Kompas.com - 13/04/2017, 15:01 WIB
Kompas TV Polisi telah menyelidiki lokasi Novel Baswedan disiram air keras oleh para pelaku, tepatnya di Jalan Bellyra Raya, Kelapa Gading, Jakarta Utara.
EditorBayu Galih

Berbagai ancaman sesungguhnya tak hanya dialami Novel. Penyidik Christian, misalnya, sempat dihalang-halangi saat memimpin penggeledahan di DPR. Ia beradu mulut dengan Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah yang merasa tak terima dengan upaya penggeledahan tersebut.

Ada juga penyidik KPK, Afif Julian Miftah, yang mengalami teror berulang kali. Rumah Afif sempat dikirimi barang yang diduga bom. Mobilnya juga pernah dirusak oknum yang tidak diketahui. Sejumlah jaksa juga mengalami hal serupa, bahkan sampai tidak dapat berkata-kata saat di persidangan karena lidahnya mendadak kelu.

Jaksa Yudi Kristiana yang pernah bertugas di KPK menuturkan, ancaman yang dialaminya saat itu menyasar keluarga. Akibatnya, semua keluarganya, baik istri maupun anak, harus dikawal saat pergi ke mana saja selama lebih kurang dua bulan. ”Ancaman bagi diri sendiri bisa diantisipasi, tetapi ancaman terberat saat yang disasar keluarga. Secara psikologis, itu cukup mengganggu,” katanya.

Semangat yang ditunjukkan keluarga Novel serta sejumlah penyidik dan jaksa penuntut umum KPK untuk terus berjuang melawan musuh bersama bangsa, yaitu korupsi, mendapatkan dukungan penuh publik. Setelah pemberitaan Novel menyebar, seluruh masyarakat bersatu memberikan dukungan moril. Koalisi Masyarakat Sipil Anti Korupsi di antaranya melakukan aksi damai di Gedung KPK, Jakarta, Selasa siang.

Salah satu koordinator aksi, Lalola Easter Kaban, mengatakan, peristiwa yang menimpa Novel merupakan ujian berat dalam upaya pemberantasan korupsi di Indonesia. ”Kami berharap Presiden Joko Widodo dan Kepala Polri menjamin rasa aman dan perlindungan bagi siapa pun yang berikhtiar untuk melawan korupsi di negeri ini,” kata Lalola.

Dukungan publik juga hadir di media sosial Twitter melalui tagar #SayaNovelBaswedan. Reza Mustar, pemilik akun @komikazer, menuliskan, ”Kami ada dan berlipat ganda!!! Dipikir Intimidasi jaman ORBA masih efektif... #SayaNovelBaswedan.”

Tagar tersebut masih terus bermunculan di lini masa Twitter hingga Rabu malam. Netizen tidak hanya memberikan dukungan moril, tetapi juga menuntut pemerintah lebih serius memberikan perlindungan kepada para penyidik KPK agar tidak ada lagi peristiwa teror seperti yang dialami Novel di masa mendatang. Pada akhirnya, teror tidak akan menggentarkan KPK dan masyarakat untuk terus melawan koruptor di Tanah Air. (RIANA A IBRAHIM/M IKHSAN MAHAR)
---

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 13 April 2017, di halaman 1 dengan judul "Teror yang Tak Padamkan Perjuangan".

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.