Industri Vape: Kenapa Industri Rokok Meski Takut? Kami Bukan Musuh…

Kompas.com - 27/01/2018, 18:44 WIB
Salah satu pengunjung sedang mencoba cairan (liquid e-juice) di The Colony Vape Bintaro, Tangerang Selatan, Kamis (25/8/2016). Tren rokok elektrik saat ini mulai menjadi gaya hidup baru dan menjadi alternatif bagi para perokok.RADITYO HERDIANTO Salah satu pengunjung sedang mencoba cairan (liquid e-juice) di The Colony Vape Bintaro, Tangerang Selatan, Kamis (25/8/2016). Tren rokok elektrik saat ini mulai menjadi gaya hidup baru dan menjadi alternatif bagi para perokok.

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Bidang Legal dan Business Development Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI) Dendy Dwiputra menilai, indutri rokok tidak perlu khawatir dengan perkembangan rokok elektrik atau vape di Indonesia.

“Kami yakin mereka lebih advance dari industri kami, kenapa meski takut? Kami bukan musuh,” ujarnya dalam acara Polemik MNC Trijaya FM di Jakarta, Sabtu, (27/1/2018).

Menurut Dendy, sampai saat ini para pelaku bisnis vape bukanlah tandingan pelaku usaha rokok yang sudah mapan. Sebab, pelaku bisnis vape adalah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Selain itu, bila dilihat dari sisi konsumen, kata Dendy, maka industri rokok juga jauh masih unggul jauh. Sebab saat ini, pengguna vape baru mencapai 1 juta pengguna di Indonesia.

Baca juga : Juli 2018, Pemerintah Terapkan Cukai untuk Vape

Sementara itu, berdasarkan angka yang disebutkan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dari 261 juta penduduk Indonesia, 36,3 persennya atau 94,7 penduduk Indonesia menjadi perokok.

“Jadi industri rokok belum perlu khawatir,” kata dia.

Sebelumnya, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bima Yudhistira mengatakan terkejut dengan tarif cukai cairan atau 'liquid' rokok elektrik atau vape yang mencapai 57 persen.

Ia menilai, kebijakan itu syarat kepentingan dari industri rokok yang sudah mapan.

Baca juga : Cukai 57 Persen Dikhawatirkan Membuat Vape Ilegal Makin Marak

Berdasarkan data saat ini, liquid vape yang beredar mencapai 2 juta liquid. Angka ini dinilai sangat kecil bila dibandingkan dengan jumlah rokok yang mencapai 331 miliar batang per tahun.

Meski begitu, kata Bima, peredaran liquid vape diyakini akan terus berkembang dalam kurun waktu 5-10 tahun ke depan. Hal inilah yang dinilai membuat perusahaan rokok khawatir pangsa pasarnya kian turun.

Kompas TV Asosiasi Vaper Indonesia menawarkan solusi penjualan vape di tempat tertentu.



Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorSabrina Asril

Close Ads X