Marzuki dan Kesetiaan pada Saman

Kompas.com - 13/08/2008, 22:53 WIB
Editor

Oleh Amir Sodikin

Satu per satu tim tari Saman dari berbagai SMA tampil dalam festival yang digelar di sebuah mal. Dari pagi hingga sore, senyum
juri Marzuki Hasan tetap mengembang. Sesekali ia ikut bertepuk tangan. Koreografer, penyair, vokalis, dan penari (yang masih tampil di istana) ini menikmati masa tuanya dengan kebanggaan pada tradisi kampungnya.

Terlihat ia tiada jemu dengan tari-tari energik dari murid-murid SMA se-Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi)
itu. "Saya tahu betul tiap gerakan tari duduk itu, termasuk syair-syair dan semua detail tari Aceh ini," kata Marzuki seusai acara. Ingatan Marzuki langsung melayang ke masa 60 tahun lalu di kampungnya, Meudang Ara Rumoh Baro, Blang Pidie, Aceh Barat Daya, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). "Ha-ha-ha, dulu kalau saya nonton pertunjukan seperti ini betah banget. Sering saya sampai tertidur dan baru bangun setelah matahari tinggi," kenangnya.

Lahir di Blang Pidie, 3 Mei 1943, Marzuki dibesarkan di lingkungan yang menyukai syairdan pantun. "Sejak umur tujuh tahun saya sudah bergumul dengan syair dan pantun Aceh. Sampai sekarang saya masih bisa bersyair atau berpantun secara spontan," katanya.


Syair dan pantun sering diperdengarkan di meunasah-meunasah. Selain dua hal itu, Marzuki kecil menyaksikan perkembangan cikal bakal tari duduk dari kampungnya yang bernama tari Rateb Meuseukat. Rateb Meuseukat ini merupakan nama yang benar untuk tari Saman. Nama tari Saman sudah salah kaprah karena sebenarnya hanya untuk menyebut tarian yang dibawakan laki-laki. "Kalau dibawakan perempuan bernama Rateb Meuseukat," ujar Pak Uki, panggilan Marzuki.

Rateb Meuseukat berkembang di kampung Pak Uki. "Saya masih ingat, waktu kecil, anak-anak perempuan di dayah-dayah mengembangkan tari ini. Tarian ini awalnya hanya dilakukan perempuan, juga ditonton hanya oleh perempuan," tuturnya.

Jadi, tradisi tari duduk Rateb Meuseukat yang dibawakan perempuan berkembang di Meudang Ara Rumoh Baro dan sekitarnya waktu itu. Sedangkan tari duduk oleh laki-laki yang disebut Saman banyak dilakukan oleh orang Gayo. Dalam perkembangannya, ketika tari duduk diperkenalkan di luar Aceh, orang tetap menyebut tari Saman walau dibawakan perempuan. Asal-usul penamaan Saman di luar Aceh ini masih belum diketahui pasti, tetapi Marzuki mengaitkannya dengan penyebar tari duduk yang didominasi laki-laki.

Budaya Aceh

Marzuki remaja akhirnya pandai menari, bersyair, dan berpantun. "Bagi orang Aceh, berpantun secara spontan itu sudah
tradisi. Tiap saat ada kompetisi dalam berbagai situasi," ucapnya.

Misal, jika sedang di kapal, ada kompetisi siapa yang bisa bersyair atau berpantun bagus maka dia boleh tidak kebagian tugas
memasak. "Bersyair dan berpantun tak pernah lepas dari tradisi Aceh," katanya.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X