Kekerasan Seksual Mei 1998, Masih Terasa Hingga 10 Tahun

Kompas.com - 15/05/2008, 21:15 WIB
Editor

 

JAKARTA, KAMIS  - Aspek yang paling kontroversial dari kerusuhan Mei 1998, yaitu kekerasan seksual yang dialami perempuan Tionghoa, ternyata masih berlanjut hingga 10 tahun setelah kejadian. Terus membungkam adalah sikap yang dipilih oleh perempuan korban kek erasan seksual tersebut. Hal itu dilakukan karena belum ada pemenuhan hak korban atas keadilan.

Di tingkat personal, korban kehilangan kepercayaan kepada orang lain dan kehilangan harga dirinya. Negara pun masih belum secara tegas menindaklanjuti rekomend asi pemenuhan hak korban kerusuhan Mei 1998, khususnya bagi perempuan korban tindak kekerasan seksual, papar Pelapor Khusus Komisi Nasional Perempuan tentang Kekerasan Seksual Mei 1998 Prof Dr Saparinah Sadli di Jakarta, Kamis (15/5).

Menurut Ketua Komnas Perempuan, Kamala Chandrakirana, Komnas Perempuan membentuk Pelapor Khusus tentang Kekerasan Seksual Mei 1998 pada tanggal 8 Mei 2007. Ini merupakan sarana bagi Komnas Perempuan untuk memperoleh informasi tentang kondisi mutakhir para perempuan korban s etelah 10 tahun sejak serangan keji yang mereka alami.

Pelapor Khusus Saparinah Sadli menyatakan, kekerasan seksual terhadap perempuan saat kerusuhan Mei 1998 nyata ada. Atas dasar informasi yang dikumpulkan, walaupun Indonesia telah memasuki tahun ke-10 reformasi, situasi hukum, sosial budaya, dan politik masih tetap dianggap tidak kondusif bagi para korban untuk bersuara dan memperjuangkan hak-haknya secara terbuka.

Sejak bulan September 2007 sampai Maret 2008 Pelapor Khusus Komnas Perempuan dan timnya telah mewawancarai 25 narasumber, yaitu dua orang korban kekerasan seksual: yang satu adalah korban percobaan perkosaan dan satu lainnya korban pelecehan seksual, selain itu juga 12 pendamping langsung dari korban kekerasan seksual Mei 1998, 11 informan : yaitu mereka yang memang mengetahui keberadaan korban tetapi tidak secara langsung memberi pendampingan pada korban kekerasan seksual Mei 1998.

Perempuan korban kekerasan seksual Mei 1998 mengalami penyerangan seksual dalam bentuk perkosaan, percobaan perkosaan dan pelecehan seksual dimana di dalamnya terdapat ancaman perkosaan. Perkosaan, termasuk gang rape (diperkosa bergilir), tidak terbatas pada penetrasi penis ke vagina, tetapi juga dalam bentuk pemaksaan oral seks dan dalam penganiayaan seksual dimana vagina dirusak dengan menggunakan berbagai benda lainnya.

Korban kebanyakan adalah perempuan etnis Tionghoa dengan berbagai latarbelakang, dan pada saat peristiwa terjadi korban berusia antara lima hingga 50 tahun. Penyerangan seksual itu terjadi tid ak saja di Jakarta, tetapi juga di Solo, Surabaya, Medan dan Palembang, dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pola kerusuhan yang terencana, meluas dan menargetkan pada komunitas Tionghoa, meskipun juga ada juga korban jiwa dari kelompok masyarak at lainnya, khususnya kaum miskin kota.

 

 



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Soal Kewajiban Jilbab bagi Siswi Nonmuslim, Ketua Komisi X: Kami Prihatin atas Sikap Intoleran

Soal Kewajiban Jilbab bagi Siswi Nonmuslim, Ketua Komisi X: Kami Prihatin atas Sikap Intoleran

Nasional
Begini Cara Cek Daftar Penerima Bansos Tunai Rp 300.000 dan Pencairannya

Begini Cara Cek Daftar Penerima Bansos Tunai Rp 300.000 dan Pencairannya

Nasional
Istana Terima Surat DPR soal Pengangkatan Listyo sebagai Kapolri, Pelantikan Akhir Januari

Istana Terima Surat DPR soal Pengangkatan Listyo sebagai Kapolri, Pelantikan Akhir Januari

Nasional
Doni Monardo Positif Covid-19 dan 12.191 Kasus Baru Virus Corona di Indonesia

Doni Monardo Positif Covid-19 dan 12.191 Kasus Baru Virus Corona di Indonesia

Nasional
Ketua Komisi VIII DPR Yandri Susanto Positif Covid-19

Ketua Komisi VIII DPR Yandri Susanto Positif Covid-19

Nasional
Satgas Covid-19 Sarankan Pemakaian Masker dalam Kondisi Seperti Ini...

Satgas Covid-19 Sarankan Pemakaian Masker dalam Kondisi Seperti Ini...

Nasional
Kemenkes: Vaksinasi Penting untuk Kurangi Tingkat Keparahan dan Kematian Covid-19

Kemenkes: Vaksinasi Penting untuk Kurangi Tingkat Keparahan dan Kematian Covid-19

Nasional
Satgas Sebut WHO Pertegas Efektivitas Masker Cegah Covid-19

Satgas Sebut WHO Pertegas Efektivitas Masker Cegah Covid-19

Nasional
UPDATE 23 JANUARI: Bertambah 65, Kasus Covid-19 di Kota Tangerang Kini 5.549

UPDATE 23 JANUARI: Bertambah 65, Kasus Covid-19 di Kota Tangerang Kini 5.549

Nasional
Pembelajaran Jarak Jauh Dinilai KPAI Ciptakan Kesenjangan

Pembelajaran Jarak Jauh Dinilai KPAI Ciptakan Kesenjangan

Nasional
Seseorang Bisa Idap Covid-19 meski Sudah Divaksin, Ini Penjelasan Dokter

Seseorang Bisa Idap Covid-19 meski Sudah Divaksin, Ini Penjelasan Dokter

Nasional
Ketua Riset Uji Klinis Vaksin: 7 dari 1.820 Peserta Uji Klinis Positif Covid-19

Ketua Riset Uji Klinis Vaksin: 7 dari 1.820 Peserta Uji Klinis Positif Covid-19

Nasional
Perhimpunan Dokter Paru: Tidak Ada Ruginya Divaksin Covid-19

Perhimpunan Dokter Paru: Tidak Ada Ruginya Divaksin Covid-19

Nasional
Kemenkes: 27.000 dari 172.901 Tenaga Kesehatan Belum Divaksin Covid-19

Kemenkes: 27.000 dari 172.901 Tenaga Kesehatan Belum Divaksin Covid-19

Nasional
UPDATE: Sebaran 12.191 Kasus Baru Covid-19, Tertinggi di DKI dengan 3.285

UPDATE: Sebaran 12.191 Kasus Baru Covid-19, Tertinggi di DKI dengan 3.285

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X