Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tak Selamanya Kami Jadi Pembantu

Kompas.com - 23/01/2011, 20:38 WIB

Majikan yang pengertian dengan memberikan libur sehari sangat membantu TKI. Bahkan, Erika, yang bekerja kepada pasangan berkebangsaan Ingris di Hill View Avenue, memiliki lebih banyak waktu untuk belajar karena jam kerja yang lebih singkat.

Kualitas

Pertumbuhan ekonomi Singapura yang pesat memang menggiurkan bagi pekerja migran. Kondisi ini yang membuat ribuan orang terus berangkat bekerja ke luar negeri walau untuk menjadi pembantu rumah tangga.

Muzalimah dan kawan-kawan tidak merasa rendah diri dengan profesi tersebut. Mereka tetap bergairah bekerja sambil belajar karena sadar suatu saat harus memulai hidup baru dengan profesi baru.

"Yang kami lakukan sekarang mengumpulkan modal dan ilmu. Begitu kedua hal itu selesai, saya akan mulai usaha baru di kampung," ujar perempuan putih berjilbab tersebut.

Mereka pun tak ragu memanfaatkan kesempatan yang diberikan pemerintah. Atas peranan Kedutaan Besar Republik Indonesia dan Dharma Wanita Persatuan KBRI Singapura dengan melibatkan pelajar Indonesia di Singapura, TKI PRT meningkatkan kompetensi mereka.

Saat ini ada 169.000 warga negara Indonesia. Sebanyak 92.000 orang di antaranya TKI PRT, 14.000 pelaut, 16.000 pekerja profesional, dan 21.000 pelajar.

Duta Besar RI untuk Singapura Wardana mengatakan, peningkatan kompetensi TKI PRT menjadi semakin mudah berkat kerja sama masyarakat Indonesia di Singapura dan pemerintah. Semakin banyak TKI yang memanfaatkan kesempatan untuk meningkatkan jenjang pendidikan mereka berkat program kelompok belajar Paket B, Paket C, dan UT.

Kepastian hukum yang baik di Singapura turut mendukung perlindungan TKI. Sebagian besar TKI PRT pun sadar hak mereka karena kualitas pendidikan yang relatif lebih baik dari mereka yang bekerja ke Malaysia.

Pemakaian bahasa Inggris di Singapura menuntut TKI harus memahami hal tersebut sehingga kemampuan TKI PRT di Singapura relatif lebih baik. Halimah mengatakan, masih ada TKI PRT yang menjadi korban kekejaman majikan dengan hanya makan nasi basi atau malah tidak diberi makan sama sekali dengan jam kerja berlebih.

Dalam berbagai keterbatasan peran negara untuk menciptakan lapangan kerja yang layak, mereka mengadu nasib ke luar negeri. Dengan segala kemampuan, ribuan TKI PRT berjuang mengumpulkan modal dan meningkatkan kompetensi untuk menggapai masa depan yang lebih baik.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com