Pengguna Internet Tinggi, Indonesia Dinilai Berpotensi Besar Terancam Serangan Siber

Kompas.com - 23/11/2018, 06:04 WIB
Deputi Bidang Penanggulangan dan Pemulihan BSSN Asep Chaerudin Kompas.com/Fitria Chusna FarisaDeputi Bidang Penanggulangan dan Pemulihan BSSN Asep Chaerudin

JAKARTA, KOMPAS.com - Deputi Bidang Penanggulangan dan Pemulihan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Asep Chaerudin menyebut, jutaan ancaman terkait server siber berpotensi menyerang Indonesia setiap tahunnya.

Ancaman tersebut muncul dari dalam dan luar negeri. Bentuknya, bisa bermacam-macam, seperti pasmen, dos, malware, hingga trojan.

Asep menerangkan, Indonesia punya ancaman yang besar terkait serangan server siber, lantaran tingginya jumlah pengguna internet.

"Indonesia itu sebetulnya potensi mengancam dan diancam itu besar sekali. Kenapa? 143 juta penduduk indonesia itu sebagai pengguna dari internet. Oleh karena itu kemungkinan ancaman itu besar banget," kata Asep usai menghadiri Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) dalam Rangka Persiapan Penyelenggaraan Pemilu 2019 yang digelar Kemendagri di Hotel E Royale, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis (22/11/2018).

Menurut Asep, ancaman serangan siber akan selalu ada. Namun, pihaknya tak bisa memprediksi ancaman itu secara langsung. Prediksi, hanya bisa dilakukan BSSN secara global.

Belakangan, muncul ancaman serangan server siber terkait data informasi jaringan infrastruktur Pemilu. 

Tujuan penyerangan terhadap jaringan ini adalah untuk mengganggu, menonaktifkan, mengambil alih, mengendalikan, hingga mencuri integritas data pemilih.

Taktik yang digunakan oleh penyerang, di antaranya hacking, social enginering, hingga malware.

Selain itu, penyerang juga menjalankan aksinya melalui diseminasi informasi dengan tujuan mengubah opini publik dan mempengaruhi perilaku pemilu.

Taktik yang digunakan adalah memanfaatkan media daring, yaitu dengan penyebaran informasi palsu, kebocoran info, dan menyebarkan ke orang lain.

Serangan dilakukan dengan berbagai motivasi, antara lain memperoleh keuntungan finansial, keinginan balas dendam, membuat konflik di media sosial, hingga mengalahkan lawan politik.


Mengantisipasi hal tersebut, Asep mengklaim, pihaknya telah berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkair untuk melakukan pengamanan.

"Setiap saat potensi ancaman itu ada. Setiap saat potensi gangguan ada. Oleh karena itu kita bekerja sama dengan seluruh komunitas, dengan seluruh sektor pemerintah, baik dengan sektor akademisi, komunitas, kita semua bekerjasama," ujar Asep.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X