RI Evakuasi WNI dari Mesir

Kompas.com - 01/02/2011, 02:37 WIB
Editor

Namun, ronda malam yang dilakukan Komite Rakyat setempat membantu mengendalikan keamanan di kawasan itu.

”Saya merasa paling cemas pada Jumat, Sabtu, dan Minggu lalu karena mendengar ada aksi penjarahan di berbagai tempat, termasuk di Nasr City, dan bahkan disertai tembak-tembakan,” kata mahasiswa pascasarjana Universitas Al-Azhar, Romli Sarkowi, yang bersama keluarganya tinggal di Distrik 10 Nasr City.

Pada Senin, menurut Sarkowi, situasi di tempat itu mulai lumayan karena polisi mulai turun lagi di jalan dan lalu lintas lebih normal, tetapi tetap tak tenang karena belum ada kepastian politik.

Menurut Sarkowi, satu hal yang dicemaskan adalah mulai langkanya kebutuhan pokok di toko-toko, bahkan ada toko yang stok barangnya tinggal dua hari lagi. Hal senada diungkapkan alumnus Universitas Al-Azhar, Kairo, Zuhairi Misrawi.

”Mereka sulit mencari bahan logistik. Selain karena ada jam malam, keuangan mereka juga semakin menipis, sementara harga bahan makanan dan barang kebutuhan pokok lain melonjak sampai dua kali lipat. Selama ini mereka banyak bergantung kepada beasiswa dari Pemerintah Mesir. Dengan kondisi tidak menentu seperti sekarang, bantuan itu sama sekali terputus, sementara keuangan mereka semakin menipis,” ujar Zuhairi yang tengah berada di Mesir untuk studi kepustakaan.

Seorang mahasiswa Universitas Al-Azhar, Nurul Fajriah, juga mengungkapkan, dirinya merasa sangat takut dan tidak berani keluar rumah sejak kondisi keamanan buruk.

”Saya ingin kondisi keamanan dan politik yang tak menentu ini segera berakhir,” kata Nurul.

Duta Besar RI untuk Mesir AM Fachir menyampaikan kepada Kompas di kantornya, Minggu, KBRI sudah mendirikan posko-posko sebagai tempat evakuasi bagi WNI di Mesir yang sudah merasakan tidak aman di tempat mereka masing-masing.

Posko-posko itu adalah gedung KBRI di Distrik Garden City, Pusat Kebudayaan Indonesia di Distrik Dokki, Kantor Konsuler KBRI di Distrik Nasr City, semua perumahan daerah mahasiswa di Kairo, dan Kantor Dewan Perwakilan Daerah Mahasiswa di Mesir, seperti Provinsi Tanta dan Zaqaziq.

Sejak gerakan massa antirezim Mubarak marak mulai Jumat lalu, Presiden Mesir Hosni Mubarak memberlakukan jam malam sejak pukul 18.00 hingga pukul 07.00. Namun, hari ke hari, jam malam terus ditambah karena situasi dianggap terus memburuk.

Senin kemarin, jam malam ditambah dari pukul 15.00 hingga pukul 08.00. Sejak hari Jumat itu pula militer menggantikan polisi untuk mengendalikan keamanan di seantero Mesir. Menurut AM Fachir, pihak KBRI sudah mengajukan surat tertulis kepada Military Attache Branch Mesir untuk meminta jaminan keamanan terhadap aset RI dan bantuan perlindungan terhadap WNI di Mesir.

(AFP/AP/REUTERS/DOW JONES/har/nwo/DWA)

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X