Kompas.com - 19/05/2013, 10:48 WIB
Penulis Dani Prabowo
|
EditorLaksono Hari W

JAKARTA, KOMPAS.com - Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) menyayangkan sikap Polri yang langsung menangkap anggota Polres Raja Ampat, Papua, Aiptu Labora Sitorus. Kompolnas menilai Polri telah memelintir informasi mengenai jumlah transaksi yang dilakukan oleh Labora.

"Ada pembohongan publik di sini. Ada data-data yang tidak benar, yaitu mengenai jumlah kekayaan yang dimiliki oleh Aiptu Labora Sitorus," kata Komisioner Kompolnas M Naser kepada Kompas.com, Minggu (19/5/2013).

Menurut Naser, upaya pembelokan opini tersebut dilakukan polisi dengan memanfaatkan informasi yang dikeluarkan oleh Pusat Pelaporan Analisa Transaksi Keuangan (PPATK). Informasi PPATK itu merupakan akumulasi transaksi keuangan Labora Sitorus yang dilakukan sejak tahun 2007.

Naser menilai wajar bila akumulasi transaksi yang dilakukan oleh Labora dalam kurun waktu lima tahun pada 2007 hingga 2012 mencapai Rp 1,5 triliun. Hal itu mengingat Labora tidak hanya berprofesi sebagai polisi, tetapi juga pengusaha.

"Informasi itu dipelintir. Informasi itu akumulasi, penerimaan, pembayaran, dan saldo, dan kalau itu akumulatif, maka wajar. Rp 1,5 triliun itu lima tahun. Satu tahunnya Rp 300 miliar, maka setiap bulannya Rp 25 miliar. Kalau kita lihat dia punya bisnis, dia masuk akal, publik itu seolah dicekoki," ujarnya.

Labora diduga terlibat dalam kasus penimbunan bahan bakar minyak di Sorong dengan nama perusahaan PT SAW dan penyelundupan kayu dengan perusahaan PT R. Kasus bisnis BBM dan kayu ini telah diselidiki pada Maret 2013 oleh Polda Papua. Polisi pun menyita 1.000 ton solar dan 115 peti kemas berisi kayu olahan terkait kasus itu.

Polisi menyebut tengah mendalami praktik pencucian uang serta transaksi yang mencapai total Rp 1,5 triliun sejak 2007. Kompolnas menyesali tindakan kepolisian yang melakukan penangkapan Labora di halaman Kompolnas. Kompolnas menilai polisi tidak menghargai Kompolnas sebagai lembaga pengawas eksternal Polri.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    Penampakan Eks Dirjen Kementan Hasanuddin Ibrahim Pakai Rompi Tahanan KPK

    Penampakan Eks Dirjen Kementan Hasanuddin Ibrahim Pakai Rompi Tahanan KPK

    Nasional
    Lemhannas Terus Godok Kajian Geopolitik 5.0, dari Ekonomi Hijau hingga Ketahanan IKN

    Lemhannas Terus Godok Kajian Geopolitik 5.0, dari Ekonomi Hijau hingga Ketahanan IKN

    Nasional
    Cegah Penularan PMK Jelang Idul Adha, Pemerintah Diminta Percepat Vaksinasi pada Sapi

    Cegah Penularan PMK Jelang Idul Adha, Pemerintah Diminta Percepat Vaksinasi pada Sapi

    Nasional
    Kasus Jiwasraya, Kejagung Sita Seluruh Area Tambang Batubara Milik Heru Hidayat

    Kasus Jiwasraya, Kejagung Sita Seluruh Area Tambang Batubara Milik Heru Hidayat

    Nasional
    Bareskrim Musnahkan 238 Kg Sabu dan 121 Kg Ganja Hasil Pengungkapan 4 Kasus Berbeda

    Bareskrim Musnahkan 238 Kg Sabu dan 121 Kg Ganja Hasil Pengungkapan 4 Kasus Berbeda

    Nasional
    UPDATE 20 Mei: 98.885 Spesimen Diperiksa Terkait Covid-19, Positivity Rate 1,83 Persen

    UPDATE 20 Mei: 98.885 Spesimen Diperiksa Terkait Covid-19, Positivity Rate 1,83 Persen

    Nasional
    Langkah Konkret Kementerian KP untuk Wujudkan 'Smart ASN'

    Langkah Konkret Kementerian KP untuk Wujudkan "Smart ASN"

    Nasional
    Nilai Larangan Ekspor Minyak Goreng Tak Efektif dan Merugikan, Anggota DPR: Sudah Seharusnya Dicabut

    Nilai Larangan Ekspor Minyak Goreng Tak Efektif dan Merugikan, Anggota DPR: Sudah Seharusnya Dicabut

    Nasional
    UPDATE 20 Mei: Ada 3.715 Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia

    UPDATE 20 Mei: Ada 3.715 Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia

    Nasional
    Update 20 Mei: Ada 4.942 Suspek Covid-19 di Indonesia

    Update 20 Mei: Ada 4.942 Suspek Covid-19 di Indonesia

    Nasional
    Pengembangan SDM Berkualitas Penting untuk Jawab Krisis Pangan, Energi, dan Iklim Global

    Pengembangan SDM Berkualitas Penting untuk Jawab Krisis Pangan, Energi, dan Iklim Global

    Nasional
    Satgas: Ingat, WHO Belum Cabut Status Pandemi Covid-19

    Satgas: Ingat, WHO Belum Cabut Status Pandemi Covid-19

    Nasional
    UPDATE 20 Mei: Bertambah Tiga, Pasien Covid-19 yang Meninggal Dunia Jadi 156.513 Orang

    UPDATE 20 Mei: Bertambah Tiga, Pasien Covid-19 yang Meninggal Dunia Jadi 156.513 Orang

    Nasional
    Kecewa dengan Pemerintah, Ikappi Minta Kebutuhan Minyak Goreng Dalam Negeri Dipenuhi

    Kecewa dengan Pemerintah, Ikappi Minta Kebutuhan Minyak Goreng Dalam Negeri Dipenuhi

    Nasional
    UPDATE 20 Mei: Tambah 298, Total Kasus Sembuh Covid-19 Capai 5.891.872

    UPDATE 20 Mei: Tambah 298, Total Kasus Sembuh Covid-19 Capai 5.891.872

    Nasional
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.