Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 08/08/2014, 12:21 WIB
|
EditorSandro Gatra


JAKARTA, KOMPAS.com
- Kepala Polri Jenderal Pol Sutarman mengatakan, Indonesia cukup rawan dengan keberadaan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Tanah Air. Sutarman meminta agar semua pihak meningkatkan kewaspadaan.

"Indonesia cukup rawan karena ada kelompok-kelompok yang selama ini rentan melakukan tindakan radikal. Itu semuanya bisa dipengaruhi dan mudah dipengaruhi. Oleh karenanya, kita terus melakukan tindakan preventif," ujar Sutarman di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat (8/8/2014).

Sutarman mengatakan, jajarannya telah diperintahkan untuk bekerja sama dengan seluruh pejabat daerah dan komponen masyarakat untuk mencegah agar masyarakat tidak terpengaruh kelompok ISIS.

Pemerintah, kata dia, juga telah menolak keberadaan ISIS di Indonesia. Kini pihaknya tengah melakukan langkah-langkah taktis untuk mencegah sekaligus melakukan penegakan hukum terkait ISIS.

"Ditolak, tidak hanya dibubarkan. Ditolak, jadi enggak boleh," ujar Sutarman.

Sebelumnya, pemerintah menilai, paham yang dianut ISIS tidak sesuai dengan ideologi Pancasila, Negara Kesatuan RI, dan kebinekaan di Indonesia. Oleh karena itu, selain melarang perkembangan paham itu, pemerintah juga menindak tegas siapa pun yang terlibat ISIS.
ISIS dianggap sebagai organisasi radikal yang menggunakan kekerasan demi memperjuangkan gagasannya. Jika dibiarkan, maka cara-cara kekerasan itu akan mengancam keutuhan Indonesia.

Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Amir Syamsudin mengaku bahwa pihaknya masih mengkaji mengenai pencabutan status kewarganegaraan terhadap WNI yang terlibat ISIS. Kajian tersebut masih dibicarakan dengan Badan Nasional dan Penanggulangan Terorisme (BNPT). (baca: Kemenhuk dan HAM-BNPT Kaji Pencabutan Kewarganegaraan WNI Pendukung ISIS)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.