu (5/11/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Komisi Nasional Hak Asasi Manusia ( Komnas HAM) meminta pemerintah untuk memberikan informasi yang valid dan penjelasan soal pembantaian pekerja di Kabupaten Nduga, Papua, dalam dua hingga tiga minggu ke depan.

Koordinator Subkomisi Penegakan HAM/Komisioner Pemantauan & Penyelidikan Komnas HAM, Amiruddin, mengatakan, publik perlu mendapatkan penjelasan terkait peristiwa tersebut.

"Dua hingga tiga minggu ke depan kan harus sudah ada kejelasan. Sebenarnya peristiwa persisnya seperti apa. Harus diumumkan oleh apakah Menko Polhukam atau Kapolri supaya semua orang mengakses data itu," kata Amiruddin, saat ditemui di Gedung Komnas HAM, Jakarta Pusat, Rabu (5/11/2018).

Baca juga: Komnas HAM Kecam Pembantaian Pekerja di Nduga Papua


Komnas HAM juga mendorong penanganan dan penindakan kasus ini dilakukan secara terbuka.

Amiruddin menjelaskan, tanpa transparansi, hal itu berpotensi memunculkan spekulasi-spekulasi yang dapat memperlebar masalah.

"Setiap tindakan itu nanti mesti disampaikan secara terbuka oleh kepolisian sehingga semua orang tahu bahwa tindakan itu dilakukan secara tepat," kata dia.

Sebelumnya, sebanyak 31 orang disebut tewas dibantai KKB di lokasi proyek jalan Trans Papua yang diduga terjadi pada Sabtu (1/12/2018) dan Minggu (2/12/2018).

Baca juga: 7 Catatan Kriminal Kelompok Separatis Pimpinan Egianus Kogoya di Nduga

Mereka dibunuh saat membangun jembatan di Kali Yigi dan Kali Aurak di jalur Trans Papua, Kabupaten Nduga.

Akibat kejadian tersebut, proyek Trans Papua yang dikerjakan sejak akhir 2016 dan ditargetkan selesai 2019 itu dihentikan untuk sementara waktu.

Sementara itu, menurut pengakuan salah seorang pekerja yang selamat, ada 19 orang yang dibantai di lereng bukit Puncak Kabo.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X