Salin Artikel

Budiman Sudjatmiko Cerita soal Kakeknya yang Kades Minta Rakyat Pilih Golkar Saat Orba

Budiman menceritakan soal kakeknya yang merupakan kepala desa memiliki afiliasi politik dengan Golkar, yang saat itu belum menjadi partai politik.

"Saya tahu, ada tiga partai (dua partai ditambah Golkar) yang bisa ikut pemilu, tapi kok Mbah saya cuma suruh rakyatnya milih Pohon Beringin (lambang dari Partai Golkar)," kata Budiman dalam acara "Beginu" di YouTube Kompas.com, yang diunggah Senin (15/11/2021).

Pada waktu itu, Budiman baru berumur 7 tahun, tepatnya pada 1977. Budiman kecil mengaku protes kepada kakeknya karena menyuruh rakyat desa hanya memilih Golkar.

Padahal, Budiman tahu saat itu tak hanya Golkar yang ikut dalam Pemilu. Pada era Orba, pemilu diikuti dua partai politik, yaitu Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI), serta Golkar.

"Terus bagaimana yang Kabah (PPP), terus bagaimana yang Banteng (PDI). Ya, pokoknya Si Mbah saya mengatakan yang harus menang Pohon Beringin, karena ini partai pemerintah," cerita Budiman.

Mendengar perkataan kakeknya, dia justru semakin heran. Sebab, pemilu diartikan Budiman kecil sebagai momentum rakyat menginginkan pergantian pemerintah.

"Tapi kok malah disuruh memilih yang punya pemerintah?"

Lebih jauh, Budiman kecil terus berdialog dengan kakek, hingga pamannya. Sementara itu, ayah dan ibu Budiman merupakan simpatisan PDI.

Adanya imbauan untuk rakyat memilih satu partai politik penguasa itu pun membuat Budiman merasa ada yang tidak wajar.

Saat itu, dirinya mengetahui beberapa tokoh yang berkuasa di luar negeri justru berhasil diturunkan karena dinilai diktator oleh rakyatnya.

Dari situ, ia melihat bahwa rakyat memiliki kuasa untuk meruntuhkan rezim yang tidak adil. Rakyat, kata dia, juga dipimpin oleh satu tokoh yang dianggap pahlawan untuk mereka.

"Saya lalu melihat superhero yang orang-orang nyata, kemudian melakukan sesuatu perbuatan nyata di luar negeri, kalau di bangsa saya Bung Karno," ujarnya.

Budiman kecil pun kemudian tertarik untuk memulai gerakan perubahan untuk rakyat. Hal itu dimulainya sejak kelas 1 Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Ia mengatakan, gerakan itu didasari pada kecintaannya pada sesama manusia.

Namun, kenyataan tak semulus harapan. Buktinya, untuk mencintai rakyat dengan cara meruntuhkan rezim Orde Baru, Budiman harus mendekam di penjara selama beberapa tahun setelah divonis 13 tahun pada 1997.

Aktivis dan pendiri Partai Rakyat Demokratik (PRD) itu ditangkap setelah dituduh menjadi dalang kerusuhan pada 27 Juli 1996 yang bermula dari penyerbuan kantor PDI.

Budiman hanya menjalani hukuman selama lebih kurang 3,5 tahun setelah diberi amnesti oleh Presiden Abdurrahman Wahid pada Desember 1999.

Setelah itu, Budiman dikenal sebagai anggota DPR dari Fraksi PDI-P selama dua periode, sejak 2009-2014 dan 2014-2019.

https://nasional.kompas.com/read/2021/11/16/12050371/budiman-sudjatmiko-cerita-soal-kakeknya-yang-kades-minta-rakyat-pilih-golkar

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.