Kompas.com - 23/01/2017, 22:18 WIB
EditorKrisiandi

JAKARTA, KOMPAS — Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mendorong inisiatif para guru untuk membentuk organisasi profesi guru berbasis mata pelajaran. Pendirian organisasi guru secara independen ini dibutuhkan untuk mendukung peningkatan profesionalisme guru.

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemdikbud Sumarna Surapranata dalam acara Deklarasi Asosiasi Guru Kimia Indonesia (AGKI), di Jakarta, Minggu (22/1), menyatakan harapan munculnya organisasi profesi guru berisi kumpulan guru yang mengajar mata pelajaran sejenis atau serumpun. Organisasi itu didorong berfokus pada profesionalisme guru dan peningkatan kompetensi.

"Adapun perkumpulan atau persatuan guru yang sudah eksis tetap diakui, tetapi juga didorong untuk komitmen memperjuangkan nasib guru," kata Sumarna.

Jauh politik praktis

Menurut Sumarna, organisasi profesi guru harus lahir dari guru, untuk guru, dan oleh guru. Organisasi profesi guru ini diminta jauh dari politik praktis, tetapi mengutamakan pengembangan kompetensi guru di bidangnya.

Sumarna menambahkan, dalam pembentukan organisasi profesi guru sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 Pasal 41 Ayat (2), organisasi tersebut berfungsi memajukan profesi, meningkatkan kompetensi, karier, wawasan kependidikan, perlindungan profesi, kesejahteraan, dan pengabdian kepada masyarakat.

"Sebagai organisasi profesi guru, kedepankan peningkatan kompetensi. Jika seseorang memiliki kompetensi yang baik, dia juga memiliki harga tawar yang tinggi," ujar Sumarna.

Organisasi profesi guru, kata Sumarna, akan menjadi mitra pemerintah dan perguruan tinggi dalam menyertifikasi guru sesuai bidang ilmunya. "Karena itu, di dalam organisasi profesi harus selalu berpikir mengenai pengembangan profesi mata pelajaran yang ditekuninya. Guru abad ke-21 sudah harus memiliki cara berpikir kritis, mempunyai kemampuan komunikasi yang baik, dan memiliki kemampuan kolaborasi yang baik," kata Sumarna.

Konsep dasar

Guru Besar Pendidikan Kimia Universitas Palangkaraya Suandi Sidauruk mengatakan, dari riset terlihat, pembelajaran Kimia yang diserap siswa tidak lepas dari salah konsep dasar. Hal ini akibat dari salah konsep kalangan guru dalam memahami dan menjelaskan materi kepada siswa.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.