Ketika DNA Tak Lagi Jadi Kunci Identifikasi Jenazah Korban AirAsia...

Kompas.com - 09/01/2015, 08:20 WIB
Petugas membawa peti jenazah korban AirAsia QZ 8501 menuju pesawat di Lapangan Udara Iskandar, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, Rabu (7/1). Sebanyak dua jenazah tersebut akan dibawa ke Surabaya untuk diidentifikasi. KOMPAS/HERU SRI KUMOROPetugas membawa peti jenazah korban AirAsia QZ 8501 menuju pesawat di Lapangan Udara Iskandar, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, Rabu (7/1). Sebanyak dua jenazah tersebut akan dibawa ke Surabaya untuk diidentifikasi.
|
EditorInggried Dwi Wedhaswary

SURABAYA, KOMPAS.com
- Selama ini, DNA seringkali menjadi jalan terakhir untuk mengidentifikasi jenazah. Demikian pula dengan identifikasi korban jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501.

Jika post-mortem sidik jari, gigi gelig,i atau properti korban tidak cocok dengan data ante-mortem dari keluarga, hanya DNA yang dapat memastikan identitas jenazah. Akan tetapi, pandangan ini ternyata tak sepenuhnya benar. 

Kepala Laboratorium DNA Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Pusdokkes) Mabes Polri Kombes Putut Cahyowidodo mengatakan, jenazah yang berhari-hari di laut rentan tidak dapat teridentifikasi DNA-nya.

"Laut itu sangat ganas. Kadar garamnya sangat tinggi. Sangat mungkin kondisi demikian itu merusak DNA satu jenazah," ujar Putut kepada Kompas.com, di Kompleks Mapolda Jawa Timur, Kamis (8/1/2014) kemarin.

DNA manusia, jelas Putut, berada di dalam inti sel. Inti sel itu dilapisi oleh lapisan dengan nama membran sel. Kadar garam laut sangat memungkinkan membuat membran sel pecah sehingga DNA keluar dari inti selnya. Jika demikian, DNA seseorang menyebar di sekelilingnya.

"Kita menangkap ikan, lalu kita cek DNA-nya, sangat mungkin ada DNA manusianya. Karena begitu membran sel pecah, DNA sudah campur baur enggak karuan di luar," ujar dia.

Soal berapa lama waktu membran sel pecah, Putut mengatakan, seorang ahli pun tak dapat memprediksinya. Oleh karena itu, kata dia, sangat mungkin DNA seseorang menempel di tubuh jenazah lain yang berdekatan. Jika demikian, proses identifikasi pun menjadi rentan salah. Sebab, jenazah mungkin saja tertukar.

Tulang paha

Putut mengatakan, kondisi inilah yang dihadapinya saat mengidentifikasi jenazah korban AirAsia. Untuk meminimalisir tingkat kesalahan, pihaknya memutuskan untuk mengambil sampel DNA di tulang paha jasad korban. Menurut Putut, di wilayah itulah DNA suatu jasad rata-rata masih dalam kondisi baik.

"Tapi itu hanya pada saat ini loh ya. Kita tidak mengetahui bagaimana jenazah yang datang di kemudian hari. Apakah sampel DNA-nya di tulang paha itu masih juga bagus atau tidak," ujar dia.

Putut mencontohkan, beberapa jenazah yang telah teridentifikasi melalui pencocokan DNA sebelumnya. Jenazah dengan sampel DNA tergolong baik membutuhkan waktu tiga hari mulai dari pencocokan DNA hingga keluarnya hasil identifikasi. Dia tidak dapat memprediksi berapa lama DNA suatu jenazah dinyatakan identik jika sampel DNA-nya tidak dalam kondisi baik.

