Naskah Kuno Perlu Diselamatkan!

Kompas.com - 29/05/2009, 03:20 WIB

Ingin mencari barang-barang yang hilang dan ingin mengetahui baik-buruknya hari, tanda-tanda dan lainnya? Lihatlah naskah kuno Primbon yang dipajang di Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI, Jakarta.

Tetapi, untuk membacanya, pengunjung harus dibantu oleh seorang peneliti dan pengkaji naskah, guna mengetahui isi dari naskah tersebut karena naskah itu masih menggunakan huruf-huruf kuno yang tidak semua orang mengerti artinya.

Naskah-naskah kuno yang berasal dari nenek moyang dan memiliki nilai berharga itu disimpan di tempat khusus, dan tidak hanya berisi soal ramalan-ramalan, tetapi ada juga nasihat, budaya, sastra dan lainnya, baik menggunakan huruf Batak, Melayu, Jawa kuno, Sunda kuno, Bugis, Sansekerta maupun Belanda.

Namun, sayangnya masih ada naskah kuno yang harusnya disimpan oleh Perpusnas sebagai rujukan penelitian, dipegang oleh masyarakat. "Masih banyak masyarakat yang enggan menyerahkan naskah kuno  kepada Perpusnas, karena mereka beranggapan naskah yang dipegangnya itu adalah jimat," kata Wakil Ketua Lembaga Basa jeung Sastra Sunda (LBSS), Rachmat Taufiq Hidayat, di Jakarta, Rabu (26/5).


Selain itu, untuk mengambil naskah kuno itu harus melalui proses ritual-ritual dan izin dari pihak kerajaan, seperti di wilayah Cianjur, Jawa Barat.

Menurut dia, pihak Perpusnas dan instansi terkait lainnya harus melakukan pengawasan dan penarikan agar naskah-naskah kuno itu tidak hilang, sehingga masih ada nilai-nilai sejarah yang ditinggalkan oleh nenek moyang bisa dipelajari dengan baik.

Penarikan naskah-naskah kuno yang berada di tengah masyarakat harus dilakukan secara persuasif oleh Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI agar tidak menimbulkan masalah.

Salah satu cara agar naskah-naskah kuno itu tidak hilang, Perpusnas harus meminta duplikatnya melalui foto digital, sehingga nantinya bisa dicetak dan kemudian diteliti isi materinya.

Banyak naskah kuno yang ada di Perpusnas yang belum diteliti dan dikaji, padahal kandungannya penting diketahui oleh masyarakat.

Dari 10 ribu naskah kuno yang ada di Perpusnas, hanya 100 naskah kuno yang sudah diteliti.

"Ini masih kurang. Sehingga Perpusnas bersama peneliti, pengkaji naskah dan lainnya perlu segera menerbitkan naskah kuno lainnya yang masih menggunakan bahasa Jawa kuno, Batak, Sansekerta, Belanda, Arab kuno, Bugis, Sunda dan Melayu," katanya menjelaskan.

Oleh sebab itu, perlu juga peranan pemerintah pusat dan daerah untuk mendukung penelitian naskah-naskah kuno, yang sama sekali belum terjamah.

Halaman Berikutnya
Halaman:


Editor

Close Ads X