Waduh! Si Kecil Suka Membenturkan Kepala - Kompas.com

Waduh! Si Kecil Suka Membenturkan Kepala

Kompas.com - 05/11/2008, 08:44 WIB

Perlukah orangtua mencemaskan kebiasaan yang "berbahaya" ini? Pada batas mana bisa "diabaikan", kapan perlu berkonsultasi kepada ahli?

Sebagian anak batita dari seluruh dunia ternyata punya kecenderungan membenturkan kepala. Data statistiknya ada pada Journal of The Academy of Psychiatry, yang menyatakan 20% anak batita punya kebiasaan membentur-benturkan kepala ke tembok, lantai, atau kepala tempat tidur.

Namun, sampai saat ini tidak diketahui pasti mengapa kepala yang dibentur-benturkan, dan bukan anggota tubuh lainnya. Yang jelas, kebiasaan ini tidak muncul begitu saja, melainkan ada alasannya, antara lain:

* Rhythmic motor habit

Suatu kebiasaan gerakan motorik sebagai cara melepaskan ketegangan.

* Mengisi waktu luang

Banyak batita melakukannya menjelang tidur sebagai cara mengisi waktu saat mereka tidak bisa bergerak aktif atau mencoba tidur.

* Mencari perhatian

Dengan kemampuan verbalnya yang masih sangat terbatas, membentur-benturkan kepala dirasa efektif bagi batita untuk menarik perhatian orang dewasa di sekitarnya.

* Terlalu banyak stimulasi

Anak-anak yang lelah akibat terlalu banyak diberi stimulasi biasanya menjadikan kegiatan ini sebagai upaya untuk menenangkan diri.

* Kelainan tertentu

Anak-anak dengan gangguan autisma, ADHD, tuli, buta, juga mempunyai kebiasaan membentur-benturkan kepalanya.

AMATI POLA

Kapan kebiasaan tersebut muncul? Pada kondisi seperti apa? Itulah pengamatan yang harus dilakukan orangtua untuk menemukan pola perilaku membenturkan kepala. Kalau perlu pancing dengan kondisi yang sekiranya akan menimbulkan reaksi sama.

Jika anak membenturkan kepala, tanyakan dengan bahasa sederhana tanpa nada interogatif, "Sayang, Mama khawatir deh, kok kamu membenturkan kepala sampai berbunyi duk-duk-duk? Kamu enggak apa-apa kan?" Lalu, lanjutkan dengan pertanyaan alasan anak melakukannya.

Bila sudah ditemukan penyebabnya, berikut cara penanganannya:

* Rhythmic motor habit = ajarkan cara melepas ketegangan

Jika si kecil melakukannya sebagai media pelepas ketegangan, maka usahakan untuk menurunkan ketegangannya. Misalnya dengan mengajarinya bernapas secara perlahan dan teratur, menyalurkan emosi dengan cara lain seperti menyanyi, menari, menggambar dan sebagainya.

* Mengisi waktu luang = bacakan dongeng

Orangtua bisa memberikan kegiatan yang bermanfaat menjelang waktu tidur, umpamanya membacakan dongeng/cerita anak. Yang harus dihindari adalah memberikan ancaman, "Kalau kamu tidur sambil kepala dibenturkan, nanti Mama tinggal!" Sebaiknya katakan, "Sayang, Mama sangat senang kalau kamu tidur lebih tenang malam ini, tidak ada bunyi duk-duk-duk, ya!" sampaikan dengan lembut namun tegas.

* Mencari perhatian = latih kemampuan verbal

Latih terus kemampuan verbal anak dengan sering mengajaknya ngobrol, membacakan cerita, bernyanyi bersama dan sebagainya. Dengan demikian ia bisa mengungkapkan dengan benar apa yang diinginkannya tanpa perlu mencari perhatian dengan cara membentur-benturkan kepala.

* Terlalu banyak stimulasi = istirahat sejenak

Jangankan anak, orang dewasa pun kalau merasa terlalu banyak yang harus dikerjakannya akan mencari cara untuk menenangkan diri. Kalau diamati anak jadi suka membenturkan diri saat diberi stimulasi, maka sebaiknya segera hentikan. Alihkan perhatiannya dan biarkan ia beristirahat sejenak dengan menonton DVD kartun kegemarannya atau makan biskuit kegemarannya.

* Kelainan tertentu = bawa ke ahli

Segera bawa ke dokter anak/psikolog untuk mendapatkan penanganan secara komprehensif.

Hilang Sendiri

Seandainya langkah-langkah yang disarankan di atas sudah dilakukan, namun kebiasaan ini masih berlanjut, sebaiknya orangtua jangan memberikan perhatian berlebihan. Memang berat melihat anak membenturkan kepala sementara orangtua tetap duduk manis. Tapi percayalah, anak tidak akan membenturkan kepalanya secara berlebihan karena rasanya pasti sakit/nyeri. Orangtua juga tak perlu khawatir karena kebiasaan ini tidak akan mengganggu perkembangan otaknya atau menyebabkan cedera serius.

Tapi kalau masih khawatir juga, tak ada salahnya melakukan upaya pencegahan, misalnya dengan melapisi bagian tempat tidur/dinding yang biasa dipakai anak untuk membentur-benturkan kepalanya dengan busa/kain empuk. Jangan lupa berikan pujian bila anak sudah bisa menghentikan kebiasaan ini.

Umumnya, kebiasaan membenturkan kepala hanya bertahan sementara, sekitar umur 2;6-3 tahunan. Setelah itu akan hilang sendiri. Alasannya, semakin bertambah usia anak semakin banyak kemampuan yang dikuasainya. Ia telah menemukan cara lain untuk mengatasi ketegangannya, kemampuan bicaranya pun sudah semakin bertambah sehingga ia bisa mengungkapkan apa yang diinginkannya dengan cara yang tepat.

Penulis : Marfuah Panji Astuti


Editor

Terkini Lainnya


Close Ads X