Salin Artikel

3 Penasihat Internasional Gus Dur dan Kebingungan Laksamana Sukardi

Sebagai menteri, ia sering kali merasa terhibur dengan guyonan-guyonan dan berbagai keputusan-keputusan tak terduga yang dikeluarkan oleh Gus Dur.

"Saya tak mampu bereaksi serius bahkan terhadap kebijakan Presiden yang sesungguhnya dapat berakibat fatal," cerita Laks dalam catatan pribadinya dalam buku Di Balik Reformasi 1998.

Tak lama dilantik sebagai presiden, Gus Dur memilih tiga penasihat yang terdiri dari tokoh dan negarawan internasional yang berpengalaman. Mereka adalah mantan Presiden Singapura Lee Kuan Yew, mantan Pemimpin Bank Sentral Amerika Serikat Paul Volcker, dan mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Henry Kissinger.

"Gus Dur kemudian mengundang mereka ke Jakarta untuk bertemu langsung dengannya. Entah kenapa, sebelum melakukan pertemuan di Istana Negara, para penasihat internasional itu menghubungi saya," tutur Laks

Ketiganya ingin bertemu dengan Laks sebelum bertemu Gus Dur. Mereka ingin Laks memberikan sekilas informasi masalah-masalah ekonomi dan politik Indonesia sebagai bekal ketika akan bertemu Gus Dur.

"Dalam hati saya berkata, 'Serius banget para penasihat Internasional Gus Dur ini?'. Tampaknya mereka ingin sekali memberikan kesan sebagai tokoh-tokoh profesional dan mampu memberikan nasihat atau advice yang profesional kepada Presiden Republik Indonesia," cerita Laks.

Laks pun merasa terhormat menerima ketiga penasihat penting ini, walaupun ia yakin kedutaan besar asal ketiganya bisa memberikan masukan yang akurat. Namun, Laks berpandangan mereka juga ingin mendengar informasi yang berbeda.

Setelah berdiskusi dan memberikan masukan. Laks mengucapkan "good luck" kepada ketiganya. Ia juga meminta ketiganya mengabari hasil pertemuan dengan Gus Dur.

Keesokan harinya, ketiga penasihat internasional itu menghubungi Laks. Mereka mengaku kesulitan memenuhi keinginan Gus Dur sebagai Presiden.

"Ketika ditanya kenapa, jawaban mereka kurang lebih sama, 'I think he is too tired. Most of the time he fall asleep'. Presiden Gus Dur rupanya sedang lelah tak kuasa menahan kantuk saat menerima mereka," kata Laks.

Setelah itu, tak ada kabar dari para penasihat internasional ini. Laks mengira Gus Dur akhirnya memutuskan tidak jadi meminta bantuan mereka.

"Gitu aja kok repot!" tulis Laks.

Kisah di atas merupakan salah satu catatan pribadi Laksamana Sukardi sejak 1990-2004 yang dibukukan dalam buku Di Balik Reformasi 1998. Buku yang diterbitkan Penerbit Buku Kompas ini diluncurkan di Menara Imperium, Jakarta, Senin (6/8/2018).

Laks mengungkapkan banyak hal ketika ia berada di bawah bayang-bayang Orde Baru hingga pascatransisi Reformasi. Ia menekankan, buku ini menjadi sebuah pesan sejarah khususnya kepada generasi muda untuk memetik berbagai pelajaran dari era Orde Baru dan Reformasi saat ini.

Laksamana Sukardi lahir pada 1 Oktober 1956. Setelah Reformasi, lulusan Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung (ITB) ini dipercaya menjadi Menteri BUMN pada tahun 1999-2004. Ia juga pernah berkiprah sebagai Bendahara Umum PDI-P dan anggota DPR pada tahun 1992-1997.

Sebelumnya, ia juga pernah berkarir sebagai Vice President Citibank pada 1981-1987 dan Managing Director Lippobank pada 1988-1993.

https://nasional.kompas.com/read/2018/08/07/06413391/3-penasihat-internasional-gus-dur-dan-kebingungan-laksamana-sukardi

Terkini Lainnya

Sidang Gugatan PDI-P Kontra KPU di PTUN Digelar Tertutup

Sidang Gugatan PDI-P Kontra KPU di PTUN Digelar Tertutup

Nasional
Hakim MK Berang KPU Tak Hadiri Sidang Sengketa Pileg, Tuding Tak Pernah Serius sejak Pilpres

Hakim MK Berang KPU Tak Hadiri Sidang Sengketa Pileg, Tuding Tak Pernah Serius sejak Pilpres

Nasional
Video Viral Keributan di Stasiun Manggarai, Diduga Suporter Sepak Bola

Video Viral Keributan di Stasiun Manggarai, Diduga Suporter Sepak Bola

Nasional
PTUN Gelar Sidang Perdana PDI-P Kontra KPU Hari Ini

PTUN Gelar Sidang Perdana PDI-P Kontra KPU Hari Ini

Nasional
Profil Andi Gani, Tokoh Buruh yang Dekat dengan Jokowi Kini Jadi Staf Khusus Kapolri

Profil Andi Gani, Tokoh Buruh yang Dekat dengan Jokowi Kini Jadi Staf Khusus Kapolri

Nasional
Timnas Lawan Irak Malam Ini, Jokowi Harap Indonesia Menang

Timnas Lawan Irak Malam Ini, Jokowi Harap Indonesia Menang

Nasional
Peringati Hardiknas, KSP: Jangan Ada Lagi Cerita Guru Terjerat Pinjol

Peringati Hardiknas, KSP: Jangan Ada Lagi Cerita Guru Terjerat Pinjol

Nasional
Kekerasan Aparat dalam Peringatan Hari Buruh, Kontras Minta Kapolri Turun Tangan

Kekerasan Aparat dalam Peringatan Hari Buruh, Kontras Minta Kapolri Turun Tangan

Nasional
Menag Sebut Jemaah RI Akan Dapat 'Smart Card' Haji dari Pemerintah Saudi

Menag Sebut Jemaah RI Akan Dapat "Smart Card" Haji dari Pemerintah Saudi

Nasional
Sengketa Pileg, PPP Klaim Ribuan Suara Pindah ke Partai Garuda di Dapil Sumut I-III

Sengketa Pileg, PPP Klaim Ribuan Suara Pindah ke Partai Garuda di Dapil Sumut I-III

Nasional
Temui KSAD, Ketua MPR Dorong Kebutuhan Alutsista TNI AD Terpenuhi Tahun Ini

Temui KSAD, Ketua MPR Dorong Kebutuhan Alutsista TNI AD Terpenuhi Tahun Ini

Nasional
Jokowi Resmikan Bendungan Tiu Suntuk di Sumbawa Barat, Total Anggaran Rp 1,4 Triliun

Jokowi Resmikan Bendungan Tiu Suntuk di Sumbawa Barat, Total Anggaran Rp 1,4 Triliun

Nasional
Meneropong Kabinet Prabowo-Gibran, Menteri 'Triumvirat' dan Keuangan Diprediksi Tak Diisi Politisi

Meneropong Kabinet Prabowo-Gibran, Menteri "Triumvirat" dan Keuangan Diprediksi Tak Diisi Politisi

Nasional
Dewas KPK Gelar Sidang Perdana Dugaan Pelanggaran Etik Nurul Ghufron Hari Ini

Dewas KPK Gelar Sidang Perdana Dugaan Pelanggaran Etik Nurul Ghufron Hari Ini

Nasional
Jokowi Resmikan 40 Kilometer Jalan Inpres Senilai Rp 211 Miliar di NTB

Jokowi Resmikan 40 Kilometer Jalan Inpres Senilai Rp 211 Miliar di NTB

Nasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke