Berita Populer: Jokowi Dianggap Presiden Paling Berhasil dan Kasus Pembobolan Bank Mandiri

Kompas.com - 22/05/2018, 06:02 WIB
Presiden Joko Widodo (kiri) didampingi Menteri Agama Lukman Hakim Syaefudin (tengah) dan Ketua MUI KH Maruf Amin (kanan) berkunjung ke Ponpes Al-Khairiyah untuk menghadiri acara silaturahmi dengan Ulama Banten serta Peringatan Harlah ke-93 Ponpes tersebut di Citangkil, Cilegon, Banten, Jumat (11/5). Acara digelar untuk memperkuat hubungan ulama dan umaro (pemerintah) dalam menghadapi serta menyelesaikan berbagai persoalan bangsa. ANTARA FOTO/Asep FathulrahmanPresiden Joko Widodo (kiri) didampingi Menteri Agama Lukman Hakim Syaefudin (tengah) dan Ketua MUI KH Maruf Amin (kanan) berkunjung ke Ponpes Al-Khairiyah untuk menghadiri acara silaturahmi dengan Ulama Banten serta Peringatan Harlah ke-93 Ponpes tersebut di Citangkil, Cilegon, Banten, Jumat (11/5). Acara digelar untuk memperkuat hubungan ulama dan umaro (pemerintah) dalam menghadapi serta menyelesaikan berbagai persoalan bangsa.

JAKARTA, KOMPAS.com — Berikut berita populer Kompas.com pada Selasa (22/5/2018).

1. "Presiden paling berhasil adalah Jokowi, bukan Soeharto"

Politikus PDI Perjuangan Budiman Sudjatmiko mengatakan, survei Indobarometer secara tidak langsung menunjukkan bahwa Joko Widodo adalah presiden yang paling berhasil memimpin Indonesia.
Diketahui, survei Indo Barometer yang dirilis Minggu (20/5/2018) menyebutkan, 32,9 persen responden memilih Soeharto sebagai presiden yang paling berhasil. Urutan kedua dan ketiga diikuti Soekarno yang dipilih 21,3 persen responden dan Joko Widodo dipilih 17,8 responden.

Adapun, posisi keempat dan kelima masing-masing ditempati oleh Susilo Bambang Yudhoyono (dipilih 11,6 persen responden) dan BJ Habibie (dipilih 3,5 persen responden).

Baca juga: Budiman Sudjatmiko: Presiden Paling Berhasil adalah Jokowi, Bukan Soeharto

 

2. Kasus pembobolan Bank Mandiri

Pihak Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mendapati total kerugian negara dari kasus pembobolan Bank Mandiri oleh PT Tirta Amarta Bottling Company (TAB) sebesar Rp 1,8 triliun.

Kasus ini bermula pada 2015 lalu ketika TAB diduga merekayasa persyaratan sebagai debitur Bank Mandiri Commercial Banking Center Bandung I dan turut melibatkan sejumlah karyawan Bank Mandiri.

"Perhitungan kerugian negara dari dokumen yang kami terima itu berkembang dari yang sebelumnya disampaikan sekitar Rp 1,4 triliun sekarang sudah dihitung secara utuh menjadi Rp 1,8 triliun," kata Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Adi Toegarisman saat menerima laporan hasil pemeriksaan kerugian negara dari BPK di kantornya, Senin (21/5/2018).

Baca juga: Negara Rugi Rp 1,8 Triliun dari Kasus Pembobolan Bank Mandiri oleh PT TAB

 

3. Tanggapan Polri soal teror bom adalah rekayasa

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X