Hingga Jumat pagi, 41 jenazah telah dibawa ke RS Bhayangkara. Sebanyak 25 jenazah telah teridentifikasi dan diserahkan ke pihak keluarga. Sementara, 14 jenazah akan menjalani rekonsiliasi pada Jumat ini. Ada pun 2 jenazah lainnya baru tiba di RS Bhayangkara, Kamis malam. Dua jenazah itu baru akan diambil data post-mortemnya hari ini.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Komplain Penyaluran Bansos dari Daerah Belum Terintegrasi dengan Pusat

Komplain Penyaluran Bansos dari Daerah Belum Terintegrasi dengan Pusat

Nasional
Relakan THR Miliknya untuk Nelayan Pesisir, 2 Prajurit TNI Ini Dapat Penghargaan Ketua MPR

Relakan THR Miliknya untuk Nelayan Pesisir, 2 Prajurit TNI Ini Dapat Penghargaan Ketua MPR

Nasional
Kapolri Ganti 2 Wakapolda dan Satu Direktur di Bareskrim, Total 120 Perwira Dimutasi

Kapolri Ganti 2 Wakapolda dan Satu Direktur di Bareskrim, Total 120 Perwira Dimutasi

Nasional
Kemendagri Gelar Lomba Sosialisasi New Normal, Pemda Pemenang Dapat Dana Insentif hingga Rp 169 Miliar

Kemendagri Gelar Lomba Sosialisasi New Normal, Pemda Pemenang Dapat Dana Insentif hingga Rp 169 Miliar

Nasional
Setelah 11 Minggu Tutup, Masjid Mabes TNI AU Akhirnya Laksanakan Shalat Jumat

Setelah 11 Minggu Tutup, Masjid Mabes TNI AU Akhirnya Laksanakan Shalat Jumat

Nasional
Data Amnesty: 69 Kasus Pembunuhan di Luar Proses Hukum di Papua, Pelakunya Tak Ada yang Diadili

Data Amnesty: 69 Kasus Pembunuhan di Luar Proses Hukum di Papua, Pelakunya Tak Ada yang Diadili

Nasional
Kasus Suap 14 Anggota DPRD Sumut, KPK Terima Pengembalian Uang Rp 1,78 Miliar

Kasus Suap 14 Anggota DPRD Sumut, KPK Terima Pengembalian Uang Rp 1,78 Miliar

Nasional
Kemendagri: Ada Sejumlah Fase Sebelum Daerah Bisa Terapkan New Normal

Kemendagri: Ada Sejumlah Fase Sebelum Daerah Bisa Terapkan New Normal

Nasional
BNN: Sindikat Narkoba Manfaatkan Kendaraan Logistik agar Lolos Pemeriksaan PSBB

BNN: Sindikat Narkoba Manfaatkan Kendaraan Logistik agar Lolos Pemeriksaan PSBB

Nasional
Eks Komisioner KPK: Istri Nurhadi Bisa Jadi Pintu Masuk Usut Dugaan Pencucian Uang

Eks Komisioner KPK: Istri Nurhadi Bisa Jadi Pintu Masuk Usut Dugaan Pencucian Uang

Nasional
KPK Periksa Eks Dirut PT Dirgantara Indonesia, Firli: Sudah Masuk Penyidikan

KPK Periksa Eks Dirut PT Dirgantara Indonesia, Firli: Sudah Masuk Penyidikan

Nasional
Amnesty: Selama 2010-2018, 95 Orang di Papua Jadi Korban Pembunuhan di Luar Proses Hukum

Amnesty: Selama 2010-2018, 95 Orang di Papua Jadi Korban Pembunuhan di Luar Proses Hukum

Nasional
Dicopot dari Adhi Karya, Fadjroel Jabat Komisaris Waskita Karya

Dicopot dari Adhi Karya, Fadjroel Jabat Komisaris Waskita Karya

Nasional
BW Sebut Kasus Nurhadi sebagai 'Family Corruption'

BW Sebut Kasus Nurhadi sebagai "Family Corruption"

Nasional
KPK Mulai Terapkan New Normal, Hanya Setengah Pegawai Kerja di Kantor

KPK Mulai Terapkan New Normal, Hanya Setengah Pegawai Kerja di Kantor

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X