Pemerintah Harus Selidiki Target dan Motif Penyanderaan WNI

Kompas.com - 12/07/2016, 18:16 WIB
Pengamat Militer dan Intelejen, Susaningtyas NH Kertopati saat melayat ke kediaman dinas Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, di Jalan Widya Chandra V, Jakarta Selatan, Selasa (19/1/2016). KOMPAS.com/NABILLA TASHANDRAPengamat Militer dan Intelejen, Susaningtyas NH Kertopati saat melayat ke kediaman dinas Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, di Jalan Widya Chandra V, Jakarta Selatan, Selasa (19/1/2016).
|
EditorKrisiandi

JAKARTA, KOMPAS.com - Pengamat militer dan intelijen, Susaningtyas Kertopati mengatakan, pemerintah harus menyelidiki sebab penyanderaan dan penculikan WNI di perbatasan perairan Indonesia-Malaysia-Filipina marak terjadi belakangan ini.

Menurut perempuan yang akrab disapa Nuning itu, pemerintah harus mengungkap motif dan target penculikan kelompok bersenjata di Filipina.

"Apakah spesifik WNI (warga negara Indonesia) atau random obyek penculikan," ujar Nuning saat dihubungi, Selasa (12/7/2016).

(Baca: Bukan Solusi, Penghentian Batu Bara ke Filipina Pascapenyanderaan Perlu Dikaji Mendalam)

Menurut Nuning, penyelidikan juga untuk membuktikan adanya permintaan tebusan oleh anggota kelompok bersenjata tersebut. Jika permintaan uang tebusan memang ada, perlu diketahui motifnya.

"Justru itu karena ada indikasi mencari uang tebusan maka harus diselidiki apa embrionya," kata dia.

Nuning menambahkan, TNI harus memiliki strategi yang matang jika nantinya operasi pembebasan secara militer direalisasikan. Pematangan strategi perlu dilakukan agar tidak menimbulkan korban jiwa saat operasi benar-benar dilakukan.

"Opsi militer yang kedepankan kekerasan pun harus hati-hati masuki wilayah kedaulatan negara lain," kata Nuning.

Tiga WNI disandera kelompok Abu Sayyaf ketika melewati perairan kawasan Felda Sahabat, Tungku, Lahad Datu Sabah, Negara Bagian Malaysia. Mereka adalah ABK pukat tunda LD/114/5S milik Chia Tong Lim berbendera Malaysia. Penyanderaan ini adalah yang keempat kali dalam enam bulan terakhir. 

Sebelum penyanderaan tiga WNI, tujuh anak buah kapal (ABK) WNI lebih dulu disandera kelompok Abu Sayyaf di perairan Sulu, Filipina Selatan. Penyanderaan itu terjadi pada Senin (20/6/2016).

(Baca: Indonesia Diminta Beri Tekanan ke Filipina untuk Izinkan Operasi Militer)

Selain membajak kapal, penyandera meminta tebusan sebesar Rp 60 miliar. Sebelumnya, 10 WNI ABK kapal tunda Brahma 12 disandera kelompok Abu Sayyaf dan dibebaskan pada awal Mei 2016.

Selain itu, empat ABK kapal tunda Henry juga disandera kelompok yang sama. Keempatnya dibebaskan pada pertengahan Mei 2016.

Kompas TV 3 WNI Diculik di Perairan Sabah Malaysia

 

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ketua MPR Minta Penerapan Panduan Pencegahan Covid-19 Kemenkes Tak Tumpang Tindih

Ketua MPR Minta Penerapan Panduan Pencegahan Covid-19 Kemenkes Tak Tumpang Tindih

Nasional
Ini Indikator Penentu Sebuah Daerah Siap Lakukan Aktivitas Sosial Ekonomi Saat 'New Normal'

Ini Indikator Penentu Sebuah Daerah Siap Lakukan Aktivitas Sosial Ekonomi Saat "New Normal"

Nasional
Pemerintah Diminta Perpanjang Masa Pembatasan Transportasi Mudik dan Arus Balik Lebaran

Pemerintah Diminta Perpanjang Masa Pembatasan Transportasi Mudik dan Arus Balik Lebaran

Nasional
YLKI: Rencana Pembukaan Kembali Mal pada 5 Juni Terlalu Gegabah

YLKI: Rencana Pembukaan Kembali Mal pada 5 Juni Terlalu Gegabah

Nasional
Wawancara Deddy Corbuzier dengan Siti, Ditjen PAS: Pintu Dikunci dari Dalam

Wawancara Deddy Corbuzier dengan Siti, Ditjen PAS: Pintu Dikunci dari Dalam

Nasional
Masyarakat Sumatera Utara yang Mudik Diimbau Tak Kembali ke Jakarta

Masyarakat Sumatera Utara yang Mudik Diimbau Tak Kembali ke Jakarta

Nasional
Anggota Komisi III DPR: Kita Tidak Bisa Hidup Berdampingan dengan Covid-19

Anggota Komisi III DPR: Kita Tidak Bisa Hidup Berdampingan dengan Covid-19

Nasional
Komisi X Minta Ada Simulasi Protokol Kesehatan Sebelum Sekolah Dibuka

Komisi X Minta Ada Simulasi Protokol Kesehatan Sebelum Sekolah Dibuka

Nasional
Cegah Penularan Covid-19, Gubernur Sumbar Minta Masyarakat Tak Kembali ke Perantauan

Cegah Penularan Covid-19, Gubernur Sumbar Minta Masyarakat Tak Kembali ke Perantauan

Nasional
Usai Idul Fitri, Kemenko Perekonomian Bersiap Pulihkan Ekonomi

Usai Idul Fitri, Kemenko Perekonomian Bersiap Pulihkan Ekonomi

Nasional
Tahap Pertama 'New Normal', Mal Dibuka dengan Jumlah Pengunjung Terbatas

Tahap Pertama "New Normal", Mal Dibuka dengan Jumlah Pengunjung Terbatas

Nasional
Cerita Sulitnya Mengumpulkan Mahasiswa untuk Melengserkan Soeharto...

Cerita Sulitnya Mengumpulkan Mahasiswa untuk Melengserkan Soeharto...

Nasional
UPDATE 26 Mei: Total 298 WNA di Indonesia Positif Covid-19

UPDATE 26 Mei: Total 298 WNA di Indonesia Positif Covid-19

Nasional
Dirujuk ke RSPAD karena Asma, Siti Fadilah Wawancara dengan Deddy Corbuzier

Dirujuk ke RSPAD karena Asma, Siti Fadilah Wawancara dengan Deddy Corbuzier

Nasional
UPDATE 26 Mei: Total 876 WNI di Luar Negeri Positif Covid-19

UPDATE 26 Mei: Total 876 WNI di Luar Negeri Positif Covid-19

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X