Kisah Amelia Achmad Yani, 20 Tahun Menepi ke Desa Mengobati Luka Batin Halaman 2 - Kompas.com

Kisah Amelia Achmad Yani, 20 Tahun Menepi ke Desa Mengobati Luka Batin

Ati Kamil
Kompas.com - 10/10/2017, 11:15 WIB
Amelia Achmad Yani mengadakan upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila pada 1 Oktober 2017 pagi di Wisma Indonesia Sarajevo, Bosnia dan Herzegovina.KOMPAS.com/ATI KAMIL Amelia Achmad Yani mengadakan upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila pada 1 Oktober 2017 pagi di Wisma Indonesia Sarajevo, Bosnia dan Herzegovina.

Menulis sekaligus menjadi cara Anda mengatasi trauma yang Anda alami karena peristiwa kelam itu?

Saya menulis buku itu, bercucuran air mata saya. Sepertinya ayah saya datang, sepertinya beliau dekat sekali dengan saya, seolah-olah saya dibimbing untuk menulis.

Kan nulisnya bukan siang hari, saya nulisnya malam hari, jam tiga pagi, jam satu malam, ketika sepi, tidak ada siapa-siapa. Saya seperti ada yang mendorong untuk menulis dan jawaban itu seperti ada di situ.

Meski (ketika itu) saya belum sembuh (dari trauma), lalu saya bekerja, saya belum sembuh.
Tapi, kemudian, saya pindah ke desa, saya pindah ke sebuah dusun, dusun Bawuk namanya (Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, 1988). Enggak ada listrik.

Ibu saya menangis waktu itu. Saya mencari jawaban bagi diri saya sendiri.

Tinggal di desa itulah yang menyembuhkan saya dari semua rasa dendam, rasa amarah, rasa benci, kecewa, iri hati, dengki. Itu hilang. Di desa, itu hilang.

Lebih dari 20 tahun saya di sana. Jadi hampir seperempat abad, saya ada di desa. Ketika itu saya menyekolahkan (mulai SMA) Dimas (anak tunggal) ke Australia.

Saya sendiri di desa. Bangun pagi, jam enam saya sudah di sawah. Saya punya sawah, saya punya kolam ikan gurame, punya pohon buah-buahan, mangga, saya punya pepaya, pisang.

Semua, semua saya punya, punya ayam, saya jualan telur ayam, tapi rugi terus, enggak pernah untung, enggak tahu kenapa. Itulah belajar.

Saya banyak bergaul dengan petani. Saya ke Bukit Menoreh. Kalau orang ingat (buku seri) Api di Bukit Menoreh, saya sudah sampai di ujungnya, di Puncak Suryoloyo itu.

Waktu malam 1 Suro, mereka semua (warga) ke puncak gunung. Dan, saya sudah di sana, saya sudah ke mana-mana.

Dan setelah tinggal di desa 20 tahun lebih sedikit, anak saya manggil. Katanya, enggak cocok di situ. Jadi, saya meninggalkan dusun, balik lagi ke kota, Jakarta. Di situ mulai satu jalan yang lain lagi.

Partai politik (parpol), semua mulai masuk. Mau jadi bupati (Purworejo, Jawa Tengah), ndak berhasil. Sudah menang, tapi dikalahkan dengan drastis. Uang habis.

Pokoknya, mengalami semuanya, yang membuat saya menjadi matang, mungkin.

Lalu, menulis lagi, menulis lagi. Ketika saya sendirian, saya menulis lagi, saya menulis lagi.

Sekarang Anda sudah sembuh dari trauma. Menurut Anda, para keturunan dari "pihak yang berseberangan" juga mengalami trauma?

Keluarga saya delapan bersaudara. Adik saya, Mas Untung, Mas Edi, mungkin belum bisa menerima (Achmad Yani menjadi korban gugur dalam peristiwa G30S PKI).

Saya terbawa situasi di mana tiba-tiba ada teman-teman datang ngajakin saya ketemu anak (Brigadir Jenderal) Soepardjo (Wakil Ketua Dewan Revolusi Indonesia), anak (DN) Aidit, anak (Marsekal Madya) Omar Dhani, yang dalam Gerakan 30 September ada di seberang sana. Kami di sebelah sini.

In a way, dalam hal tertentu, saya diuntungkan. Kan saya anak pahlawan revolusi.

(Di lain pihak) mereka mengatakan, "Kami (anak dari orangtua yang anggota PKI) anak pengkhianat, (selalu disebut), 'Kamu PKI, kamu PKI'."

