Kompas.com - 04/07/2013, 09:55 WIB
Ilustrasi: Warga membaca Al Quran di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Jumat (20/8/2010). Ramadhan dipergunakan sebaik-baiknya oleh umat Islam untuk mencari pahala, antara lain dengan membaca Al Quran, beriktikaf, dan shalat tarawih.  KOMPAS/AGUS SUSANTO Ilustrasi: Warga membaca Al Quran di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Jumat (20/8/2010). Ramadhan dipergunakan sebaik-baiknya oleh umat Islam untuk mencari pahala, antara lain dengan membaca Al Quran, beriktikaf, dan shalat tarawih.
EditorInggried Dwi Wedhaswary

Muh. Ma’rufin Sudibyo*

KOMPAS.com - Bulan Ramadhan kembali datang. Ramadhan tahun ini, 1434 Hijriah. Inilah bulan yang disucikan umat Islam di mana pun berada, untuk menjalankan ibadah puasa sebagai salah satu bagian Rukun Islam. Demikian pula bagi umat Islam di Indonesia. 

Ramadhan, bulan suci penuh berkah dan ampunan, serta berpuncak pada hari raya Idul Fitri, perayaan yang mengandung beragam makna baik anah religius, tradisi, psikologis, sosiologis dan bahkan ekonomis.

Tetapi, dalam konteks prikehidupan manusia kontemporer, bulan Ramadhan secara tak langsung juga ‘dikenal’ sebagai saat-saat di mana satu problematika lama kembali mengemuka, yakni masalah perbedaan penentuan awal bulan kalender Hijriah. Inilah problem yang telah merentang masa sekian abad terakhir, namun terus saja menemukan momentumnya setiap bulan Ramadhan dan dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha) datang menjelang.

Perbedaan

Dengan 1,6 miliar populasi manusia pemeluk Islam dan terdistribusi di negara-negara di dunia, dengan kebijakan berbeda dalam kehidupan keberagamaannya, tak pelak perbedaan tersebut selalu terjadi. Akan tetapi, Indonesia yang paling unik di antara negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim. Di Indonesia, perbedaan terjadi antara berbagai komunitas Muslim yang tumbuh dan berkembang di sini.

Perbedaan juga muncul menjelang bulan Ramadhan 1434 H ini. Terdapat komunitas Muslim yang jauh-jauh hari telah mengumumkan bahwa 1 Ramadhan 1434 H akan jatuh pada Selasa, 9 Juli 2013, atas dasar “kriteria” wujudul hilaal.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sebaliknya, golongan mayoritas masih menunggu keputusan Menteri Agama berdasarkan sidang itsbat yang rencananya diselenggarakan pada Senin, 8 Juli 2013, sore hari. Meski demikian, jika merujuk pada elemen-elemen posisi bulan pada 8 Juli 2013 senja di seluruh Indonesia, yang bertepatan dengan 29 Sya’ban 1434 H, kemungkinan sidang itsbat bakal menetapkan 1 Ramadhan 1434 H bertepatan dengan Rabu 10 Juli 2013. Hal ini jika merujuk pada  kriteria imkan rukyat.

Beberapa komunitas Muslim lainnya, terkadang juga memiliki keputusannya sendiri-sendiri yang tak jarang juga berbeda dibanding kedua golongan di atas.

Meski perbedaan semacam ini telah dianggap wajar dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari Umat Islam di Indonesia, namun dalam beberapa tahun terakhir nuansanya kian menajam dengan pergolakan wacana yang berpuncak pada keriuhan. Setiap pihak melontarkan dalil dan dalihnya, ada yang merasa paling benar, dan menuding yang lainnya keliru.

Perdebatan berlangsung mulai dari pilihan metode (hisab vs rukyat), kriteria, hingga keberlakuan (lokal vs global). Keriuhan semacam itu juga menimbulkan pertanyaan, apa yang sesungguhnya terjadi? 

Apakah tak bisa semuanya dipersatukan dalam satu sistem penanggalan yang seragam mengingat semuanya juga merujuk pada bulan (sebagai benda langit) yang sama?

Rangkaian tulisan ini mencoba menelaah bagaimana aspek-aspek terkait kalender Hijriah dan terutama problematika penentuan awal Ramadhan beserta hari raya Idul Fitri dan Idul Adha dalam perspektif ilmu pengetahuan terkait, khususnya astronomi.

Prototheia

Dasar dari kalender Hijriah adalah periodisitas bulan dan sifat fisisnya sebagai hilal. Namun,  memperbincangkan hilal takkan lengkap jika kita tak terlebih dahulu meninjau apa sebenarnya bulan itu sendiri.

Bulan adalah satu-satunya satelit alami Bumi dengan dimensi relatif cukup besar terhadap planet induknya. Dimensi bulan adalah melebihi seperempat bumi, angka yang cukup besar jika dibandingkan dengan sistem planet dan satelit-satelit alami lainnya yang ada dalam tata surya kita, kecuali untuk Pluto dan Charon (salah satu satelit alaminya).

Sehingga, sistem Bumi-Bulan lebih sering dianggap sistem planet kembar dibanding sistem planet-satelit, terlepas dari karakteristik keduanya yang bertolak belakang laksana bumi dan langit.

Bulan lahir tak bersamaan dengan Bumi, namun menyusul sekitar 100 juta tahun kemudian. Prosesnya melalui serangkaian proses dahsyat yang menakjubkan sebagai bagian dari riuhnya dinamika tata surya yang masih berusia sangat muda, sehingga demikian kacau balau (chaotic).

Berawal dari adanya protoplanet asing yang dinamakan prototheia, yang terbentuk bersamaan dengan protobumi dan sama-sama berbagi orbit Bumi purba dalam bentuk konfigurasi Lagrangian. Sehingga, jika dilihat dari Matahari, antara protobumi dan prototheia senantiasa berjarak sudut (berelongasi) 60 derajat.

Konfigurasi ini sebenarnya menjanjikan stabilitas orbit masing-masing benda langit, namun dengan syarat ukuran salah satu obyek jauh lebih kecil dibanding pasangan berbagi orbitnya.
Karena prototheia memiliki ukuran setara dengan Mars, stabilitas yang diharapkan tak terbentuk sehingga prototheia bergerak maju-mundur dalam orbitnya, sebelum akhirnya menghantam protobumi lewat hantaman miring (oblique). Peristiwa ini disebut sebagai Hantaman Besar.

Hantaman memaksa inti prototheia bergabung ke protobumi, sementara selubung dan keraknya berhamburan sebagai remah-remah tumbukan beraneka ragam ukuran ke lingkungan sekeliling Bumi. Sehingga terbentuk kabut debu nan pekat dan sistem cincin yang mengelilingi Bumi.

Proses kondensasi kemudian memaksa debu-debu produk hantaman kembali menggumpal dan lama-kelamaan kian membesar, hingga menjadi dua buah benda langit yang sama-sama mengitari Bumi. Ya, pada awalnya Bumi mempunyai dua (bayi) Bulan!

Seperti halnya protobumi dan prototheia, dua bayi Bulan itu bergerak mengitari Bumi dengan berbagi orbit yang sama.

Kisah pun berulang, stabilitas tak terbentuk. Sebaliknya, salah satu bayi Bulan mulai bergoyang dari posisinya dan lama-kelamaan kemudian menghantam bayi Bulan lainnya. Inilah yang kemudian membentuk Bulan seperti yang kita kenal pada saat ini dengan dua wajah yang sangat berbeda di antara sisi dekat (yang menghadap ke Bumi) dengan sisi jauhnya (yang membelakangi Bumi).

Sisa dari proses pembentukan Bulan yang demikian menakjubkan ini masih terjejak di masa kini, dalam bentuk kian menjauhnya Bulan dari Bumi dengan kecepatan 3,82 cm/tahun. Fakta ini baru kita temui tatkala pengukuran jarak Bumi-Bulan dengan akurasi sangat tinggi berhasil dilakukan tatkala para astronot program Apollo berhasil memasang cermin pemantul laser dalam program pendaratan manusia di Bulan.

* Muh. Ma'rufin Sudibyo, Koordinator Riset Jejaring Rukyatul Hilal Indonesia & Ketua Tim Ahli Badan Hisab dan Rukyat Daerah Kebumen
 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    Video Pilihan

    Rekomendasi untuk anda
    26th

    Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    Jokowi: Saya Perintahkan Para Menteri Secepatnya Tindak Lanjuti Putusan MK soal UU Cipta Kerja

    Jokowi: Saya Perintahkan Para Menteri Secepatnya Tindak Lanjuti Putusan MK soal UU Cipta Kerja

    Nasional
    Aturan Baru Masuk Indonesia: WNA dari 11 Negara Dilarang, Turis Asing Lainnya Harus Penuhi Syarat Ini

    Aturan Baru Masuk Indonesia: WNA dari 11 Negara Dilarang, Turis Asing Lainnya Harus Penuhi Syarat Ini

    Nasional
    Kementerian PPPA: Tempat Kerja Lokasi Rentan Terjadi Kekerasan terhadap Perempuan

    Kementerian PPPA: Tempat Kerja Lokasi Rentan Terjadi Kekerasan terhadap Perempuan

    Nasional
    Kronologi Bentrokan Kopassus dan Brimob akibat Perkara Rokok di Timika

    Kronologi Bentrokan Kopassus dan Brimob akibat Perkara Rokok di Timika

    Nasional
    Varian Baru Omicron Disebut Lebih Menular, Cak Imin: Jangan Anggap Enteng

    Varian Baru Omicron Disebut Lebih Menular, Cak Imin: Jangan Anggap Enteng

    Nasional
    Tanggapi Putusan MK, Jokowi: Pemerintah Jamin Kepastian dan Keamanan Investasi di Indonesia

    Tanggapi Putusan MK, Jokowi: Pemerintah Jamin Kepastian dan Keamanan Investasi di Indonesia

    Nasional
    GP Ansor Sebut Pengangkatan Erick Thohir Jadi Anggota Kerhomatan Banser Tak Terkait Posisi Said Aqil sebagai Komut KAI

    GP Ansor Sebut Pengangkatan Erick Thohir Jadi Anggota Kerhomatan Banser Tak Terkait Posisi Said Aqil sebagai Komut KAI

    Nasional
    Jokowi: Substansi dan Aturan Pelaksana UU Cipta Kerja Masih Berlaku

    Jokowi: Substansi dan Aturan Pelaksana UU Cipta Kerja Masih Berlaku

    Nasional
    Lindungi Perempuan dari Kekerasan di Tempat Kerja, Kementerian PPPA Dorong Penyelesaian Komprehensif

    Lindungi Perempuan dari Kekerasan di Tempat Kerja, Kementerian PPPA Dorong Penyelesaian Komprehensif

    Nasional
    Polda Papua: Bentrokan Kopassus-Brimob akibat Perkara Rokok Selesai secara Damai

    Polda Papua: Bentrokan Kopassus-Brimob akibat Perkara Rokok Selesai secara Damai

    Nasional
    DPR Kaji Putusan MK soal UU Cipta Kerja sebelum Rapat dengan Pemerintah

    DPR Kaji Putusan MK soal UU Cipta Kerja sebelum Rapat dengan Pemerintah

    Nasional
    Erick Thohir jadi Anggota Kehormatan Banser, Ketua GP Ansor: Tak Ada Kaitan dengan 2024

    Erick Thohir jadi Anggota Kehormatan Banser, Ketua GP Ansor: Tak Ada Kaitan dengan 2024

    Nasional
    Jokowi: Pemerintah Hormati dan Secepatnya Laksanakan Putusan MK soal UU Cipta Kerja

    Jokowi: Pemerintah Hormati dan Secepatnya Laksanakan Putusan MK soal UU Cipta Kerja

    Nasional
    Jokowi: UU Cipta Kerja Masih Berlaku, Saya Pastikan Investasi dari Dalam dan Luar Negeri Aman

    Jokowi: UU Cipta Kerja Masih Berlaku, Saya Pastikan Investasi dari Dalam dan Luar Negeri Aman

    Nasional
    Jadi Anggota Kehormatan Banser, Erick Thohir Dinilai Sulit Netral sebagai Menteri

    Jadi Anggota Kehormatan Banser, Erick Thohir Dinilai Sulit Netral sebagai Menteri

    Nasional
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.