Mereka menceritakan kepada saya bagaimana sulitnya menjadi anak yang orangtuanya pengkhianat. Di situ saya mulai bisa mengerti, karena mereka (anak pelaku) bukan pelaku.

Lalu saya pergi ke Pulau Buru (Maluku), saya melihat seberapa kehidupan di sana. Pulau Buru sudah menjadi lumbung padi di Maluku, kan orang Jawa banyak dipindah ke sana.

Di Pulau Buru sebenarnya dulu memang sulit. Siapa sih yang enggak sulit? Semua mengalami kesulitan. Bayangkan, inflasi sampai 600 persen. Kita miskin dan miskin. Tapi, kita miskin lagi kemudian, tahun 1998.

Jadi, saya ingin bangsa ini belajar dari semua kejadian yang pernah kita alami. Kalau mereka (generasi sesudah itu) tidak mengalami, kita tulis, supaya mereka tahu dalam sejarah. Di situ saya mulai mengenal mereka.

Memang, sebetulnya, kalau bertemu (dengan para keturunan dari pihak yang berseberangan), ketawa-ketawa ya. Tapi, kalau (ada dari) mereka bilang, 'Lubang Buaya itu enggak ada, sejarah itu bohong semua', itu kami marah. Jadi, kapan kita mau damai?

Tapi, kalau yang di Pulau Buru, (mula-mula) mereka takut melihat saya. Saya datang, (mereka) takut. Orangtua mereka juga melihat.

Tapi, ketika saya bilang, "Saya datang ke sini kan saya juga anak korban," langsung mereka keluar (rumah) semua, (suguhan minuman) teh keluar, tadinya mereka enggak mau keluar.

Terus, saya lihat, anak-anak itu tidak berbuat apa-apa. Ada Karang Taruna, enggak punya apa-apa. Lalu, saya belikan organ (keyboard) dan mereka mulai ngamen (main musik dan menyanyi), punya uang, terus cerita sama saya.

Itu membuat saya senang. Itu yang harus dibuat secara nasional, bahwa rekonsiliasi bisa terwujud antarmanusia, antarindividu.

Kami siap (untuk) rekonsiliasi, tapi tidak dengan campur tangan pemerintah. Kalau ada campur tangan pemeritah, malah ora dadi (tak jadi).

Amelia Achmad Yani pada 30 Oktober 2017 pagi menjalani kegiatannya di Wisma Indonesia Sarajevo, tempat tinggalnya sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Bosnia dan Herzegovina.KOMPAS.com/ATI KAMIL Amelia Achmad Yani pada 30 Oktober 2017 pagi menjalani kegiatannya di Wisma Indonesia Sarajevo, tempat tinggalnya sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Bosnia dan Herzegovina.

Saya bisa menerima itu. Entah orang lain berpendapat seperti apa. Kalau saya, bisa.

Mereka mengalami lebih parah. Jadi, waktu kami (Amelia dengan salah seorang anak tokoh Dewan Revolusi Indonesia) bertemu untuk pertama kali, lain ya sorot matanya. Terus dia bilang, "Saya kepingin ketemu sama Mbak Amelia," saya dengerin ceritanya.

Saya pikir, kasihan juga. Tapi, saya mengalami (sebagai anak yang ayahnya menjadi korban). Tapi, bapak kamu (tokoh Dewan Revolusi Indonesia itu) yang melakukan. Itulah yang terjadi.

Dan, dia menangis, bisa bercerita kepada saya. Waktu ayahnya tertangkap, dua jam sebelum ditembak mati, boleh ketemu keluarganya.

Terus, dikubur di sebuah tempat, di hutan, hanya dikasih kotak semen (makamnya disemen berbentuk segi empat) dan tanpa nama. Jadi, anak-anaknya terus mencari, kira-kira di sebelah mana (makam ayah mereka). Apa pun, darah itu kan darah orangtuanya ya.

Di situ saya merasa bahwa sebagai anak pahlawan, orang di mana pun, parpol, menyambut saya seperti kedatangan Pak Yani gitu. (Padahal) Saya cuma anaknya. Tapi, seperti itulah keadaan kita.

Dari pihak mereka mengatakan, tidak perlu ada intervensi. "Biarkan kami menyelesaikan sendiri." Kan mereka sudah tua semua.

Kecuali kalau ada yang bapaknya merasa tidak berbuat, nah terus cerita sama anaknya, dan cerita lagi, "Bapakmu disakiti, bapakmu dipenjara sekian tahun," kan mereka jadi dendam.

Page:
Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorAmir Sodikin
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM